ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 146
selasa 041207

cerpen Innerbeauty of The Night
Ronny P. Sasmita

Meskipun tak bisa kubahasakan apa sebenarnya yang selalu terlukis dilangit, tapi jujur harus kuakui ada ketenangan, keindahan, bahkan pencerahan yang menjubahiku saat bertatapan dengan mata-mata indah di langit.

Bulan dan bintang-bintang tanpa bosan mengintip dan menyaksikan segala rupa laku yang tampak dibumi ini, tapi tetap setia dan tau diri  bahwa menjadi pengintip dan mata-mata tetaplah sebagai penonton yang baik yang tidak ingin diketahui oleh pihak yang diintip. Maka aku pun memutuskan menjadi penikmat yang baik atas wajah-wajah lugu langit ini. Kutunggui sampai mereka pun malu menatap bumi lagi karena tersadar bahwa salah satu dari yang diintip sudah mulai melakukan intipan balik.

Ya, semua itu adalah keindahan yang sebenarnya ternilai tanpa melalui verifikasi metodologisku. Pencerahan yang kurasakan pun praktis tanpa evaluasi naluri intelektualku. Mestinya hal semacam ini ku anggap aneh, anomali, atau tidak wajar layaknya menerima kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang tidak dilandasi oleh tinjauan teoritik terlebih dahulu.

Tapi toh terbukti, tak ada pemberontakan dari tubuh intelektual atau naluri metodologisku, seolah semua kuterima secara taken for granted saja, lalu diakhiri dengan kaata 'amin' yang meloncat seperti sebuah permohonan  dari mulutku. Ya, sebuah kata “amin” yang kuperuntukan sebagai tanda  keterbukaan hati dan kepalaku dalam menerima kenyataan langit yang sedang kupelajari.  

Cuma apakah itu perlu dipertanyakan, bukankah rasionalitas yang selama ini kita banggakan adalah barang haram yang terlahir melalui bokong irrasionalitas mutlak serta dikemas dengan plastik putih bermotif 'kebetulan-kebetulan.' Bahkan, jika kita perhatikan secara seksama, kebetulan-kebetulanlah yang membuat segala sesuatu tampak berdiri teratur dan selanjutnya tertangkap oleh mata-otak yang baru kenal keajegkan, kemudian rasionalitas dianggap sebagai sebuah kesimpulan akhirnya.

Lalu setelah itu, kita  dengan bangga dan sedikit sombong membalik total semuanya sehingga rasionalitas dijadikan landasan untuk mempreteli kebetulan-kebetulan tadi serta irrasionalitas dijadikan bahan ejekan yang membentuk kumpulan mitology orang-orang bodoh, siklus seperti yang kita puja.

Namun, apa segampang itu dunia ini mesti dipahami? Aku rasa tentu saja tidak demikian. Banyak nyawa dan buah kepala yang telah menjadi korban hanya untuk memahami apa sebenarnya yang benar dan bagaimana semestinya membenarkan sesuatu yang telah terbukti benar menurut manusia lalu ditolak mentah-mentah oleh yang adimanusia. Hasilnya, ada yang mencoba membunuh-Nya, mencampakan kata-kata tuhan yang melekat erat disanubarinya ke tong sampah, demi ambisi monopoli kebenaran semata dan ada juga yang cuma bertekuk lutut kalah   seperti tidak pernah ada kata kepercayaan penuh yang bernama “khalifah”  di kamus dunia.

Dua kubu ini sudah cukup untuk membuat semua manusia saling membunuh bukan? Lalu sebelum semuanya berakhir, ada seorang anak remaja berbicara sendiri sebelum moncong senapan laras panjang meluncurkan timah panas kebagian otak kanannya. Katanya, “ akhirnya, tuhan tak perlu ikut campur dalam urusan kiamat, manusia-manusia cukuplah saling membunuh demi membuktikan kuasa antroposentrisme yang mereka pahami secara sendiri-sendiri, tapi  hasilnya adalah kiamat juga. Manusia melampaui tuhan untuk membuktikan bahwa mereka tak mampu mengalahkan-Nya, sungguh tragis!”

Kalimat remaja ini ditutup dengan bunyi hentakan moncong senapan laras panjang dan sebuah teriakan  keracunan yang meloncat dari mulut pihak yang  menekan pelatuk senapan itu. Lalu semuanya berhenti ditengah malam buta, pujian-pujian atau kalimat-kalimat kekaguman  menyerang dari segala arah, tapi tak satupun mulut yang terlihat sedang mengeluarkannya.

Terbukti, tidak ada perpecahan antara rasionalitas, irasionalitas, magis, mitologi, sakral, dan profan  disini, semuanya sama dan datar saja. Bukankah istilah yang demikian itu ciptaan manusia, maka biarkan manusia mati atas nama-nama itu, bukan atas nama tuhan. Lalu aku terpaku tak peduli. Persisnya, aku pun hanyut kembali. Kegelapan malam yang menyelimuti langit, jelas-jelas tidak menyiratkan sebuah lukisan indah secara nyata dan visual.

Kusangat bisa merasakan, semua sel yang membungkus tubuh ini bergetar dahsyat secara bathiniah dan meneriakan bahasa-bahasa takluk yang tak kupahami jenis penyebutanya.“Sungguh mengagumkan!”Setaip malam yang kuhabiskan, dengan rasional dan sadar, tak pernah kusesali, walaupun tak jarang aku kehilangan kesempatan untuk berakus-rakus ria demi melahap rejeki disiang harinya.

Kekuatan tak terlihat yang terkandung dalam malam hari mulai menggugahku, lalu mulai mengajariku untuk sedikitpun tidak takut menjadi miskin, dan juga   mengajariku  untuk tidak serakah dalam mengangkangi siang. Malam juga mengajariku untuk tidak memaksakan diri menjadi pemenang jika memang telah ditakdirkan untuk menjadi kalah, kemudian mengajariku pula bagaimana untuk menikmati keindahan dalam segala kerendahan.

Aku benar-benar dibuat malu atas diriku yang dulu-dulu, namun tanpa sedikitpun paksaan yang kuterima ketika harus jujur mengakui semua itu. Akhirnya mesti kuakui juga, malam adalah teman sejati yang serba mengerti jeritan hati yang terlupakan oleh sibuknya hari-hari. Ketenangan dengan nyata dihadirkan sang malam. Bahkan jika ku pikir-pikir, malam selalu berusaha mengurangi segala bentuk produksi ketidakadilan duniawi.

Malam sudah tak terhitung frekuensinya menidurkan diktator, koruptor, provokator, penipu, pencoleng nama rakyat, penjual ayat-ayat, atawa pengobral nama tuhan, dan seterusnya, dan seterusnya. Itulah malam! Dia sering diidentikan dengan kegelapan, tapi tentu bukan gelapnya yang menjadi substansi penekanan. Karena kegelapan hanya sebagai pembalut keberhargaan yang tak terbayangkan. Meskipun demikian, tak sedikit  yang menyalahgunakan gelapnya malam untuk sesuatu yang berbau “gelap” pula.
***bersambung

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

esei
Dari Mana Datangnya Sastra
M Arpan Rahman

sajak
jika sepi itu
Ken Fitria

sajak
Saat Ingin Kau Ada
Dewi Penyair

ceritanet©listonpsiregar2000