ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 144
kamis 200907

cerpen Ailla, Aku Rindu
Puti Koja

Anak baru! Yup, itulah predikatku. Tapi aku tidak perduli dan dengan langkah ringan menuju lapangan apel pagi, mengambil posisi dibelakang Adi, teman sekamarku. Adi melirik sambil melempar senyum. Sesaat kemudian seorang cewek berkerudung sudah berdiri di depan. Berdirinya tegak, matanya tajam, bibirnya tipis, dan hidungya seperti tidak menghembuskan nafas. Dia komandan apel pagi.

"Sebelum apel pagi dimulai, bagi yang tidak melaksanakan kewajibannya silahkan mengambil barisan tersendiri!!" serunya.

Tak ada yang mengambil barisan sesuai perintahnya.

“Agar pelaksanaan apel pagi ini lebih kondusif, diharapkan sportifitasnya!” himbaunya lagi.

Berselang beberapa saat, akhirnya ada juga yang melangkah mundur, mengasingkan diri dari barisan. Aku tidak perduli dengan kewajiban, apapun itu, tapi aku ikut melangkah mundur. Aku ingin menegaskan pesanku; "saya tidak perduli dengan kewajiban." Dan kutatap nyinyir matanya, tapi dia tidak perduli dan melanjutkan apel pagi.

"Apel dimulai!" teriaknya lagi.

Pada hari pertama, aku ikut kedos atau kedai dosa dengan gotong royong membersihkan halaman sekolah. Kami semua diam menyapu, aku tak tahu halaman sekolah jadi lebih bersih atau tidak, tapi setengah jam harus kami habiskan untuk menyapu, sesuai format waktu kedos pagi itu. Hari pertama, aku terlambat masuk kelas. Tapi siapa yang perduli.

Kuketok pintu kelasku, tok, tok. "Permisi Bu, boleh masuk?”.

“Wa'alikum salam!” semua serempak menjawab. Ah, ini sekolah baruku, sekolah dengan etos Islam. Jadi kuulang lagi salamku.

“As-salamu alaikum.”
“Walaikum salam,” seeprti dikomando mereka menjawab kembali salamku sama serempaknya.

"Kamu murid baru ya?” guru itu menyadari keganjilanku, yang tidak biasa terjadi pada murid-murid lain.
“Saya anak pindahan Bu!”
“Namamu siapa?” tanyanya sambil mengambil buku absensia.
“Hafidzul Karim." Dan aku disuruh mengisi kursi kosong di bagian pojok belakang.  

"Bu!” Baru saja kuhenyakkan pantat di kursi, terdengar suara seseorang. Aku melihat kearahnya; si komandan apel pagi.

"Biasanya kalau ada siswa baru, menurut tradisi dia harus memperkenalkan diri di depan kelas,”

Dan akupun kembali ke depan. “Pagi semua, perkenalkan namaku Hafidzul Karim, orang tuaku memanggilku dengan sebutan Hafid. Terserah teman-teman saja mau memanggilku apa...” Aku berhenti sejenak sambil melirik ke pojok kiri, tempat duduk si komandan apel pagi. Di dalam kelaspun, dia masih punya gigi menggertakku.

Hingga perkenalanku usai, dia tidak pernah sekalipun melihat kearahku. Dia justru membaca buku di mejanya, dengan tangan menopang wajahnya. Dia yang mengingatkan sesi perkenalanku tapi dia yang tidak perduli.

Kuselesaikan sependek mungkin dan kembali ke kursiku.

***
“Fidz, sudah mengumpul tugas sastra?” taya Eko yang waktu itu sedang merokok sembunyi-sembunyi dari Ustadz.

“Ah, makasih.” Aku lega diingatkan dan kucoret-coret sedikit tentang apa artinya sastra dalam kehidupanku, Aku tak tahu persis, tapi lega juga rasanya ada yang tertulis di buku itu. Bagaimanapun aku enggan juga karena harus mencari komandan apel pagi yang tidak perduli itu. Dia yang ditugaskan mengumpulkan tugas sastra. Dan aku harus kembali ke aula sekolah mencarinya.

“Ini tugasku,” dan lansung keluar dari aula. Dia tidak bereaksi, ketika tugas itu aku taruh di mejanya, dan aku juga tidak perduli.

Aku dikirim ke SMU Plus ini karena malas sekolah. Di sekolah yang lama, dalam seminggu mungkin aku hanya masuk 2 atau 3 hari, dan tidak perduli kalau setiap minggu orangtuaku menerima surat. panggilan. Aku tidak perduli Dua bulan sudah aku di SMU Plus ini, dan aku tak perduli apakah disiplin sekolah ini kelak bisa mendobrak ketidakperdulianku atau tak mempan.

Di sekolah ini, kami hanya boleh pulang kampung sekali dalam sebulan, dan jika mau keluar harus pakai surat izin dari pembina asrama. Memanjat tembok terlalu tinggi dan berduri, apalagi persis di luarnya ada parit berlumpur berbau busuk. Mau nyolong dari gerbang utama ada dua satpam yang belum bisa kukibulin.

Aku bak di penjara, Selama dua bulan , aku tidak pernah merasakan kemeriahan dunia luar karena tidak diberi izin Ustadz untuk keluar, sesuai pesan orang tuaku, katanya.
***

 “Fidz, kamu nggak ikutan ke aula?” Asep masuk kamar, bengong melihatku sedang ngelamun di atas tempat tidur, menatap ke langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Otakku memang semakin sering kosong di sekolah ini.

“Memangnya ada apa di aula?” tanyaku sambil membuka almari pakaian dan mengambil sebatang rokok yang kubeli dari pasar rahasia di kantin.
“Lha, kamu ndak taut oh?" tanya Asep. Aku tak suka gaya Asep mengacaukan kata-kata, tau menjadi taut, tapi Asep satu dari segelintir temanku yang mau datang ke kamarku.

Aku menggeleng karena tidak tahu, dan sekaligus tidak perduli. Basa-basi kutanya juga; “ada acara apa?”
“Doa bersama untuk Ailla, Tapi sudahlah, toh kau tidak akan perduli," sela Andi di belakang Asep.
"Kamu kan tau kalau Ailla sudah beberapa hari ini nggak masuk. Dia lagi dirawat di Singapura, karena kanker darah. Nah sekarang mau ikut nggak ke aula," putus Asep.

Aku menghisap rokok dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Aku nikmati pelan-pelan rokok itu sebelum sampai ke ujung filter. Kuinjak filternya di luar kamar sampai hancur bercampur dengan tanah, baru aku menyusul ke aula.
***

Pada kenaikan kelas, aku berhasil mendapat nilai terbaik untuk ekstrakurikuler, tapi untuk urusan akademis cuma pas-pasan naik kelas 2, dan bertemu dengan dengan teman-teman lama.

Tapi Ailla tak terlihat, "masih dirawat di Singapura," kata kawan-kawan yang setiap hari membahas perkembangannya, yang menurut pendengaran sepintasku justru tidak banyak berkembang. Aku antara perduli dan tidak perduli, sama seperti Ailla yang juga tidak memperdulikanku. Aku tahu bahwa dia pastilah tahu kalau aku yang mengambil buku catatannya setiap sehari menjelang ujian, dan seperti kata semua orang catatannya memang yang paling lengkap dengan tulisan yang paling rapi pula.

Aku juga tahu bahwa dia tahu sepenuhnya kalau aku akan mengembalikan buku catatan itu di salah satu laci meja setiap sehari setelah ujian, sampai ditemukan oleh kawan lain. Aku juga tak ingat berapa banyak penanya yang sudah kuambil dan terbuang tak terhitung di tong sampah dekat kamarku. Aku tahu kalau dia tahu, tapi dia tak perduli dan aku juga tidak perduli.

Dan kunikmati permainan ketidakperdulian itu. Aku terlalu sering diikat oleh keperdulian orangtuaku, yang nyaris menutup kebebasanku. Ailla mungkin cocok menjadi ibuku, yang tidak perduli untuk seorang anak yang tidak perduli. Tapi dia sedang dirawat di Singapura, karena kanker darah dan aku tak tahu apakah dia akan kembali lagi bermain ketidakperdulian.

"Ah, mungkin sebaiknya aku tetap tidak perduli," dan masuk ke kantin, melakukan rutinitas transaksi rokok rahasia.

Dan aku bingung ketika pada suatu siang yang terik, Siti, teman sekamar Ailla, menangis terisak-isak dan menyebarkan tangisnya ke seluruh kelas. Aku diam, menyapu seluruh kelas dengan sorot mataku..Tak tahu apa yang sedang kupikirkan tapi kulepas pandanganku berkeliling kelas berkali-kali Tajamnya terik matahari terasa memukul kami semua di dalam keas, tapi aku harus tidak perduli karena ketidakperdulian yang menjadi jalinan hubunganku dan Ailla, setelah dia wafat sekalipun.
***

Semenjak kematian Ailla, terasa ada yang berubah. Aku merasakan kebebasan, karena tidak ada lagi yang mencari guru pengganti kalau guru pada jam itu tidak ada ataupun belum datang. Tetapi aku juga merasakan kehilangan, tidak ada lagi orang yang kuambil penanya, tidak ada orang yang bisa kucuri bukunya menjelang ujian.

Aku pernah mencuri buku Lia, tapi tulisannya tidak sebagus tulisan Ailla, dan dia panik kehilangan buku sampai membongkar semua laci kami, walau tidak berhasil menemukannya di balik perutku. Aku menikmati kepanikan Lia, tapi bukan itu yang kubutuhkan. Juga pernah kucuri pena Siti, dan dia langsung datang ke mejaku "coba sekali lagi kamu curi penaku, dan kau kuadukan ke ibumu," ancamnya sambil mengacungkan telunjuknya beberapa sentimeter di depan hidungku.

Ailla tahu aku mencuri bukunya, mencuri penanya, tapi dia tidak perduli. Apakah Ailla tahu aku merindukannya?

Di suatu malam, beberapa hari setelah bulan baru muncul, aku dan Adi duduk di teras kamar. Aku diam menyalakan batang rokok ketigaku, Adi ngobrol, ngalor ngidul, ke sana ke mari, dan aku setengah mendengar setengah membatu.

“Kamu taut nggak, kalau Ailla harus ke Singapuran karena kamu?" Aku melirik Adi tersenyum nyinyir. Dia sudah ikut-ikutan Asep, dan kujawab lepas; "Nggak taut, tapi kau kok taut?"

"Orang-orang tak bilang ke karena yakin paling kamu tidak perduli,"

Aku membayangkan Ailla stress karena buku catatannya kucuri, karena pulpennya kucuri, dan karena stress yang berkelanjutan, terus otaknya terlalu berat bekerja dan darahnya tidak sampai ke otak, lantas dia kena kanker darah. Aku tersenyum, sambil melepas hisapan rokokku ke malam yang gelap. Masih kulihat asap bergelimang naik ke atas, mungkin mau menyampaikan ijaminasi teman-temannya tentang aku yang menyebabkan kematiannya..

"Karena waktu prakarya kamu melempar gergaji ke Ailla dan tangannya terluka berdarah. Darah itu tak pernah berhenti," suara Adi memelan.

Gergaji, Ailla, darah?, aku mencoba mereka-reka hari itu. Tapi malam sudah semakin larut, otakku sudah setengah tertidur dan rokok ketigaku membuat kepalaku menerawang tak bisa berkonsentrasi.

Kuhisap rokok itu perlahan dan dalam. Tiga batang sudah kuhabiskan dan aku sudah mendengar jam di aula utama berdentang 12 kali, sayup-sayup. Kubuang sisa rokok dan masuk ke dalam kamar.

Aku berbaring dan kuambil racun tikus di samping tempat tidurku, kubuang di kamar mandi. "Tidak sekarang Ailla, tapi kelak kita akan jumpa lagi, aku rindu ketidakperdulian kita. Tapi malam ini aku terlalu lelah untuk menenggak racun tikus." dan akupun lelap tertidur.
***
Batam, February 2007

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Sriwijaya
T. Wijaya

cerpen Jahanam Jahanam
Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000