ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 140
rabu 180707

cerpen Pada Sebuah Masjid
Imron Supriyadi

Ini kali pertama bagi Ahmad Zaki, yang akrab dipanggil Zaki menjadi Ketua Pengurus masjid. Usia 33 tahun, bagi banyak kalangan masih teralu muda untuk duduk sebagai ketua. Tapi apa boleh dikata, pada Hari Senin 17 Oktober 2005 warga kompleks Payahangan Tanjung Enim Sumatera Selatan,  secara demokratis memilih Zaki sebagai orang nomor satu di jajaran pengurus Masjid Al-Hikam.

Mungkin karena Zaki seorang sarjana agama, atau memang karena Zaki dinilai mampu menjadi pemimpin masjid, sehingga malam itu ia terpilih. Secara menejerial dan administratif, Zaki tidak terlalu nervous untuk memimpin sebuah Masjid. Sebab, dengan latarbelakang pengalaman organisasi di Palembang, Zaki tidak akan terlalu sulit untuk melakukan dinamisasi di sebuah masjid.

Dalam cacatan biodata yang pernah kubaca, jauh sebelum Zaki menjadi Ketua Pengurus Masjid, putra tunggal dari Abdul Salam dan Alfasanah ini, sempat menjadi ketua cabang pada sebuah partai politik yang berazas nasionalis Bung Karno di Palembang. Di kampus, Zaki juga pernah menjadi ketua umum salah satu organisasi mahasiswa dan lembaga studi kebudayaan. Dalam organisasi gerakan, Zaki adalah salah satu dekalarator berdirinya Serikat Becak Palembang (SBP), Lembaga Pemantau Korupsi Sumsel (South Sumatera Corroption Watch-SSCW), Majelis Seniman Sumsel (MSS), dan pernah aktif di Jaringan Advokasi Masyarakat Urban (JAMUR), yang konsen melakukan pembelaan terhadap kaum urban, seperti tukang becak, pedagang kakilima, ojek dan beberapa komunitas lainnya.

Terakhir, sebelum kemuian ia hijrah ke Tanjung Enim, Zaki tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI), salah satu organisasi wartawan Indonesia, yang di masa Soeharto sebagai lembaga terlarang, karena dituduh organisasi yang ”beraliran kiri”. Dengan latarbelakang pengalaman di organisasi itulah, Zaki tidak banyak menemui kesulitan dalam mengelola Masjid Al-Hikam.

”Jangankan hanya masjid, sebuah partai politik pun pernah aku pimpin. Jadi aku tidak terlalu sulitlah untuk mengatur tatanan adminsitrasi dan menjemen di masjid”, tTukas Zaki pada saya suatu ketika.

Memasuki minggu ketiga, setelah pengurus masjid terbentuk, Zaki kemudian mengakomodasi kelompok remaja Kompleks Payahangan Tanjung Enim Sumsel, untuk membentuk remaja masjid.  Sebuah kerja yang cukup menyita waktu, pikiran dan tenaga. Soalnya sebagaimana remaja pada umumnya, iInex, ganja, minuman keras, berjudi dan perilaku diluar jalur agama hampir menjadi kebiasaan yang sudah mentradisi secara turun temurun di Kompleks Payahangan. Sehingga pembentukan remaja masjid baru terbentuk, setelah tiga bulan sebelumnya, Zaki melakukan investigasi terhadap karakter kalangan muda dan masyarakat setempat, sebagaimana ketika Zaki masih aktif menjadi wartawan.

Pertemuan pertama sukses. Sedikitnya ada 60 kelompok remaja yang hadir dalam pembentukan remaja masjid. Pada malam itu pula, Zaki melakukan ”ceramah” ideologi kepada kalangan remaja.

”Masjid ini, bukan hanya milik orang-orang yang rajin beribadah. Tetapi, kalian semua, remaja yang hari ini masih mabuk, masih suka ngisap ganja, juga punya hak masuk masjid. Jadi tidak perlu takut masuk masjid. Tetapi, saya hanya ingin menyarankan,  yang harus dibawa ke masjid ini adalah niat baik. Tidak lain. Dan saya yakin, kalian semua punya niat baik. Terbukti, hari ini, kita dapat bertemu. Berkumpul, untuk secara bersama menyatukan niat baik.”

Menghadapi kalangan remaja yang putus sekolah, Zaki juga membangkitkan semangat, agar diantara person remaja tidak merasa lebih dari yang lain;

”Kita disini semua sama. Yang sempat kuliah, yang putus sekolah, atau bahkan yang tidak bisa sekolah sekalipun, punya hak sama untuk melakukan kebaikan di majelis ini. Jadi yang kuliah, yang sarjana jangan merasa  lebih. Bagi yang  hanya tamat SMA, atau bahkan hanya tamat SMP, dan yang tidak sekolah, tidak perlu berkecil hati. Semua kita punya hak yang sama terhadap kehidupan ini. Sorga juga bukan hanya milik orang baik. Tapi juga milik preman, milik bajingan tengik, apalagi pemuda seperti kita, yang sedang menyatukan niat baik.”

Tepat 1 Muharram, Zaki bersama remaja masjid yang mayoritas masih menenggak minuman keras, menggelar peringatan tahun baru Islam. Acara malam itu oleh Zaki dibuat agak berbeda dengan acara di beberapa masjid sekitar yang cenderung monoton, ceramah dan doa, kemudian pulang. Sementara di Masjid Al-Hikam, Zaki mengemas peringatan 1 Muharram dengan berbagai acara. Sejak dari baca puisi, vokal group, nasyid sampai pentas teater.

Sebuah kemasan acara yang sebelumnya tidak pernah terjadi di Tanjung Enim. Apalagi pentas teater. Mengenal istilah teater saja baru pada malam itu. Wajar jika kemudian “ke-anehan” ini menjadi bahan perbincangan di wilayah kecamatan Tanjung Enim. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Bahkan dari internal pengurus masjid Al-Hikam sendiri juga ada yang merasa keberatan dengan kemasan acara malam  itu.

Akibat pro dan kontra inilah, Zaki juga sempat banyak mendapat teror, melalui SMS;

"Hei Zaki, wong baru di Tanjung Enim! Kamu tu sarjana agama, yang seharusnya ngerti dengan fungsi masjid. Ngapo budak-budak remaja masjid tu jadi diajak nyannyi-nyanyi bae. Apo kau nak njadike masjid ini berubah jadi gereja?!”

”Zaki, jangan sembarang saja mengelola acara di masjid seperti tadi malam. Saya khawatir, cara anda mengemas acara itu, justeru akan menggeser nilai-nilai Islam.”

“Selamat ya Zaki! Acaramu bagus. Cukup fenomenal. Aku akan ajak remaja masjid di tempatku untuk bisa seperti remaja masjid yang kalian punya. Bravo!”

Kali ini, Zaki benar-benar tidak menduga. Ancaman, teror dan hujatan ini, sama sekali jauh dari bayangan sebelumnya. Tantangan memimpin sebuah masjid, jauh lebih berat ketimbang memimpin sebuah partai politik  dan organisasi gerakan.

”Gilo nian oi! Ternyata masyarakat masih sangat konservatif dan tardisional. Tapi asyik juga memimpin masjid. Kalau tida ada pro-kontra seperti ini tidak ada dinamika. Kadang ada yang buat lucu. Ada yang buat kesal, ada juga yang buat senang. Ini sama sekali jauh dari bayangan," tutur Zaki pada Salimun teman akrabnya.

Belum sempat menyelesaikan persoalan peringatan 1 Muharram, Zaki kembali dihadapkan pada hujatan lain. Selain SMS, ada sebagian warga setempat yang kesal dengan pola kerja Zaki, yang memberikan kebebasan kepada setiap remaja masjid untuk masuk ke dalam masjid, apakah dalam keadaan mabuk atau dalam kedaan sadar. Dari kondisi seperti inilah, para pengurus masjid Al-Hikam kemudian minta klarifikasi terhadap berbagai persoalan yang dianggap sebagai warga sebuah penyimpangan.

Sebagai mantan aktifis pergerakan, menghadapi massa dan ancaman sekalipun, bagi Zaki bukan hal baru. Apalagi ketika masih aktif sebagai wartawan, Zaki juga sempat mendapat ancaman pembunuhan dari kawanan preman akibat pemberitaan soal perjudian di Palembang. Tentang sikap Zaki terhadap “pengharaman amplop” bagi wartawan, juga sempat mendapat ancaman dari sekelompok wartawan amplop. Bahkan ada yang kemudian mengancam secara fisik.

Tetapi menghadapi warga dalam menilai fungsi  sebuah masjid, sepertinya menjadi tantangan tersendiri bagi Zaki. Sebab, salah memberikan penjelasan dalam soal agama, maka akan salah pula orang menerima. Maka, dalam banyak hal, Zaki memang agak berhati-hati dalam memberikan paparan, apalagi yang menyangkut hukum agama. Namun, Zaki tetap saja Zaki. Pemikirannya yang moderat, tetap saja mewarnai argumentasinya di hadapan jamaah.

“Saudara-saudara, saya sudah mendengar berbagai kabar miring tentang pengelolaan masjid ini. Tetapi, ini sesuatu yang menguntungkan bagi kondisi Islam di kecamatan ini...”
”Bukan menguntungkan Pak, malah merendahkan citra Islam, Pak”, sergah Wandi yang sejak awal tidak setuju dengan Zaki.
”Sebentar, Pak. Saya belum selesai bicara. Berikan saya waktu sebentar, sehingga kita dalam memahami fungsi masjid ini tidak akan terpenggela-penggal.”
”Sudah langsung saja, Pak”, sergah yang lain.
”Baik. Sepertinya saudara-saudara memilih celetak celetuk dari belakang. Sekarang saya buka dialog saja”.

Sesaat, Salimun, sebagai moderator mengulas sedikit penjelasan Zaki. Tetapi belum juga selesai, dari arah belakang, Wandi spontan tunjuk tangan. Ia seakan tidak tahan dengan dadanya yang penuh.

”Pak, Zaki. Yang saya tahu, masjid itu ya tempat beribadah, seperti shalat wajib dan sunnah, bukan untuk nyanyi-nyanyi seperti yang anda lakukan kemarin malam. Dalam soal ini saya ingin Pak Zaki dapat menjelaskan. Kedua, tentang musik. Selama dalam perjalanan saya hidup 40 tahun, belum pernah saya jumpai ada tontonan di masjid. Tapi kenapa justeru di masjid yang kita hormati ini, malah ada musik-musikan. Apa nanti masjid kita ini tidak berubah menjadi gereja?! Betul tidak?!”

Beberapa orang ada yang menyahuti. Tapi sebagian lain tak menggubris. Entah karena apa, sebagian jamaah terlihat kurang respek dengan gaya dan style Wandi yang rada-rada angkuh.

Zaki tersenyum.

”Pak Wandi, silakan minum air putih dulu supaya suasana menjadi dingin.”

Spontan saja jamaah sempat tertawa sejenak dengan kelakar Zaki. Dan Zaki meneruskan.

”Zaman Rasul, masjid bukan hanya sekedar berfungsi ritual, tetapi lebih dari itu, masjid juga berfungsi sosial dan politik. Rasul menyusun strategi perang di masjid. Rasul melakukan pemilihan khalifah, atau presiden sekarang juga di dalam masjid. Jadi kita tidak perlu takut dengan dosa, hanya akibat kita mengelola masjid agak lain ketimbang yang masjid di luar sana, karena Rasul juga mengajarkan lebih dari itu”.
”Tapi masjid kita kemudian dinilai negatif, Pak”. sergah lainnya.
”Kenapa itu muncul? Karena pemahaman sebagian masyarakat kita, masjid itu adalah suatu tempat yang suci, dan di dalamnya tidak boleh dilakukan acara lain kecuali hanya shalat, dan peringatan hari-hari besar Islam. Sementara, diskusi remaja masjid, kajian organisasi, seminar tentang kemanusiaan, kemudian dianggap bukan kegiatan agama."

Semua diam, mencerna atau mendukung.

"Ini sebagai akibat dari cara pandang kita terhadap masjid hanya dengan pandagan satu arah, yaitu dengan kacamata kuda. Akibatnya penilaian kita ya terbatas pada masjid di Tanjung Enim. Coba bandingkan dengan masjid-masjid lain di luar kota, yang jauh lebih maju dari kota ini. Pasti mata dan cara pandang kita akan lebih terbuka, termasuk bagaimana kita memahami makna dan esensi masjid itu sendiri.”
”Tapi ini bisa merusak citra masjid kita, Pak. Masjid lain kan biasa-biasa saja.”
”Ya, ini sebuah risiko. Justeru saya bersyukur, ketika masjid kita menjadi bahan perbincangan, baik positif dan negatif. Sebab, awal mula seperti inilah yang kemudian merangsang orang kemudian untuk berpikir atau mencari sumber-sumber lain, untuk membandingkan apa yang kita lakukan dan tidak dilakukan oleh masjid lain. Ini biasa, Pak. Jadi tidak perlu kecil hati. Mendorong orang lain untuk berpikir itu kan pahala, pak.”
”Termasuk remaja masjid yang mabuk masuk masjid itu juga dapat mengundang pahala, begitu?” serang yang lain.
”Wah, belum selesai yang satu, sudah ada persoalan lagi yang timbul. Tidak apa-apa. Kita mengalir saja”. Kata Zaki tenang.
”Tentang remaja mabuk yang masuk masjid. Begini, Pak. Saya tanya kepada Bapak dan ibu-ibu. Jika salah satu putra Bapak dan Ibu, ada yang mabuk akibat minuman keras, kira-kira memilih mereka kemudian tidur di dalam masjid atau mereka tidur di pinggir jalan?”

Semua diam. Para jamaah saling pandang.

”Tapi  bagi orang mabuk kan dilarang masuk masjid, Pak!?”.
”Kalau mabuk kendaraan tidak apa-apa. Yang tidak boleh itu minum-minuman keras di dalam masjid. Tapi kalau hanya sekedar tidur di dalam masjid ya tidak apa-apa. Kalau orang mabuk tidur di dalam masjid, berarti dekat dengan rumah Tuhan. Kemunginan dapat hidayah itu besar. Tetapi kalau tidur di jalan, bisa –bisa diangkat warga. Jangan kita, Kambing saja,  kalau hujan deras banyak juga yang berteduh di teras masjid, apalagi manusia?”

Sebagian tertawa. Sebagian bersungut-sungut.

“Lantas bagaimana dengan musik, Pak?” Wandi seperti tak sabar lagi.
”Pak Wandi, menurut anda, kira-kira alat musik seperti gitar, organ dan rebana itu punya agama atau tidak?”

Semua diam lagi, mendukung atau karena memang tidak tahu jawabannya.

”Sama halnya dengan tikar yang sekarang kita duduki. Tikar ini, Pak, milik semua agama. Bahkan kalau mau dibuat lelucon, tikar,  alat musik apapun juga tidak punya kelamin”.

”Geeeer...”  sebagian jamaah tertawa, sebagian lain makin panas.

”Tapi alat musik itu haram pak hukumnya masuk masjid”.
”Kalau  gitar dan orgennya dibeli dari hasil merampok duit rakyat ya haram”.
”Ada yang mau beri tanggapan?”,  Zaki memancing jamaah untuk berkomentar.

Aku yang sedari tadi sudah menahan emosi untuk ikut berkomentar, akhirnya angkat bicara.

”Bagi saya, alat musik apapun jenisnya, tidak bisa dihalal-haramkan. Demikian juga karya seni. Kalau sebuah karya seni sudah dibatasi dengan hukum halal-haram, justru dapat menjebak para seniman  untuk berkarya. Makanya, pementasan teater, puisi dan sejenisnya itu sah-sah saja ditampilkan di dalam masjid. Masjid kan menjadi ruang untuk menggali kebaikan. Karya seni juga bagian dari media untuk memberikan nilai-nilai kebaaikan. Jadi tidak ada salahnya kalau ada pementasan musikalisasi puisi dan teater di dalam masjid”.
”Tapi apa itu tidak menimbulkan kesan masjid kita ini seperti gereja?” sela yang lain.

Pada posisi seperti sekarang, Zaki memang butuh pembela. Maka aku juga angkat bicara, supaya keadaan menjadi seimbang.

”Kalau kesan ya boleh-boleh saja. Itu kan pendapat”, Zaki terpaksa memotong pembicaraanku. Sebab, jemaah malam itu makin terpancing dengan pola pikir yang mungkin mereka anggap agak liberal dan sekuler.

”Yang perlu digarisbawahi adalah, gitar, organ, rebana itu milik siapa saja. Milik agama apa saja, dan milik orang mana saja. Ketika alat musik itu di bawa ke vihara maka ia akan menjadi milik orang Budha. Yang keluar kemudian adalah pesan-pesan agama Budha. Kalau dibawa ke gereja, maka ia akan menjadi milik kaum Kristiani. Dan dengan sendirinya, pesan-pesan yang didengungkan juga pesan dari kaum Kristiani. Pun demikian halnya, ketika alat musik ini dipakai remaja masjid, maka akan menjadi milik remaja masjid, dan pesan-pesannya ya suara dari masjid”.
”Tetapi, dalam hadist rasul, alat musik yang diperbolehkan hanya dum, atau alat sejenis rebana tanpa ada ornamen di pinggirnya,” tukas Sari, salah satu aktifis Islam di sebuah partai politik yang berazaskan Islam.
”Hadist Rasul kan tidak serta merta diterjemahkan saklek dan tekstual. Semua butuh penafsiran secara kontekstual. Alat musik itu kan produk kebudayaan, yang setiap saat dapat saja berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Jadi termasuk ”dum” yang kata sampean itu, ya perlu dikaji ulang. Kalau Rasul itu lahir di Indonesia, mungkin bukan pakai ”dum”, tetapi pakai dram dan gitar, apalagi Rasul kan sudah mengemukakan, persoalan dunia, kalian lebih tahu”.

”Tapi kita seharusnya taat pada sunnah rasul, Pak!. Sebab rasul itu tauladan kita, maka semua yang dilakukan oleh Rasul harus diiikuti,”  celutuk yang lain.
”Saya tidak sedang mengajak ingkar sunnah. Saya setuju jika kita semua sepakat untuk mengikuti sunnah Rasul. Tapi saya tanya pada Bapak. Sampai saat ini, berapa isteri Bapak?”
”Ya satu. Masak double,” jawabnya spontan.
”Bapak ke masjid ini naik kendaraan?”
”Saya pakai sepeda motor”.
”Kalau Bapak ingin total mengikuti sunnah Rasul, saya sarankan Bapak menikah lagi,  supaya isterinya lebih dari satu sebagaimana Rasul. Dan soal kendaraan, silakan bapak besok membeli onta, karena dalam sejarah, Rasul tidak pernah naik sepeda motor, apalagi krediit ke dealer, sebagimana Bapak, misalnya...”.
”Eh, Zaki!” sekali ini Wandi berdiri sambil tolak pinggang. Tangannya menunjuk arah muka Zaki.

”Kamu jangan mempermainkan agama, Ki. Saya memang tidak rajin ke masjid, tetapi kalau kamu mempermainkan agama di masjid ini, maka kamu harus berhadapan dengan saya”.

Jamaah tiba-tiba tegang. Tetapi sebagian warga yang sudah mengetahui karakter Wandi, hanya berbisik sambil saling mellirik saja. Seolah mereka membaca apa yang terbersit dalam benak Wandi. Dia adalah salah satu orang yang berambisi menjadi ketua pengurus masjid, sejak masjid masih berbentuk langgar. Tetapi, karena tidak satu pun warga mencalonkan dirinya, akhirnya Wandi tersisih. Termasuk kalah pamor dengan Zaki.

”Maaf, Pak Wandi. Silakan duduk kembali,” moderator menenangkan suasana.

Wandi kemudian duduk, sambil bersungut-sungut.

Pro dan kontra terhadap kegiatan remaja masjid yang dikomandoi pengurus masjid Al-Hikam makin menjadi-jadi. Tetapi, sebagian lain mendukung. Sebab dengan berkumpulnya remaja, masjid makin hari makin ramai. Bahkan, kalangan muda yang sebelumnya mabuk di pinggir jalan, kian hari kian merangsek ke masjid, walau mereka belum bersedia melakukan shalat. Sesekali mereka hanya ikut duduk-duduk sambil membantu pekerjaan yang mereka bisa. Tetapi, lagi-lagi. Persoalan ini pun juga sempat diperdebatkan.

”Biarkan saja pak. Kalau masjid ini sudah tidak menerima kalangan muda yang punya berkeinginan untuk baik, lantas lembaga mana lagi yang akan menampung?” jawab Zaki suatu ketika, menangkal perdebatan itu.
”Maksud Pak Zaki?”
”Kalau keluarga sudah mengusir, sekolah sudah mengeluarkan mereka,  lantas kita sebagai pengelola masjid juga ikut-ikutan menghujat mereka, lalu kemana lagi mereka akan bernaung? Apa merekaa harus mengadu ke hutan?! Kalau mereka kita larang-larang dekat dengan masjid, kita usir dari dalam masjid, ini akan berakibat fatal. Bisa-bisa mereka gelap mata, Pak. Ini yang saya katakan, masjid juga harus berfungsi sosial, menjadi pelindung remaja broken home, menjadi pendamping bagi masyarakat yang terkena masalah dan lain sebagainya,” Zaki menjelaskan secara detil sambil menuju rumah kontrakannya.
”Tentang beberapa masyarakat yang menghujat kegiatan bapak, bagaimana?”
”Bagi saya, lebih baik kita mendapat hujatan karena kita melakukan kebaikan, dari pada kita dipermalukan warga, lantaran kita mencuri sandal orang lain.”

Itulah salah satu doktrin Zaki kepada sebagian masyarakat dan kepada kalangan remaja masjid. Dengan dorongan dan ”petuah” ideologi perlawanan inilah, kalangan remaja masjid Al-Hikam terus melakukan kegiatan sebagaimana yang digerakkan Zaki. Persoalan beberapa pengurus masjid yang tidak mendukung, buat Zaki bukan menjadi hambatan.

Sebab ada salah satu oknum, yang ketika diusulkan menjadi ketua menolak, tetapi di dalam struktur malah membuat masalah. Ini sama saja, seseorang yang diminta menjadi sopir tudak mau, tetapi menjadi kernet malah memecahkan kaca. Karena Zaki tidak ingin direpotken oleh persoalan yang tidak cerdas itu, Zaki jalan terus.

Malam kian kelam. Suara jangkrik terdengar samar. Sebagian warga juga sudah menuju pembaringan. Sebgain warga yanag biasa main gaple di gardu juga sepi. Tinggal beberapa bungkus makanan kecil saja yang tersisa.

Malam itu Zaki benar-benar lelah. Ia baringkan tubuhnya. Isteri dan anak Zaki sudah dulu tidur. Sesaat ia bangun. Kegundahan pikirannya tak dapat menjadi pengantar tidur. Laptop di kamarnya ia buka. Malam itu, Zaki menyiapkan sebuah tulisan tentang 'Revolusi Masjid Sebuah Keharusan' yang siap diterbitkan di buleti masjid yang ia kelola. Sepertiga malam, Zaki baru menuntaskan tulisannya.

Adzan Subuh berkumandang. Terasa sangat sebentar perjalanan waktu dari malam hingga pagi. Sementara sampai fajar tiba, Zaki belum juga tidur. Padahal pukul 09.00 WIB, Zaki harus menjadi pembicara di seminar politik yang diselenggarakan oleh sebuah partai politik.

Pagi itu, Zaki terlelap. Tetapi, besok atau lusa, ia akan kembali berhadapan dengan pro dan kontra pengelolaan masjid yang dianggap aneh oleh warga Payahangan.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak ia hanya
Hery Sudiyono

memoar Duri dan Padi
Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000