komentar Indonesia Masih Ada
T. Wijaya
Gol! Indonesia masih ada. Sepakbola telah menyelamatkan Indonesia.
Sepakbola memberi arti terhadap proyek negara-bangsa yang berumur 62 tahun.
Merah-putih berkibar kembali. Merah-putih tidak hanya semarak ketika
memperingati Hari Kemerdekaan. Saya yang sudah jarang menyanyikan lagu
Indonesia Raya, kembali mengumandangkannya. Indonesia hadir dalam
semangat menang-kalah.
Jika mau jujur, partai politik telah gagal menandai Indonesia.
Partai politik selalu memberikan kecemasan bukan harapan seperti yang
selama ini diyakini. Partai politik yang seharusnya melahirkan para pemimpin
yang dapat menyelamatkan Indonesia, justru melahirkan tokoh-tokoh yang
selalu dikeluhkan setiap hari. Baik mengenai janji yang belum
dipenuhi, hingga perilaku moralnya yang menggemaskan dan menakutkan, seperti
tindak korupsi dan amoral. Dampaknya, rakyat mulai cemas atau kehilangan
kepercayaan terhadap proyek Indonesia.
Tapi, sepakbola, selama putaran Piala Asia, dan menjelang kualifikasi Piala Dunia, seakan memberi
kepercayaan terhadap keberadaan Indonesia. Timnas sepakbola yang
mengikuti Piala Asia 2007, akhirnya mampu menggetarkan kembali hati nurani
saat kita menyanyikan lagu Indonesia Raya atau Maju Tak Gentar.
Jutaan
rakyat Indonesia yang saat ini kelaparan, kurang pendidikan,
berpenyakitan, bersama mereka yang selama ini dikritik, duduk bersama di hadapan
televisi atau di bangku penonton Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta,
menyaksikan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan bertarung dengan timnas negara
lain.
Semangat ke-Indonesia-an, itu bukan hanya berlangsung selama 90
menit. Di luar lapangan hijau, mulai dari ruang tamu, warung kopi, di
pinggir jalan, di dalam kantor, hingga di kelas, dari anak-anak hingga
orang tua, semua membicarakan Indonesia. Tanpa kita duga sebelumnya,
nasionalisme tumbuh begitu cepat. Rasa ini mungkin hanya dapat disemakan
warga Jakarta yang ingin mudik Lebaran.
Bahkan, nasionalisme mengalahkan
sentimen tanah kelahiran para leluhur sebagian warga negara Indonesia.
Artinya, dari yang berkulit kuning, hitam, putih, atau dari yang beragama
Islam, Hindu, Kristen, Katolik, semuanya menjadi satu buat membela
Indonesia.
Ya, menyaksikan sepakbola, kita betul-betul menyadari partai
politik telah gagal. Puluhan ribu orang rela mengeluarkan uang ratusan ribu
rupiah untuk membeli tiket, kaos, dan makanan, untuk menyaksikan
sepakbola.
Tapi sebuah partai politik harus mengeluarkan miliaran rupiah
guna memadatkan stadion sepakbola, seperti Gelora Bung Karno, Jakarta.
Padahal jika dilihat janjinya, seorang pemimpin partai politik mungkin
jauh lebih cerdas dalam memberikan harapan dibandingkan seorang
pelatih, seperti Ivan Kolev yang masih studi Bahasa Indonesia.
Menang-Kalah
Fenomena nasionalisme melalui sepakbola ini, secara tidak sadar
memberikan arti bahwa semangat kebangsaan kita masih berkutat pada persoalan
menang-kalah. Ini artinya, proyek Indonesia sejak tahun 1945 hingga hari ini
masih mengibarkan bendera "Merdeka atau Mati".
Musuh harus diperangi. Musuh harus dikalahkan. Musuh harus dipermalukan.
Jika semangar menang-kalah terbukti masih menggelayuti nasionalisme
Indonesia, saya pikir para pemimpin bangsa ini sudah harus mencari dan
menetapkan musuh bersama, sehingga rasa nasionalisme ini tidak hilang
setelah perhelatan Piala Asia.
Musuh bersama itu, seperti Bung
Karno dan kawan-kawan menyatakan Belanda dan Jepang sebagai bangsa
penjajah, atau juga menetapkan Amerika Serikat sebagai musuh di penghujung
kepemimpinannya.
Bagaimana kalau musuh itu berada di dalam masyarakat
Indonesia? Saya pikir, seperti yang berlangsung selama kepemimpinan
Suharto. Terjadi gejolak di dalam. Tiap warga negara saling curiga. Lalu,
tiap warga negara melakukan koalisi dengan kekuatan luar. Bukan untuk
menghadapi musuh dari luar, tapi justru buat menghadapi sesama warga
negara Indonesia.
Menurut saya, benih-benih ini yang menyebabkan ancaman
disintregrasi negara yang kita rasakan selama ini. Semangat otonomi, yang
seharusnya melahirkan kesadaran desentralisasi, justru membangkitkan semangat
menang-kalah terhadap pusat.
Orang-orang di luar Jakarta, mulai dari Aceh,
Bengkulu, Kutai, hingga Papua, menyatakan Jakarta sebagai musuh.
Musuh Bersama
Musuh bersama yang harus ditentukan oleh para pemimpin Indonesia, yakni
kekuatan seperti Bahrain, Arab Saudi, serta Korea Selatan --atau Guam di kualifikasiPiala Dunia nanti--, yang
menyatakan ingin mengalahkan Indonesia, mempermalukan, serta menyesakkan hati
bangsa Indonesia, di lapangan hijau.
Nah, adakah negara di luar
Indonesia yang punya keinginan mengalahkan Indonesia secara ekonomi dan
politik?
Para pemimpin bangsa ini harus menjawabnya atau menentukannya.
Indikatornya melalui berbagai kebijakan mereka, yang secara ekonomi dan
politik, mengancam keberadaan Indonesia. Negara-negara ini yang harus
disebut para pemimpin kita sebagai musuh bersama. Musuh yang harus
dikalahkan, sehingga negara-bangsa ini bertahan di atas nasionalisme yang kita
rasakan selama Piala Asia 2007.
Tepatnya, musuh bersama ini tidak harus
berdasarkan ideologi atau kepercayaan yang mereka pegang. Dapat saja
ideologi atau kepercayaan yang berbeda, tapi tidak merugikan Indonesia.
Ideologi yang dinilai baik justru merusak negara ini. Bukankah
saat ini orang mulai tidak percaya lagi dengan ideologi, sejalan
dengan konsep modernisme yang selama 1,5 abad ini merusak dunia?
Jika para pemimpin tidak mampu menentukan musuh bersama, saya pikir
ancaman keterpecahan Indonesia akan terus berlangsung. Ibarat
sepakbola, jika tidak ada perhelatan sepakbola secara international diikuti
Timnas Indonesia, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan perkelahian
antarpendukung klub sepakbola di Indonesia, seperti perang antara Jack
Mania dan Bonek.
Jadi, saya akan percaya sebagian warga Papua, Maluku, Aceh, akan
tetap cinta Indonesia apabila setiap tahun Timnas Indonesia mengikuti
event sepakbola international. Seperti yang
tergambar dalam kerjasama antara Bambang Pamungkang yang Jawa, Maryadi
Pangabean yang Batak, dan Elly Eboy yang Papua.
***