edisi 144 - 3 Cerita
Beberapa orang sakti yang merupakan utusan dari suku Rui yang berada di dekat gunung Dempo, suku Kun dari pesisir Timur Sumatra, dan suku Nang dari pesisir Barat Sumatra, berkumpul di bukit Siguntang, yang dikelilingi rawa-rawa namun kaya dengan sumber makanan seperti burung, ikan, kijang, babi, tumbuhan, serta aman dari berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, seperti yang sering terjadi di pesisir Barat Sumatra, pesisir Timur Sumatra, dan sekitar gunung Dempo. Sriwijaya, T. Wijaya
Hari ini ulang tahunku. Sisa black forrest, red wine, champagne, dan juga sisa kegembiraan masih berserakan di apartemenku. Oh! semua itu bakal lenyap tak lama lagi. Si Jahanam itu tahu nomor teleponku. Dia mengirim SMS beberapa detik lalu: “Kamu menikahi Elsa?” Aku belum tahu harus menjawab apa. Segera kumatikan handphone. Jahanam Jahanam, Presiden Hayat
Anak baru! Yup, itulah predikatku. Tapi aku tidak perduli dan dengan langkah ringan menuju lapangan apel pagi, mengambil posisi dibelakang Adi, teman sekamarku. Adi melirik sambil melempar senyum. Sesaat kemudian seorang cewek berkerudung sudah berdiri di depan. Berdirinya tegak, matanya tajam, bibirnya tipis, dan hidungya seperti tidak menghembuskan nafas. Dia komandan apel pagi. Ailla, Aku Rindu, Puti Koja
sampul esei sajak laporan cerpen novel memoar komentar terbitan edisi lalu daftar buku
kirim tulisan
ikut mailing list