ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 144
kamis 200907

cerpen Sriwijaya
T. Wijaya

Konsensus Pertama
Tahun 499 Masehi. Garis katulistiwa membekas di langit. Musim penghujan. Beberapa orang sakti yang merupakan utusan dari suku Rui yang berada di dekat gunung Dempo, suku Kun dari pesisir Timur Sumatra, dan suku Nang dari pesisir Barat Sumatra, berkumpul di bukit Siguntang, yang dikelilingi rawa-rawa namun kaya dengan sumber makanan seperti burung, ikan, kijang, babi, tumbuhan, serta aman dari berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, seperti yang sering terjadi di pesisir Barat Sumatra, pesisir Timur Sumatra, dan sekitar gunung Dempo.

Suku Rui dikenal suku yang sangat pandai berkelahi. Mereka gagah berani dan jujur. Sedangkan suku Kun dikenal sangat pandai mengatur sesuatu. Mereka sangat patuh dengan sistem, dan mereka mampu menjalankan suatu aturan nyaris sempurna. Sementara suku Nang terkenal cerdas, ahli strategi, dan ulet.

"Saya sepakat kita membentuk sebuah kerajaan. Tapi, kerajaan kita nanti harus memiliki hubungan dengan Tiongkok dan India. Sebab mereka merupakan kekuatan yang sulit kita taklukan,” kata Damputah Hyang, perwakilan dari suku Rui.

Damputah Hyang merupakan lelaki yang tingginya 2,5 meter. Berambut putih yang ikal. Bermata sipit dan berhidung mancung. Kulitnya kuning dan tipis. Dia memiliki kesaktian, seperti mampu terbang sejauh 200 meter, dan pekikkannya mampu membunuh seseorang.

"Saya juga sepakat. Tapi, kita harus bersumpah, agar di antara kita jangan saling mengkhianati,” kata Tuk Zal dari suku Nang. Tuk Zal orangnya cerdas. Mampu menghitung jumlah burung yang lewat dengan sekali lihat. Bahkan, dia mampu menghitung jumlah bintang di langit.

“Saya setuju. Tapi, selanjutnya kita harus menyusun suatu aturan,” kata Bhumi dari suku Kun. Sementara Bhumi orang yang sangat tertib. Dia mampu tidur selama sepekan dalam posisi tubuh yang sama. Bahkan, dia mampu mengatur tugas buat setiap warga suku Kun.

Tak lama kemudian mereka bersumpah di bukit Siguntang.

Mereka akan saling menghormati dan menjaga kerajaan dan raja yang terpilih selama kerajaan dan raja melindungi dan memberi makan terhadap rakyat. Tapi, bila kerajaan dan raja menindas dan menghina rakyat, mereka akan melawan.

Setelah sumpah itu, terpilihlah Damputah Hyang sebagai raja yang pertama Sriwijaya. Mereka memilih nama Sriwijaya lantaran nama itu berarti “Raja yang Menang”. Maksudnya, setiap raja yang memimpin Sriwijaya selalu meraih kemenangan atau kejayaan. Dengan begitu kerajaan pun menjadi besar.

Sebenarnya ada beberapa nama, selain Sriwijaya. Misalnya Sukmawijaya, Gentar, Bumijaya. Tapi nama-nama itu kalah suara saat dilakukan pemungutan suara.

Sebagai pusat pemerintahan dipilih kawasan yang tak jauh dari bukit Siguntang. Alasannya, selain sebagai daerah yang paling aman dari bencana alam, kaya dengan sumber makanan, juga merupakan titik tengah atau pertemuan yang ideal dari pemukiman suku Kun, Rui, dan Nang. Di sisi lain, akses ke perairan Timur yang telah dikuasai kerajaan Fukian, Kamboja, Tiongkok, juga lebih cepat. Pusat kerajaan ini mereka sebut Palembang.

Seusai pembentukan kerajaan Sriwijaya, Raja Damputah Hyang mengutus kurir ke Tiongkok untuk membangun hubungan ekonomi dan politik. Kerajaan Tiongkok sepakat. Tapi, mereka meminta Sriwijaya harus menganut ideologi Budha. Sebab, mereka melihat ada ancaman dari Barat yang menyebarkan ideologi Nasrani. Bila sepakat dengan Budha, mereka akan mendukung semua langkah yang diambil Sriwijaya. Sementara utusan yang berangkat ke India, juga mendapat persyaratan yang sama. Singkat cerita, sebagai bukti Sriwijaya sepakat dengan Budha, mereka mendirikan sebuah perguruan tinggi Budha, yakni Syakjakirti.           

Guna mengembangkan wilayah, dan mendapatkan pemasukan bagi kerajaan, dibentuklah armada laut. Tugasnya yakni merompak setiap kapal milik kerajaan lain. Langkah perompakan ini cukup efektif, sebab selain mendatangkan kekayaan bagi kerajaan, juga kerajaan lain akan melemah dengan hilang kekuatan ekonominya. Selanjutnya kerajaan itu dengan gampang ditaklukan.

Hanya hitungan tahun, kerajaan Sriwijaya menjadi besar dan kuat. Selain dilindungi Tiongkok dan India, mereka sangat beringas di lautan.

Tidak itu saja, sejumlah kerajaan di Nusantara juga takluk dengan Sriwijaya, termasuk kerajaan di Jawa yang berideologi Hindu.

Sejalan dengan berkembangnya Sriwijaya, Palembang menjadi daerah metropolis. Berbagai suku bangsa di Nusantara dan dunia berkumpul di Palembang.            

Konflik mulai muncul, ketika suksesi pemilihan raja Sriwijaya ke-666. Seorang calon dari tanah Jawa yakni Balaputra Dewa mengalahkan Tuk Kum dari suku Nang. Persoalannya, terpilihnya Balaputra Dewa seperti mengkhianati tradisi raja-raja Sriwijaya, yang sebelumnya berasal suku Nang, Rui atau Kun. Tuk Kum menuduh bahwa dirinya tidak terpilih lantaran dikhianati oleh utusan dari suku Rui dan Kun.

Sejak itu, suku Nang menarik diri dari kerajaan Sriwijaya. Mereka mengembangkan sendiri kekuatan di wilayah tengah hingga ke Timur Sumatra, dan sepanjang pesisir Barat Sumatra.           

Balaputra Dewa menerimanya. Dia membiarkan suku Nang mengembangkan sendiri kekuatannya. Sebagai tanda perjanjian, Balaputra menikahi seorang putri dari suku Nang.

Ternyata Balaputra Dewa dan keturunannya mengkhianati apa yang telah diikrarkan suku Rui, Nang, dan Kun di bukit Siguntang. Raja-raja Sriwijaya yang dipilih selanjutnya bukan berdasarkan konsensus atau rapat yang dilakukan perwakilan dari suku Rui dan Kun—minus suku Nang. Raja yang terpilih semuanya merupakan keturunan dari Balaputra Dewa.            

Suku Rui dan Kun secara diam-diam menarik dukungan terhadap Sriwijaya. Akibatnya, ketika kekuatan Islam menyusup pada masyarakat Palembang, kerajaan Sriwijaya sulit membendungnya. Orang-orang di Palembang lamban laun tidak patuh lagi dengan aturan raja.Puncaknya Siwijaya tak kuasa menahan gempuran dari India dan Jawa.

Merasa telah dikhianati oleh kerajaan dan raja, sekelompok pendengkar dari suku Rui dan Kun meninggalkan Palembang di bawah pimpinan Parameswarah.

“Kita akan kembali ke tanah ini dengan kekuatan yang besar. Mereka tidak akan selamat selama berada di tanah ini, sebab mereka telah mengkhianati sumpah!” kata Parameswarah.

Konsensus Kedua
Tahun 1500. Tepatnya tidak sampai seratus tahun, keturunan Parameswarah kembali ke Palembang. Mereka menguasai Palembang setelah mendapat dukungan dari Tiongkok, ditandai kedatangan panglima Cheng Ho, serta sebagian bangsawan Jawa yang muslim. Mereka mencoba membangun kembali kerajaan Sriwijaya di Palembang. Tapi ideologinya bukan lagi Budha, melainkan Islam.

Sayang kekuatan itu kembali hancur, sebelum nama Sriwijaya dideklarasikan kembali. Awalnya lantaran perpecahan antar petinggi kerajaan, lalu kaum Barat memanfaatkan konflik itu sehingga hancurlah kerajaan tersebut.

Konsensus Ketiga
Tahun 2004. Keturunan suku Nang, Kun, dan Rui, mencoba kembali membangun Sriwijaya. Sayang, bencana alam seperti gempa bumi, memecah kosentrasi mereka. Awalnya, mereka membuka kembali fakta-fakta yang selama seratus tahun lebih dikubur di dalam tanah, sebagai harta karun yang diburu pendengkar-pendengkar dari Jawa.

Selain itu Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menolak usulan mereka. Menurut SBY, begitu biasa Susilo Bambang Yudhoyono disebut, pembentukan kembali kerajaan Sriwijaya jelas bertentangan dengan semangat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dapat dikatakan sebagai “negara dalam negara”.

“Kalau nama Indonesia diganti Sriwijaya, apa juga ditolak?” tanya Bachtiar Syahri Wijaya, seorang anggota Konsorsium Persiapan Kerajaan Sriwijaya, saat berjumpa dengan SBY di Istana Presiden Indonesia di Jakarta.

“Tentu saja. Indonesia ini merupakan kesepakatan seluruh rakyat di Nusantara. Kalau menggunakan Sriwijaya sama saja mengkhianati semangat pembentukan negara bangsa ini. Pokoknya saya tidak setuju dengan pembentukan kembali kerajaan Sriwijaya, mengubah nama Indonesia menjadi Sriwijaya. Kalau hanya untuk membangkitkan kembali sebagai aset wisata, saya setuju. Mengapa sih kalian punya gagasan yang aneh ini?”

“Maaf, Pak. Bukan kami antiIndonesia, tapi coba kita rasakan sebagai rakyat Indonesia. Umurnya baru 62 tahun, tapi hidup ini seperti susah terus. Mungkin, kalau kita kembali membangun kerajaan Sriwijaya atau mengubah nama Indonesia menjadi Sriwijaya, kita akan mengalami kejayaan selama berabad-abad seperti kerajaan Sriwijaya di masa lalu.”           

SBY berpikir sejenak. Dahinya berkerut. “Tidak bisa. Tetap tidak bisa. Ini bertentangan dengan sumpah saya sebagai presiden. Dan, ini bertentangan dengan UUD 1945. Dan, bila kalian terus mengusahakan pembentukan kerajaan Sriwijaya, saya akan menangkap dan menahan kalian,” ujar SBY.

Meskipun ditentang banyak pihak soal rencana pembentukan kembali kerajaan Sriwijaya, mereka terus saja mendiskusikan bagaimana caranya melahirkan kembali kerajaan Sriwijaya. Mereka berdiskusi di perpustakaan, toko buku, seminar, dan di rumah ibadah. Tetapi, sayangnya, sejumlah warga dari suku Rui, Nang, dan Kun, tidak sabaran. Mereka buru-buru membentuk kota baru, kabupaten baru, atau provinsi baru.

“Ini satu-satunya peluang membebaskan diri dari penderitaan ini. Sebab gerakan ini dijamin hukum dan perundangan-undangan,” kata Waisun Bara, yang berencana membentuk Provinsi Pasemah yang mayoritas penduduknya dari suku Rui dan Nang.

Waisun tetap dengan pendiriannya meskipun dia membaca sebuah naskah yang mengutip pernyataan Damputah Hyang sebelum meninggal dunia dalam usia 251 tahun. “Kalau mereka terus memikirkan cara memisahkan diri, saya percaya gunung Dempo akan meletus, laharnya menimbun seribu dusun, tsunami akan menghantam perkampungan di tepi pantai, gempa bumi meluluhlantakan makam-makam. Sriwijaya tidak mungkin lahir kembali.”

Meskipun banyak anggota Konsorsium Persiapan Kerajaan Sriwijaya yang memilih membentuk kota, kabupaten, dan provinsi baru, perjuangan pembentukan kerajaan Sriwijaya terus dijalankan. Sebagai langkah awal, para aktifis Konsorsium Persiapan Kerajaan Sriwijaya membangun kerajaan Sriwijaya di sebuah rumah tak jauh dari Istana Gubernur Sumatra Selatan di Jalan Demang Lebar Daun Palembang.            

Bila Anda iseng lewat di Jalan Demang Lebar Daun Palembang, coba tutup telinga Anda, maka akan terdengar sebuah sajak milik para raja Sriwijaya yang dibacakan mereka. Sajaknya seperti ini: Dum, dum, dam, dam, dem, dem, dom, dom, dim, dim, dug, dog, dag, deg, dig, dus, dos, das, des, dis, duk, dak, dok, dek, dik, dup, dap, dop, dep, dip, dul, dal, del, dol, dil, duz, daz, doz, dez, diz. [Sebuah sajak yang dibacakan setiap Raja Sriwijaya sebelum menggelar sumpah di Bukit Siguntang. Lalu sajak ini menjadi pemenang dalam sebuah lomba penulisan puisi yang digelar sebuah sanggar seni yang merupakan underbow sebuah partai politik].

Saat ini, Raja Sriwijaya itu adalah Anda. Tidak percaya? Bacalah sajak tersebut sebanyak 127 kali setiap malam dalam 10 tahun.***
Lebak Kalidoni

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Jahanam Jahanam
Presiden Hayat

cerpen
Ailla, Aku Rindu

Puti Koja

ceritanet©listonpsiregar2000