sajak Mengiring Jenasah
Gendhotwukir
Dipuja suka, mati muda
Salah dosa belum terkaya
Ria lekat wajah rona
Bahgia terdampar. Di pulau tangisan gema
Iring-iringan mencipta debu lesu
Keruh linangan senja gerimis
Bergegas mengubang kikis
23 cukup. Kenapa tidak 70
atau 80 jika ada daya ?
alun melodikan cerah di depan
pupus membaca harapan
menghenti muda menyapa kematian
manusia senja tersadar
segera kejar kepergian muda
pintu mana, pintu ke sana
ingatan sesak melihat kepergian diri muda
tunggu di balik pintu untuk rindu bertemumu
segera pergi. Mengejar tapak-tapak henti muda.
150403
Di dalam Salib Christi
Di dalam salib
Berkepak ribu rindu menghampiri
Tersedot pesona nasib suci
Nasib yang termulia karma dihayati
Papah pincang-pincang insani demi
Di dalam salib
Ada cinta terpatri kini
Beribu-ribu, berjuta-juta derita membebani
Tiada lorong-lorong terkunci
Tiada pintu-pintu terapat rapi
Tiada sapa angkuh dalam hati membumi
"Hai, kamu yang berbeban berat datanglah kemari"
Di dalam salib
Terceria laksana putera-puteri
Taman Bapa lapang indah kembang-warna-warni
Tergerak diri agar lekas menari
Tiada terkenang derita fana bumi
Di dalam salib
Kegagalan tersirat kisi-kisi arti
Berlaksa-laksa kegagalan tiba tiada terbagi
Karma terbagi berarti malu diri
Kegagalan kita tak seberat lain insani
Di dalam salib
Derita tidak sendiri
Mengapung terhibur darah suci
Tertebus asal jiwa segera kembali
Mengarungi samuderacinta Christi
Nggendol jumbai kemana pergi
Di dalam salib
Yang ada hanya satu
Tiada miskin-kaya, putih-hitam, darah merah-darah biru
Perbedaan terkibur liang gali kudu
Berbaris tiada tanya kamu
Karma jiwa di dalam Christi slalu
Di dalam salib
Tiada yang tersembunyi
Dimanapun berada terdapati
Mata Christi membelalak segala tertembusi
Datang keutamaan dengan berserah diri satu memuji
Jumat Agung 180403
|