ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 144
kamis 200907

cerpen Jahanam Jahanam
Presiden Hayat

Hari ini ulang tahunku. Sisa black forrest, red wine, champagne, dan juga sisa kegembiraan masih berserakan di apartemenku. Oh!  semua itu bakal lenyap tak lama lagi. Si Jahanam itu tahu nomor teleponku. Dia mengirim SMS beberapa detik lalu: “Kamu menikahi Elsa?”

Aku belum tahu harus menjawab apa. Segera kumatikan handphone. Si Jahanam ternyata sudah keluar penjara. lebih cepat dari harapanku atau waktu berlari semakin cepat. Membayangkan apa yang bakal terjadi membuat keringat dinginku menghambur. Mengusir seketika endorphin dari tubuhku. Perutku mendadak nyeri sekali. Memaksaku duduk membungkuk di pinggir sofa.

"What’s up honey?“ Elsa mengagetkanku. Tangannya lembut memegang bahuku. Dia terbangun mendengar aku mengaduh-aduh tadi. Aku menoleh, menjemput wajahnya dengan senyum, dan kuusap-usap punggung tangannya. Dia nggak boleh tahu keadaan ini.

“Tidurlah. Kamu pasti masih capek mengurus pesta tadi. Terimakasih ya.” Kupandangi wajah bening itu lekat-lekat. Kusekap dengan mataku. Oh. Tuhan!, aku tak ingin kehilangan dia. Darimana si Jahanam bisa tahu nomorku? Padahal aku sudah menggantinya. Pastilah sebentar lagi dia juga akan menemukan apartemenku? Pastilah…

“Honey, kamu aneh malam ini.“ Elsa terheran-heran, pergi, dan tak lama kemudian  kembali dengan 2 mug coklat panas, duduk disebelahku. Kujungkirkan mug ke bibirku perlahan-lahan, kuseruput coklat panas dari mug. Kubaca tulisan dindingnya, chocoholic, dan bau coklat terasa makin kuat menggumpal di dalam kamar. Segar, kental, dan tak terlalu terang; coklat seperti lumpur kental..

Sebenarnya aku tidak ingin minum, juga tak ingin makan, tapi aku harus menghargai Elsa. Saling menghargai, saling memupuk keharmonisan yang mengisi hari-hari berdua kami.

Tetapi aku tak yakin apakah tetap akan subur dengan kehadiran si Jahanam. Pastilah sebentar lagi si Jahanam akan mencincang kebahagiaanku. Melahap dan mengunyah-ngunyahnya dengan senyum kemenangan.

“Honey, are you all right!“ bisikan lembut Elsa kembali menarik pikiranku yang sedang terombang-ambing. Aku tersenyum.

“I wanna dance with you“, sambil menaruh mug di atas meja, memutar CD dan memenuhi ruangan dengan lagu Do That To Me One More Time“-nya Captain.

Hujan masih menggedor-nggedor dinding kaca apartemen. Angin ganas menghempaskan bulir-bulir air. Petir menyalak-nyalak di langit hitam membawa berita buruk. Satu-satunya kebaikan yang kurasakan adalah pelukan Elsa. Kehangatannya mengalirkan endorphin di tubuhku. Setiap detik yang jatuh tercecer kurasakan menjadi sangat berharga.

Apakah ini akan menjadi dansa terakhir? Ingin rasanya aku bisa menghentikan waktu. Ingin kukurung rasa nyaman ini. Inilah dansa terindah yang pernah kurasakan.

Sial!, si Jahanam selalu menguntit. Wajahnya yang penuh codet menyeringai. Kurasakan bau kematian semakin tajam mendekat. Kulihat bunga-bunga kamboja menatap dingin calon pusaraku. Kudengar hitam tanah kuburan menggumam senandung selamat datang.

Tiba-tiba kulihat wajah sedih Elsa muncul. Wajah sedih ketika habis disakiti si Jahanam, dan mengendap-endap menyuntik keberanian. Tidak sepantasnya laki-laki menyerahkan takdirnya ke tangan penjagal. Aku bukan sapi potong. Tidak akan kubiarkan. Harga diriku menggeliat. Tapi apakah aku mampu melawan? Keraguan dan rasa takut tetap meringkusku.

Si Jahanam bengis seperti seribu iblis. Dia dipenjara karena membantai 2 pengamen yang kepergok masuk rumahnya dan mengambil handphone. Satu pengamen ditemukan di bath tub, tergenang darahnya sendiri. Yang satu lagi tersungkur di lantai dengan kepala pecah, dan sebaran darahnya seperti bantal besar. Semura orang bisa melihatnya dilayar TV dan koran. Orang-orang mengutuknya; kedua pengamen, kata berita-berita, sedang butuh uang buat obat adiknya. Kenapa harus dibunuh? Di pengadilan dia mengaku bahwa sedang mabuk dan stress karena ditinggal pacarnya.

Elsa yang meninggalkannya.

Sebenarnya, sejak awal aku tidak setuju mereka pacaran. Tetapi aku juga tidak mau jadi setan sirik penjagal  hubungan mereka. Kami bertiga bekerja di  kantor yang sama dan si Jahanam tampak bersungguh-sungguh. Jadi aku memutuskan untuk diam tak berpendapat, meskipun kekhawatiran selalu mengikuti dari belakang.

Ya, aku pantas khawatir karena aku tahu si Jahanam itu licik, sangat ambisius dan tidak segan-segan menggunakan cara-cara culas guna melesatkan karir. Wajahnya yang penuh luka berbisik kepadaku bahwa dia adalah masalah di masa lalu. Perangainya yang temperamental dan meledak-ledak sering membuat karyawan lain takut, dan tidak nyaman bekerja. Dan Elsa, yang melepas putih hatiya ke semua orang di kantor, semua orang di jalanan, semua orang di dunia.

Dan dia menghabiskan waktu dengan si Jahanam, yang tak perlu bergerak untuk menyebar roh joronya. Dia memecat asisten kepercayaannya, karena Presdir kesal. "Karena asisten itu ternyata kawan baik dari musuhnya Pak Presdir," katanya. Dasar penjilat laknat!

Aku merasakan ada tujuan lain dia memacari Elsa. Meskipun masih muda dan karyawan baru, Elsa adalah Sekretaris Presdir. Pastilah dia memacari Elsa untuk memanfaatkannya. Dia harus menguasai orang-orang yang dekat dengan sang penggengam kekuasaan untuk mempertahankan posisi. Dia harus bisa menguasai orang-orang  karena dia tidak menguasai pekerjaan. Dia bukan muncul dari tangga karir, tapi karena pernah menyelamatkan nyawa Presdir ketika dirampok di lampu merah. Sikap bengis dan arogan bisa menyembunyikan idiotnya.  Aku seperti punya andil melempar Elsa ke jurang tak berdasar. Semoga otak si iblis diseret serta ditenggelamkan oleh cinta Elsa.   

Tetapi nampaknya doa dan harapanku masih masuk waiting list. Elsa kelihatan makin lama justru makin frustasi. Dibalik sikapnya yang selalu ramah di kantor, awan hitam menggayut di matanya.    

“Berkomitmen menjadi pacar apakah sama dengan menandatangani kontrak sebagai perawat yang senantiasa harus menjaga dan melayani segala keperluan?“ begitu pertamakali Elsa mengadu, sekitar 2 bulan setelah pacaran. Padahal sebelumnya hanya pujian kepada si Jahanam dan wajah bersih-bersinar yang selalu diperlihatkan padaku.

Relationship is reciprocal, suatu hubungan selayaknya memperhatikan kepentingan kedua belah pihak. Take and give. Bukan salah satu menjadi budak bagi yang lain. Di rumah dia memperlakukan aku seolah-olah aku sekretarisnya! “ begitu selanjutnya Elsa mengeluh. Juga menghambur-hamburkan sumpah serapah. Tentu saja dia melemparkan semua gundah dan kekesalannya kepadaku secara sembunyi-sembunyi setiap ada kesempatan.

“Aku tidak mau menggendong urusan pribadi ke kantor“ begitu jawabnya, ketika kutanya kenapa di kantor selalu nampak harmonis.

“Aku terbiasa bersikap profesional“ Dia mencoba bersikap tabah.    

Hari-hari selanjutnya, minggu-minggu berikutnya hanya tangisan dan wajah sedih yang dipunyai Elsa setiap bergerilya dan ketemu denganku di luar kantor. Kelakuan si Jahanam itu makin lama makin gila. Elsa mengadu sering dipukuli dan diperlakukan seperti sampah. Dikekang seperti kuda tolol, dibentak di depan orang banyak, dituding-tuding mukanya kalau sedang marah, dan tidak boleh hang out lagi dengan teman-temannya. Suatu sore dia membawa luka dan wajahnya yang lebam membiru.

“ Rasanya aku sudah tidak tahan lagi, “ Elsa terisak-isak.

“ Kata maaf yang selalu diucapkan setelah berbuat kasar, ternyata bohong besar. Tidak tulus, “ katanya tersendat-sendat.

“ Aku terlalu bodoh selalu memaafkannya dan berharap bahwa suatu saat dia akan berubah. Aku bodoh!. Dia tak mungkin berubah.”

Pandangan matanya berubah hampa. Itulah wajah paling sedih yang pernah aku lihat. Aku bergegas memeluknya. Tidak berkata apa-apa.
***

Honey, why are you crying? “ bisik Elsa menyeruak diantara barisan nada-nada lagu sendu. Nampaknya tetesan airmataku jatuh ke wajahnya.

“Aku nggak apa-apa," jawabku sambil mengusap-usap punggungnya dan meneruskan berdansa. Entah sudah lagu yang keberapa. Wajah si Jahanam merongrong pikiranku. Pastilah dia sedang mencari-cariku untuk menuntaskan masalah Elsa. Sudah menjadi kebiasaan dia selalu menyingkirkan setiap orang yang menghalangi kehendaknya. Masih terngiang-ngiang ditelingaku ancamannya.

“Elsa jadi liar sekarang. Tidak mau diatur,“ si Jahanam kelihatan sangat geram. Kami sedang makan siang bersama., kira-kira satu bulan setelah Elsa bergerilnya mengadukan kelakuan bengisnya untuk kali pertama. .

“Tidak boleh ada yang menentang kehendakku. Aku tidak ingin boss menganggap aku tidak bisa mengatur orang. Ini tidak baik bagi perusahaan. Pastilah ada yang menghasutnya,“ rahangnya bergemerutuk membendung amarah. Belum sempat aku menanggapi, dia sudah berkata lagi,

“Kalau dia lelaki, akan kuhajar habis-habisan!”

Puh! Orang ini selalu mengganggap orang lain bersalah. Selalu menganggap tindakan dirinya selalu benar. Aku yang tadinya ingin memberi saran dan masukan agar hubungan mereka tetap harmonis jadi batal. Nafsu makanku juga hilang melihat amarahnya menyebar busuk ke seluruh restoran.
***

Sampai dua minggu berikutnya aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Padahal Elsa makin sering mengadukan kelakuannya. Tidak jarang dia datang ke apartemenku hanya untuk berkeluh kesah. Makin sering kulihat Elsa menangis, makin besar simpatiku.

Aku tidak ingin hal ini berlarut-larut. Aku tergoda memberitahu si Jahanam agar mengubah perilakunya dan memahami perasaan Elsa. Kebetulan ada meeting bersama di luar kota, dan kami sukses. Di sudut lounge, si Jahanam masih sok mengajari agar memperbaiki presentasiku. Dia masih belum puas, katanya, meskipun klienku terkagum-kagum dan setuju proposalku.

Puh, Setan arogan! Aku mengekang amarah. Menjaga suasana agar misiku tidak kacau. Ketika kurasakan dia sudah kenyang ceramah, aku mulai singgung pelan-pelan masalah Elsa.

“Jangan mengguruiku!“ hardiknya. Tangannya yang besar tiba-tiba mencengkeram krah bajuku. Tamu-tamu menoleh kearah kami. Aku kaget setengah mati. Seumur hidupku baru kali ini aku diperlakukan seperti ini.

“Kalau kamu loyal dan tidak ingin para manajer dilecehkan, cari orang yang menghasut Elsa dan bawa kepadaku. Kalau perlu kubunuh dia. Aku tidak ingin manajemen kehilangan muka. Tidak satupun orang boleh menentang kehendakku. ‘Business is tough bung!. We have to be vigilant, begitu kata Pak Presdir. Sekecil apapun potensi yang akan mengganggu kepentingan perusahaan harus kita libas. Kita bukan yayasan nirlaba. Kita juga bukan ulama atau pendeta yang harus berkotbah, menyejukkan hati dan perasaan bawahan. Kantor bukan pengajian. Tugas kita menggemukkan revenue. Mengalirkan uang ke rekening perusahaan, begitu kata Pak Presdir,“ mulutnya memuntahkan lava kata-kata bagaikan gunung berapi pecah bengkak bisulnya.

Dia melepaskan cengkeramannya. Aku terbatuk-batuk. Kagetku berangsur-angsur hilang, meskipun aku masih agak gemetar tapi bingung.

Puh! dasar penjilat; kata Pak Presdir, kata pak Presdir, makiku dalam hati. Bisanya hanya membeo!

Emosiku mulai terbakar. Segera kusiram dengan white wine dingin dan kutarik nafas panjang agar tidak menjalar. Kenapa Elsa --atau setan maupun malaikat yang membuat Elsa berubah-- yang jadi sumber masalah?

Bukankah sikapnya yang selalu menjilat atasan dan gila hormatnya-lah yang jadi bibit masalah sebenarnya? Bukankah sikapnya yang tidak mau menelan kritik dan masukan yang membuat sakit super egonya tambah parah? Aku yakin karena jabatannya saja, orang masih mau mendengarnya. Sepertinya si Jahanam sudah cacat otak. Jiwanya sudah teramputasi sehingga kesana-kemari harus memerlukan  kekuasaan dan uang supaya bisa berjalan tegak. Aku heran, disaat umur bumi semakin tua, banyak orang justru sering menggunakan manajemen purba, dengan istilah atau sebutan berbeda. Staff hanyalah eufemisme dari budak. Buruh selalu dianggap kacung. Hati dan perasaan jarang dibawa ke kantor.

“Kamu mau pesan yang lain?“ pertanyaan si Jahanam menghentikan sejenak laju pikiranku. Dia minta satu botol white wine. Tidak minta maaf, seolah-olah lupa bahwa dia barusaja mempermalukanku di muka umum. Kebencianku kepada si Jahanam bertambah. Tapi aku juga pengecut yang masih takut akan posisinya.
***

Tiba-tiba bibirku terasa hangat. Aku sedikit kaget, Elsa menciumku; “Honey, what happened? “ bisiknya sambil menatap mataku lekat-lekat. Aku tersenyum dan menggeleng. Dia mencari remote control dan mematikannya, mengakhiri dansa.

 “Ayo kita tidur,“ sambil menarik tanganku. Aku tersenyum lagi dan mengangguk. “Thanks for the dancing. Kamu duluan. Aku mau sikat gigi dulu “ Dia melepas tanganku. Aku berbelok ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian kususul dia ke tempat tidur. Kurapikan piyamaku dan berbaring disinya. Kutatap lekat-lekat lagi wajah cantik yang sedang terpejam itu. Kukecup keningnya dengan lembut dan menyinggahkan kata; “Have a nice dream honey“  

Matanya terbuka dan tersenyum,

 “You too.“ katanya sambil mengangkat kepala dan mendaratkannya ke dadaku.  

Kuusap-usap lembut punggungnya. Kali ini tidak kan kubiarkan lagi si Jahanam menyakiti Elsa. Dia sudah menjadi istriku dan tak seorangpun boleh mengganggu rumah tanggaku. Pikiranku kembali melayang dan teringat waktu aku melamarnya dulu.
***

“Aku sadar kamu sudah punya pacar,“ aku memulai. Seperti biasa dia menangis di pelukanku. Membawa wajah lebam setelah di hajar si Jahanam.  

“Mungkin juga ini bukan saat yang tepat untuk bicara.“ Otakku berpikir keras meramu kata-kata. Sejenak dia berhenti menangis dan mendongakkan kepala. Dia terlihat sedikit bingung.

“Akupun juga akan mengerti kalau kamu menyangka aku memanfaatkan situasi.“

Pandangan matanya mengulitiku. Aku membalas tatapan matanya dan kunyatakan perasaanku. “Aku tidak tahan melihat wajah sedihmu lagi... “

Hanya sepi mendominasi sebelum aku bisa melanjutkan bicara.            

“Semampuku, seumur hidupku, aku akan menjaga agar wajah sedih itu tidak muncul lagi di wajah cantikmu.“ kataku sungguh-sungguh.

Dia diam saja. Hanya pelukannya bertambah erat. Dalam keheningan malam, hatiku gaduh.
***

Pagi harinya seluruh kantor geger. Presdir mengadakan rapat mendadak. Tiga peristiwa mengagetkan terjadi.

Pertama, beliau mengumumkan, Elsa mengundurkan diri. Berita ini sekaligus menjawab keherananku mengapa dia tidak ke kantor tanpa memberitahuku. Kedua, aku diangkat jadi Wakil Presdir. Dan ketiga, si Jahanam mengundurkan diri.

Si Jahanam tampak tegang meski mengangguk-angguk membenarkan. Dia langsung pulang selepas rapat. Sore harinya kantor bertambah heboh karena si Jahanam membunuh 2 pengamen yang masuk rumahnya. Sementara Elsa lenyap ditelan setan laut..

Tiga bulan kemudian, Elsa menelponku. Aku kaget, riang, dan gelisah. Dia bertanya apakah aku benar-benar mencintainya. Dia mau menikah asal resepsi pernikahan ditunda sampai waktu yang tepat. Dia masih malu karena pernah menjadi pacar si Jahanam dan tidak ingin teman-teman kantor tahu. Meskipun terasa agak aneh, kusetujui syaratnya. Tapi aku minta agar Presdir dikecualikan. Aku tidak ingin menyembunyikan hal ini dari atasanku. Dia setuju.

Diam-diam kami bertemu Presdir untuk menjelaskan rencana pernikahan kami. Beliau setuju dan memahami alasan kami untuk merahasiakan sampai waktu yang tepat.

Setelah akad nikah, kami mengadakan pesta kecil di Bali. Kami berbahagia sampai sekarang.

Tapi kebahagiaan dan kesenangan sering melenakan. Rasa nyaman adalah candu yang memanjakan sifat egois dan membuat lupa bahwa kita punya kewajiban terhadap orang lain. Membuat kita terbang menjauhi bumi.

Pikiranku makin berputar-putar. Elsa tampak sudah tertidur pulas disampingku. Aku sering memandang wajahnya waktu dia tidur. Meskipun aku tidak tau dia tengah bermimpi apa, tetapi melihat wajah tenangnya sungguh melegakan. Setidaknya dia bukan sedang bermimpi dihajar si Jahanam.  

“Harus kuselesaikan semua ini. Once and for all! “ pikirku dalam hati. Sudah jelas akar masalahnya: si Jahanam. Kalau dia tidak kusingkirkan dulu, dia akan terus menggeramus kebahagiaan kita berdua. Demi Elsa, demi kebahagiaan kita berdua, demi mempertahankan harga diriku, akan kulenyapkan si Jahanam. Harus kulenyapkan dari tanganku sendiri, bukan dengan tangan orang lain. Aku tidak ingin sikap pengecut dan sikap tidak bertanggung jawab tumbuh subur dalam diriku.  

Kuambil pistol yang selama ini kusembunyikan di safety box-ku. Walau ada ijin kepemilikan, aku menyimpannya karena takut kesombongan dan arogansi akan menguntitku jika membawanya. Sekarang kubawa kemana-mana. Aku tidak ingin si Jahanam membunuhku terlebih dahulu. Mengapa penjahat kejam seperti dia bisa bebas lebih cepat? Mengapa dia bisa tahu nomor teleponku? Pertanyaan-pertanyaan yang terus membuntutiku. Tapi aku sudah gelap mata. Kuhidupkan Handphone-ku dan kubalas SMS si Jahanam yang minta bertemu malam ini juga, di suatu tempat. 
***

Elsa membangunkanku sambil menangis tersedu; si Jahanam ditemukan tewas. Dilemparkannya koran pagi itu. Aku kaget setengah mati karena semalam tidak jadi menembak otaknya. Dia justru nampak ketakutan dan minta maaf. Penjara mungkin membuatnya jadi takut sama pistol. Kupeluk istriku dan kutenangkan,.

“Aku akan membantu polisi mencari pembunuhnya.“.

“Meskipun sering menyakitiku, tapi aku merasa bersalah atas kematiannya.“ Elsa masih terisak-isak.

“Aku yang melaporkan hubungannya dengan Agus, anak Presdir, dan dipaksa mengundurkan diri. Dia gay!“ Aku terhenyak.

“Aku tak punya bukti, tapi punya feeling dia dipenjara dan dibunuh supaya martabat keluarga Pak Presdir tidak tercemar.“
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Sriwijaya
T. Wijaya

cerpen
Ailla, Aku Rindu

Puti Koja

ceritanet©listonpsiregar2000