ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 140
rabu 180707

memoar Duri dan Padi
Presiden Hayat

“Happy birthday bro, you will need viagra soon! he..he.he, “ ucapan selamat yang sedikit berbeda menyeruak diantara kerumunan kata-kata “selamat ulang tahun, semoga panjang umur.“ Canda, tawa, senyum, juga sedang berdesak-desakan di meja yang sudah direserved untukku.

Tahun-tahun belakangan ini ulang tahunku memang di rayakan dengan makan-makan.

Tiba-tiba, kejengkelan menerobos masuk. Kulihat ada sisa nasi yang lumayan banyak di piring temanku.      

 “Sedapat mungkin, habiskan makanan yang sudah kamu pesan,“ aku menasehati lawan makan malamku.

Dia sedikit terperanjat dan tersenyum aneh. Nyengir, mungkin kata yang lebih tepat.

“Banyak orang yang susah cari makan! “ kataku. 
“Mmm…maaf...kenyang...“
“Mubazir khan jadinya. Coba bayangkan jika separuh saja dari 200 juta penduduk Indonesia setiap kali makan menyisakan 10 butir nasi.  Kalau sehari 3 kali makan, berarti ada 3 milyar butir nasi akan jatuh ke tempat sampah setiap hari. “
“E..ee.“

Kelihatannya dia tak menduga aku akan bilang seperti itu. Belum sempat dia menyahut dan membela diri, aku sudah nyolot lagi. 

“Eit, haruskah segalanya kita perdebatkan?“
“E..ee“
“Berbuat sesuatu yang mubazir bisa kita kurangi. Siapapun bisa melakukannya. Bukan sesuatu yang sulit menghindari membuang-buang makanan, tidak perlu kursus juga untuk bisa membuang sampah pada tempatnya. Banyak yang kita bisa perbuat untuk kebaikan, mematuhi rambu lalu lintas meskipun sedang tidak ada polisi, Tidak merokok sembarangan, tidak boros dan selalu bijaksana menggunakan listrik dan air, tepat waktu jika berjanji, tertib mengantri, menyingkirkan duri atau batu dijalan dan sebagainya, dan seterusnya. Tidak sulit kan?“
“E..eh“
“Aku tahu, mungkin itu kasta terendah dalam derajat keimanan, tapi melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk, biasanya akan menuai hasil yang buruk pula. Mungkin ganjarannya tidak pada saat itu, tapi haruskah kita berharap memanen padi, jika kita menanam duri? Sikap sembrono dalam berlalu lintas bisa merubah kita jadi malaikat pencabut nyawa pengendara yang lain. Satu kebiasaan buruk seorang polisi yang mau menerima “uang damai” akan memicu orang lebih suka melanggar daripada mengikuti aturan."

Sedetik aku terdiam. 'Kok sampai ke polisi,' pikirku, tapi aku tak terhentikan lagi.

"Wibawa polisi, bahkan hukum bisa runtuh-luluh-lantak dan hukum tidak lagi dipercayai. Seratus polisi yang semuanya berwibawa lebih efektif menegakkan aturan daripada sejuta polisi yang gampang disuap. Satu puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa membakar seluruh hutan, boros listrik pangkal oglangan, boros duit pangkal kere, disiplin dan kerja keras harus dilatih, pasti kita sudah tahu semuanya, tapi begitu sering kita mengabaikannya, malah, begitu sering kita balik membenci jika dinasehati, menolak dan tidak suka digurui, mass… “
“E..eh “
“Masa depan seseorang, suatu keluarga, suatu bangsa, biasanya ditentukan oleh kebiasaan-kebiasanya hari ini. Menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, adalah tabungan dan investasi yang berharga. Pastilah tidak mudah mengubah suatu kebiasaan buruk yang sudah kita lakukan puluhan tahun, tapi semuanya bisa kita lakukan kalau kita mau. Kita berpotensi menjadi bangsa yang besar kalau kita cuci otak kita, kita ubah paradigma berpikir kita, kita ubah kebiasaan-kebiasaan buruk kita, kita ..” bakat bawelku seperti mendapat jalan.

Dan aku belum melihat ujung jalan itu.

“Maaf banget, aku sudah nggak tahan lagi, aku mau ke toilet dulu“ katanya sambil buru-buru pergi.

Aku terdiam, rasa bersalah muncul. Pidato klise dan nasehat usangku pastilah merusak suasana malam ini. Aku yakin telah bereaksi berlebihan dan akan minta maaf begitu dia kembali dari toilet.

Tetapi aku akan tetap saja mengurangi dan menghilangkan kebiasaan burukku yang suka jadi penjilat.

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak ia hanya
Hery Sudiyono

cerpen Pada Sebuah Masjid
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000