ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 145
senin 191107

cerpen Innerbeauty of The Night
Ronny P. Sasmita

Belakangan ini, aku merasa semakin akrab dengan malam hari. Nyaris kulahap waktu paska kerjaku untuk berputar-putar Bandung sampai pagi nyaris tak permisi untuk datang. Ditempat-tempat tertentu, yang kupilih secara acak, aku berhenti cukup lama sembari menengadah ke langit yang terkadang vulgar mempertontonkan jajaran bintang beserta planet, namun terkadang pula terkesan malu, seperti seorang gadis desa yang ketahuan membuka sedikit paha bagian atasnya.

Motor kreditan, yang sudah hampir setahun menemaniku dengan setia --walau menguras gajiku yang sekulimit untuk membayar tagihan bulanan-- hanya terdiam patuh saat ku kelok-kelokan kearah yang kumau.

Sejak kusadari bahwa malam pantas mendapatkan perhatian tersendiri, sejak itu pula aku bermalas-malas untuk pulang kerumah jam 5 sore, saat semua karyawan perusahaan bursa berjangka tempat ku menguji peruntungan rejeki dinyatakan pulang sesuai ketentuan kantor. Aku lebih memilih membuat kopi sendiri, karena office boy sudah pada lenyap, lalu mengepulkan asap rokok ke udara, dan kemudian duduk santai di ruang tamu kantor.

Ruang tamu kantor terletak ditengah bangunan yang berbentuk huruf O. Halaman kosong di tengah dijadikan parkir mobil dan motor karyawan. Nah ruang tamu tempatku bersantai bukan didalam gedung, namun di teras bagian dalam, menghadap ke parkiran tengah. Lalu ada sebatang pohon yang lumayan besar didekatnya. Pohon itu tapi tak terlihat aneh , malah menambah sejuk dan asri pandangan mata. Pihak kantor memang memoles bagian ruang tamu tengah ini seartistik mungkin.

Kursi tamu yang dipajang terbuat dari anyaman rotan, dan pas di lingkaran tempat bokong dihenyakan diberi semacam busa halus dengan bungkusan kain cantik bermotif donald bebek. Tubuh kursi bongsor dan gemuk sehingga nyaman diduduki. Lalu kolam ikan hias diposisikan disamping kanan dan di dindingnya TV flat yang besar menggelantung.

Aku terhenyak dibangku bongsor itu, tak kupedulikan banyak pialang bursa berjangka keluar ruangan dengan berpakaian serba necis, berdasi,  memegang ponsel keluaran terbaru  yang hampir menggagahi kehebatan komputer, atau menenteng notebook seharga motorku. Kusaksikan aksi mereka sambil kunikmati aksikui. Ditengah hingarnya suasana pulang kantor itu, teman satu divisiku datang sembari kerepotan melepas dasi yang mencekek lehernya.

"Hei raff, kok belum cau juga. Ngapain... malah pakai acara ngopi plus merokok segala”, suaranya agak serak, mungkin kelamaan dibalut dasi, barangkali.
“Ah, soal pulang mah gampang. Rumah tak akan lari kemana-mana”, kutimpali sekenanya ocehan orang tercekek itu.

Dia mendekati kursi tamu gerbrot tempatku meletakan pantat, lalu tanpa malu menyerobot bungkus rokok mild ku yang tergeletak pasrah diatas meja, korek api terdengar bergesekan dan api kecil menyala menyambar ujung terluar rokok itu. Praktis, asap mengepul  keatas nyaris menutupi wajahnya.

“Lha, bukankah kau tadi mengomentari aku  mengapa mesti  pakai acara ngerokok segala diwaktu begini”
“Sekarang malah kau hantam juga itu rokok”
“Karena melihatmu merokok, jadi aku ngiler juga”
“Waduh, sejak kapan rokok berubah menjadi makanan lezat atawa gadis seksi bertubuh bugil, sampai-sampai pakai acara ngiler segala”
“Sudahlah, jangan pakai acara cerewet segala dong”
“Ikhlas ga, kalau ga ikhlas ku kembalikan rokoknya.”

Masa rokok mau dikembalikan dalam keadaan yang sudah terbakar. Persoalannya bukan ikhlas atau tidak, aku bilang, tapi mengapa kau ikut-ikutan merokok setelah kau komentari perilaku merokokku saat-saat orang pada lalu lalang menuju rumah. Lalu dia tak mau kalah dan mengatakan, zaman sekarang ini, kalau tidak dimulai dengan komentar-mengomentari dulu, ya ga asyik, begitu katanya sombong.

Ya suka-suka kau lah, kataku pendek. Akhirnya, kami tertawa lepas bersama di ruang tamu itu, sampai lantunan adzan magrib memaksa mulut kami untuk diam. Ssuara adzan terdengar pelan, bersaing dengan desingan kendaraan di Jalan IR. H. Juanda, beberapa meter dari pagar depan kantor.

“Ya, malam yang kurindukan telah datang”, ucapku pelan
“Apa kau bilang, ga kedengaran”, Sandy ternyata mendengar mulutku bergumam, karena sedari adzan berbunyi kami sudah saling diam, praktis bisikan ku menelusup ke telinga terdalamnya.
“Dasar, makhuk berkuping. Aku ngomong sendiri tau” hardikku.
“Ya sudah, kalau sudah memutuskan jadi orang gila, ya terserah,” komentarnya.

Sandy berdiri,  mengambil tas dan menyandangkannya ke bagian punggung.

“Kayaknya sudah terlalu sore. Aku mesti pulang, man,” pamitnya.
“Oke deh, hati-hati, jangan suka ngebut ya, soalnya Suster Fanny sudah bosan melihatmu”, aku tertawa kecil.
“Iya deh, kau juga hati-hati ya, jangan lupa minum obat sebentar lagi. Kan sudah malam, nanti penyakit gila mu kambuh, lalu ngomong sendiri lagi”, timpalnya penuh kemenangan
“Kampring! Suka-suka kau lah.”

Sandy pun berlalu  bersama sebatang lagi rokok mildku. Gelap sudah mulai menyelimuti bumi bagian Bandung. Manusia berusaha menangkalnya, maka hasilnya adalah gemerlapan berbagai rupa lampu pijar  dimana-mana. Kopiku masih tersisa sekira satu teguk lagi, dan kupindahkan tegukan terkhir ke lambungku. Tak disangka, tegukan terakhir itu disertai sendawa yang lumayan keras. Walah, kayak meneguk chivac saja, pakai acara sendawa segala, pikirku geli, tapi dengan lancar mulutku berucap “Alhamdulillah.”

Sepertinya malam ini harus ku sambut kembali dengan bahagia, penuh pengharapan dan pembelajaran. Oleh karenanya, sofa yang terbuat dari anyaman rotan itu kutinggal, ampas kopi yang tersisa dalam gelas tentu ikut berlalu, tapi beberapa batang rokok mild yang tersisa tetap kukantongi.

Aku pun berdiri, tas segera melompat menuju punggungku, tanganku merogoh saku dan seketika sebuah kunci motor muncul seperti berucap “cilukkkba." Aku berjalan ke parkiran motor, tidak jauh dari markas para satpam. Seorang satpam yang baru terangkat sebagai karyawan tetap perusahaan  menyapaku, namanya Supri dan tertulis jelas di dada bagian kanan seragamnya. Dia datang tiba-tiba dari belakang sambil mengepulkan asap kretek keatas, seperti bekerja keras membuat huruf O, tapi hembusan angin Dago tidak akan pernah mengizinkan itu terjadi.

“Pulang Kang Raffy,” sapanya hormat.
“Ah ga juga, rencananya mau jalan-jalan saja.”
“Apa ndak sebaiknya magrib dulu....”
“Walah busseeet! Aku lupa pak, untung bapak ingatkan,” aku terkaget; bukankah selama bercandaria dengan Sandy tadi  kami telah disapa oleh adzan magrib, bahkan kami sempat pakai acara diam-diam segala sampai para muadzin selesai melantunkan nyanyian “kontrak antara hamba-khalik” itu selesai.

“Makasih Pak Supri”, ucapku sembari berlari meninggalkan motor menuju mushola kecil yang diapit oleh kantin dan toilet didekat training centre. Posisi mushola di kantorku memang terlihat sedikit aneh karena seperti terletak disejengkal bidang antara perut dan kelamin atau seperti kantin dan toilet.

Aku langsung saja menuju tempat berwudhu yang kosong, kran ku putar, air mencurah persis seperti kencing orang dewasa, bunyinya bergemericik. Wah segar, ucapku puas setelah membasahi wajah. Jam tangan kulirik, ternyata waktu magrib cuma tersisa sekira lima belas menit lagi. Acara wudhu kusudahi, berpindah ke ruang mushola. Bacaan awal para muadzin tadi ku ucapkan sedikit berteriak, setelah doa dan niat tentunya. Akupun pindah konsentrasi, selamat tinggal dulu untuk dunia selama beberapa menit.

Sepuluh menit sudah berlalu dalam mushola, akupun berucap “selamat datang kembali dunia” dan melangkah keluar, sepatu, kaos kaki, dan tas kembali pada posisi semula. Kemudian aku kembali melangkah menuju parkiran motor, Pak Supri tampak lagi.

“Bagaimana Kang, seger bin nikmat kan habis sholad,” katanya tersenyum lepas, dengan dengan logat Sunda yang nyaris tak ketulungan lagi
“Betul Pak, makasih banyak ya pak.”
“Lho, kok terima kasihnya ke saya si akang teh.”
“Iya, makasih telah saling mengingatkan, begitu,” aku menambahkan
“Oo..begitu, sami-sami juga kang.” Pak Supri menutup dialog senja itu sembari menuju posnya.

Aku menduduki motorku, kuncinya ku rogoh dari saku celana, lalu  ku celupkan ke lobang kunci diikuti jempol kanan yang menekan starter. Alhasil, mulut knalpot motorku memekik, tapi terdengar lembut, maklum, kesan baru masih tampak pada motor kesayangan ini, apalagi perawatanya sangat ku perhatikan pula.

Seketika saja, aku sudah berada didepan pintu gerbang kantor. Magrib-magrib Bandung sedang mabuk macet; aku sempat menunggu beberapa menit sebelum bisa menyemplungkan motorku ke Jalan Ir.H. Juanda, yang lebih dikenal sebagai Jalan Dago. Baru beberapa meter bergerak ke kiri, lampu merah sudah menghadang. Rem motor kuinjak seperlunya, mobil, angkot, atawa motor yang sedang lewat harus patuh pula pada simbol kekuasaan negara ini, persis seperti yang kulakukan. Lampu merah berganti hijau, aku tancap  gas; berbelok ke arah kiri lagi menyusuri kolong jalan layang.

Malam terus berjalan, aku terus berputar-putar saja sembari menyaksikan kemenangan manusia atas kinerjanya hari ini. Mereka merayakan dalam makan besar di restoran raksasa, atau sekedar menyicipi makanan kelas pinggiran di tepi-tepi jalan raya. Ppelampiasan yang banyak pilihan, pikirku pendek. Inilah Bandung tempo kini.

Selepas bergumam puas, aku serahkan lagi jiwaku ke motorku, dan merasa hilang seperti sedang ditelan gelap dan sepinya malam. Aku terbang, terasa ada sayap-sayap yang melayangkan motorku di udara. Tak ada yang menyaksikan, tapi apa peduliku!

Aku terus menikmati kehilanganku, terus, terus, dan terus.
***** bersambung

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

komentar Mewariskan Sastra Tutur Anton Bae bin Yazid Amri

memoar
GPS di Taksi Kuning
Maya Maniez

sajak
Buruh Tani Melarikan Diri
Jajang R.. Kawentar

ceritanet©listonpsiregar2000