ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 142
sabtu 180807

cerpen Seorang Teman
Wahyu Heriyadi

Ia begitu terpikat oleh gelombang pemikiran postmodern. sejak pada awal pertama aku mengenalnya. Ia mulai menunjukkan ketidak senangan pada prosesi ospek yang begitu menindas, dalam perbicangan kepada teman-temannya. Ia menyarankan untuk tidak mengikuti ospek, untuk memboikotnya. Namun tak ada yang setuju; semua menggeleng. Lebih baik mengikuti prosesi ospek, mungkin baik untuk kita, kataku memberi saran.

Ia sangat enggan, tetapi akhirnya mengikuti juga dengan maksud untuk mengetahui sebatas mana pekerjaan gila yang dilakukan seniornya di acara ospek itu.

Meski hanya tiga hari. tetapi begitu membekas.

Acara itu penuh kebersamaan; bersama-sama makan digilir, minum bergiliran dalam satu gelas untuk sekitar 200 orang. bergulingan di jalan berbatu sembari diacungi golok. dibentak di malam hari. olehraga di waktu subuh. dan sarapan jengkol, setelah itu menggosok gigi teman dengan jari. Hal yang menjadi permainan utama di ospek.

Saat itu, ia bagian dari yang akan melawan senior karena kekesalannya telah memuncak. Beruntung bisa diredam dan ia menjadi tidak beringas lagi pada senior.

Apa bedanya aku dengan mereka kalau kulawan dengan kekerasan lagi.

Ya. Aku hanya diam dan mengikuti prosesi dengan seksama.

Itu tahunan lalu, tak terasa. Aku kemudian berkembang menjadi panitia acara ospek, semacam pengenalan diri ke mahasiswa baru. Dan aku memang banyak dikenal. sementara ia tidak, dan enggan untuk menjadi panitia apapun.

Itulah sebuah kekerasan yang terstruktur dan terlembagakan. acara itu adalah topeng belaka, katanya.

Ah, tentunya aku tak sependapat. Kegiatan yang sangat mengasikan.

Banyak sekali perbedaannya denganku.

Aku menyadari ketertarikan pada gelombang pemikiran postmodern, tapi ia lebih menggilai. Maka ia pun menjadi agresif dalam melahap pemikiran tersebut. Banyak buku yang dibeli, artikel internet, pinjaman buku perpustakan. perbincangan dengan oramg-orang yang selalu dikaitkan postmodern. Ia sedang gandrung. banyak sekali tulisan yang ia rangkai, mengacu postmodern. Ia sedang mencoba pisau analis untuk membedah permasalahan. Ia sedang berusaha keras.

Terkadang aku hanya buku-bukunya. Ia sangat senang sekali meminjamkan bukunya.

Ada aturan meminjam bukunya. Aku harus mendengarkan resensi yang ia utarakan —buku-buku yang sudah dikuasainya dan yang panjang lebar dijelaskannya, mungkin sekitar dua jam. Sebagai pengantar untuk menyelami buku-bukunya, katanya. ia memberikan waktu satu bulan. Itu batas toleransi membaca buku yang longgar, karena membaca buku paling malas satu minggu, dan kalau sedang biasa tiga hari. Nah ini, kalau rajin satu hari pun selesai, tegasnya.

Batas toleransi yang longgar diberikan, satu bulan. dan setelah itu ia mulai mengajak berdebat untuk membedah buku tersebut. Ini yang membuat kening berkerut.

Ia punya kebiasaan; bepergian tanpa tujuan jelas. Ini adalah sebuah bentuk pelarian dari kebiasaan, katanya. Untuk menyegarkan pikiran tambahnya. Terkadang di kepala seperti panas dan berasap.

Ia naik angkutan umum atau berjalan kaki, dan mengobrol dengan banyak orang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Ia tidak suka berdemontrasi. Ia lebih suka memberontak dengan tulisan. Baginya sudah ada orang-orang yang berdemonstrasi, maka harus berbagi peran. Ia memutuskan bahwa perlawanan, keberpihakan kepada yang terpinggirkan dapat dilakukan dengan menulis.

Kuliah kami sama-sama lama, tidak cepat seperti teman-teman yang empat tahun dapat lulus.

Aku aktif di berbagai organisasi kampus, sedangkan ia lebih banyak menulis. Ia pernah memberikan draft buku kepadaku. Menarik; tentang apa saja yang ia tulis, mulai dari gaya berpakaian, kebiasaan, rumah, kapitalisme, ideologi, makanan. Semua ditulis dengan kritik ala postmodern. Begitulah katanya, karena aku sendiri tak memahaminya.

Buku itu kemudian diterbitkan oleh sebuah penerbit independen. Dan ku yang pertama dihubunginya, yang mendapat buku itu, meski sudah lebih dulu mendapat draftnya.

Ssetelah itu, kami lulus bersama.

Ia tiba-tiba menghilang begitu saja. Entah kemana. Kepergiannya seperti ditelan semesta.

Tapi suatau hari ada SMS, darinya. Segera aku datang kerumahnya. Tak jauh, hanya macet yang mengulur perjalananku.
         

Yyang kutemukan hanya lapangan kosong. Ia ternyata sedang bermalasan di rumput di sudut lapangan kosong itu.

Ia lambaikan tangannya. Aku tinggal bersama rumput dan tanah.

 Aku hanya tercengang. Lalu apa kesibukanmu pemikir? tanyaku.

Menulis, dan menyatu dengan alam.

Ia memberiku draft puisi 200 halaman. Mungkin seperti dulu, kelak akan diterbitkan dan kelak aku akan juga mendapat buku itu.

Iitulah terakhir aku bertemunya. Beberapa minggu kemudian aku kembali lagi ke lapangan kosong itu. Tak ada. Mungkin sudah pergi ke lapangan lain, atau sedang pergi bepergian. Entah kemana. mungkin mencari kata-kata yang akan dituliskannya lagi.

Di tahun yang tak terduga. aku menonton sebuah garapan teater. Sebuah kelompok teater yang datang dari masa lalu, dengan sebuah pertunjukan tanpa mementingkan alur. Menari, berpuisi, bergerak, bermusik, simbol-simbol yang dihidangkan. Namanya tertera. sebagai sutradara.

Ttapi apakah itu dia?

Aku berusaha mencari-carinya. Di gedung pertunjukan itu, rupanya ia tak ada. Lalu dimana?

Ah, ia menghilang dan menghilang. sepertinya tak ada di gedung pertunjukan. Kutanyakan pada para aktor, tapi sutradara dan penulis naskah memang tak ingin melihat pertunjukannya sendiri.

Ah, pastilah dia itu temanku..

Senja yang basah. sedang gerimis. Lalu aku teringat pada draft puisi yang belum pernah kubuka. Tapi segera kututup kembali. Kubiarkan kata-kata yang masih menempel di kertas itu tidak mempengaruhi pikiranku.

Biarkan kata-katanya tersimpan, masih disana. 
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

komentar Belanda, Kereta Api dan Gergaji
Ervan Hardoko

komentar Bahasa
Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000