ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 141
selasa 070807

komentar Indonesia Masih Ada
T. Wijaya

Gol! Indonesia masih ada. Sepakbola telah menyelamatkan Indonesia. Sepakbola memberi arti terhadap proyek negara-bangsa yang berumur 62 tahun. Merah-putih berkibar kembali. Merah-putih tidak hanya semarak ketika memperingati Hari Kemerdekaan. Saya yang sudah jarang menyanyikan lagu Indonesia Raya, kembali mengumandangkannya. Indonesia hadir dalam semangat menang-kalah.

Jika mau jujur, partai politik telah gagal menandai Indonesia.

Partai politik selalu memberikan kecemasan bukan harapan seperti yang selama ini diyakini. Partai politik yang seharusnya melahirkan para pemimpin yang dapat menyelamatkan Indonesia, justru melahirkan tokoh-tokoh yang selalu dikeluhkan setiap hari. Baik mengenai janji yang belum dipenuhi, hingga perilaku moralnya yang menggemaskan dan menakutkan, seperti tindak korupsi dan amoral. Dampaknya, rakyat mulai cemas atau kehilangan kepercayaan terhadap proyek Indonesia.   

Tapi, sepakbola, selama putaran Piala Asia, dan menjelang kualifikasi Piala Dunia, seakan memberi kepercayaan terhadap keberadaan Indonesia. Timnas sepakbola yang mengikuti Piala Asia 2007, akhirnya mampu menggetarkan kembali hati nurani saat kita menyanyikan lagu Indonesia Raya atau Maju Tak Gentar.

Jutaan rakyat Indonesia yang saat ini kelaparan, kurang pendidikan, berpenyakitan, bersama mereka yang selama ini dikritik, duduk bersama di hadapan televisi atau di bangku penonton Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, menyaksikan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan bertarung dengan timnas negara
lain.

Semangat ke-Indonesia-an, itu bukan hanya berlangsung selama 90 menit. Di luar lapangan hijau, mulai dari ruang tamu, warung kopi, di pinggir jalan, di dalam kantor, hingga di kelas, dari anak-anak hingga
orang tua, semua membicarakan Indonesia. Tanpa kita duga sebelumnya, nasionalisme tumbuh begitu cepat. Rasa ini mungkin hanya dapat disemakan warga Jakarta yang ingin mudik Lebaran.

Bahkan, nasionalisme mengalahkan sentimen tanah kelahiran para leluhur sebagian warga negara Indonesia. Artinya, dari yang berkulit kuning, hitam, putih, atau dari yang beragama Islam, Hindu, Kristen, Katolik, semuanya menjadi satu buat membela Indonesia.

Ya, menyaksikan sepakbola, kita betul-betul menyadari partai politik telah gagal. Puluhan ribu orang rela mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk membeli tiket, kaos, dan makanan, untuk menyaksikan
sepakbola.

Tapi sebuah partai politik harus mengeluarkan miliaran rupiah guna memadatkan stadion sepakbola, seperti Gelora Bung Karno, Jakarta. Padahal jika dilihat janjinya, seorang pemimpin partai politik mungkin jauh lebih cerdas dalam memberikan harapan dibandingkan seorang pelatih, seperti Ivan Kolev yang masih studi Bahasa Indonesia.

Menang-Kalah
Fenomena nasionalisme melalui sepakbola ini, secara tidak sadar memberikan arti bahwa semangat kebangsaan kita masih berkutat pada persoalan menang-kalah. Ini artinya, proyek Indonesia sejak tahun 1945 hingga hari ini masih mengibarkan bendera "Merdeka atau Mati".

Musuh harus diperangi. Musuh harus dikalahkan. Musuh harus dipermalukan.   

Jika semangar menang-kalah terbukti masih menggelayuti nasionalisme Indonesia, saya pikir para pemimpin bangsa ini sudah harus mencari dan menetapkan musuh bersama, sehingga rasa nasionalisme ini tidak hilang setelah perhelatan Piala Asia.

Musuh bersama itu, seperti Bung Karno dan kawan-kawan menyatakan Belanda dan Jepang sebagai bangsa penjajah, atau juga menetapkan Amerika Serikat sebagai musuh di penghujung kepemimpinannya.

Bagaimana kalau musuh itu berada di dalam masyarakat Indonesia? Saya pikir, seperti yang berlangsung selama kepemimpinan Suharto. Terjadi gejolak di dalam. Tiap warga negara saling curiga. Lalu, tiap warga negara melakukan koalisi dengan kekuatan luar. Bukan untuk menghadapi musuh dari luar, tapi justru buat menghadapi sesama warga negara Indonesia.

Menurut saya, benih-benih ini yang menyebabkan ancaman disintregrasi negara yang kita rasakan selama ini. Semangat otonomi, yang seharusnya melahirkan kesadaran desentralisasi, justru membangkitkan semangat menang-kalah terhadap pusat.

Orang-orang di luar Jakarta, mulai dari Aceh, Bengkulu, Kutai, hingga Papua, menyatakan Jakarta sebagai musuh.

Musuh Bersama
Musuh bersama yang harus ditentukan oleh para pemimpin Indonesia, yakni kekuatan seperti Bahrain, Arab Saudi, serta Korea Selatan --atau Guam di kualifikasiPiala Dunia nanti--, yang menyatakan ingin mengalahkan Indonesia, mempermalukan, serta menyesakkan hati bangsa Indonesia, di lapangan hijau.

Nah, adakah negara di luar Indonesia yang punya keinginan mengalahkan Indonesia secara ekonomi dan
politik?

Para pemimpin bangsa ini harus menjawabnya atau menentukannya. Indikatornya melalui berbagai kebijakan mereka, yang secara ekonomi dan politik, mengancam keberadaan Indonesia. Negara-negara ini yang harus disebut para pemimpin kita sebagai musuh bersama. Musuh yang harus dikalahkan, sehingga negara-bangsa ini bertahan di atas nasionalisme yang kita rasakan selama Piala Asia 2007.

Tepatnya, musuh bersama ini tidak harus berdasarkan ideologi atau kepercayaan yang mereka pegang. Dapat saja ideologi atau kepercayaan yang berbeda, tapi tidak merugikan Indonesia. Ideologi yang dinilai baik justru merusak negara ini. Bukankah saat ini orang mulai tidak percaya lagi dengan ideologi, sejalan
dengan konsep modernisme yang selama 1,5 abad ini merusak dunia?

Jika para pemimpin tidak mampu menentukan musuh bersama, saya pikir ancaman keterpecahan Indonesia akan terus berlangsung. Ibarat sepakbola, jika tidak ada perhelatan sepakbola secara international diikuti Timnas Indonesia, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan perkelahian antarpendukung klub sepakbola di Indonesia, seperti perang antara Jack Mania dan Bonek.

Jadi, saya akan percaya sebagian warga Papua, Maluku, Aceh, akan tetap cinta Indonesia apabila setiap tahun Timnas Indonesia mengikuti event sepakbola international. Seperti yang tergambar dalam kerjasama antara Bambang Pamungkang yang Jawa, Maryadi Pangabean yang Batak, dan Elly Eboy yang Papua.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Mengiring Jenasah
Gendhotwukir

cerpen Prasangka
Nabiha Shahab

ceritanet©listonpsiregar2000