ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 13, Jumat 1 Juni 2001

 

novel Dokter Zhivago XIII
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Dua hari kemudian pulanglah Tiverzin, lesu karena kurang tidur, kedinginan sampai ke tulang. Musim yang luar biasa dinginnya pada waktu itu telah mulai semalam sebelumnya, padahal Tiverzin tak bawa pakaian panas. Gimazetdin si juru kunci menjemputnya di pintu gerbang.
"Terimakasih, tuan Tiverzin," gagapnya dalam Bahasa Rusia yang berantakan. "Tuan tak biarkan Yusupka tersiksa. Saya akan selalu berdoa untuk tuan."
"Kamu gila, Gimatzedin, siapa kamu panggil dengan Tuan?" buanglah kata itu dan lekas ucapkan apa yang hendak kau katakan; kau lihat hawa amat dingin."
"Kamu tak usah kedinginan. Kamu akan segera hangat, Kuprian Savelich. Saya dan ibumu Marfa Gavrilovna kemarin mengambil segudang penuh kayu dari stasiun barang-barang --pohon 'berk' semua-- kayu bagus, kering.
"Terimakasih, Gimazetdin. Kalau ada lagi yang mau kau katakan, lekaslah. Aku kebekuan."

"Aku ingin mengatakan, jangan menginap di rumah, Savlich. Sembunyilah. Polisi tadi kemari, menanyakan siapa-siapa yang datang ke rumah. Tak ada yang datang, kataku, orang-orang kereta api yang datang, bukan orang asing, sungguh mati."
Tiverzin belum kawin; ia tinggal bersama ibunya dan adiknya lelaki yang sudah beristri. Rumah itu milik Gereja Tritunggal Kudus yang terdekat. Antara penyewanya ada beberapa pendeta dan dua arteli* penjual keliling --sekumpulan tukang daging dan sekumpulkan tukng sayur-- tapi kebanyakan mereka adalah pegawai kecil jawatan kereta api, trayek Moskow-Brest.

Saudara Tiverzin ikut perang lawan Jepang dan luka-luka. Sekarang ia dirawat dalam rumah sakit tentara di Krasnoyarsk dan istrinya serta dua anak perempuan pergi menjemputnya untuk membawa pulang (keluarga Tiverzin turun-temurun menjabat buruh kereta-api, mereka berdarah pengembara dan sudah bepergian di seluruh Rusia dengan karcis cuma-cuma). Rumah petak itu lengang dan tak berpenghuni, kecuali Tiverzin serta ibunya.

Kediaman mereka di loteng kedua. Di panggung tangga di luar ada ember yang selalu diisi oleh tukang air. Tiba di situ, Tiverzin melihat bahwa tutup ember tergeser ke pinggir; sebuah mangkuk timah berdiri di permukaan air beku. "Prov tentu di sini tadi." pikirnya dengan menyeringai. "Kuat benar ia minum, ususnya tentu terbakar." Prof adalah Prov Afanasyevich Sokolov, pembaca psalma di gereja, kerabat ibu Tiverzin.

Tiverzin memungut mangkuk itu dari es, lalu menarik hulu genta pintu. Bau uap panas dari masakan, seperti yang biasa tercium di tiap rumah tangga, berarak menyambutnya.
"Hallo, ibu, apimu hebat; nyaman dan hangat di sini."

Ibunya merebahkan diri ke pelukannya dan terisak-isak. Ia membelai kepalanya dan sejurus kemudian mengelakkannya pelan-pelan.
"Siapa tak berani, tak menang, 'bu," ujarnya lembut. "Kereta api berhenti dari Moskow sampai Warsawa."
Aku tahu, itu sebabnya aku menangis. Kau dikejar, Kuprinka, kau harus enyah."
"Teman ibu yang manis waktu muda, Pyotr hampir menghancurkan kepalaku!" Ia bermaksud membuatnya ketawa, tapi dengan sungguh-sungguh ibunya berkata : "Menertawakan dia adalah dosa, Kuprinka. Dia patut dikasihani, orang malang itu."
"Antipov ditawan. Orang datang waktu malam, menggeledah rumahnya, membongkar segala-galanya dan membawanya pagi ini. Sedangkan istrinya Darya sakit tipus di rumah sakit. Dan Pasha anaknya yang duduk di sekolah menengah, sendirian di rumah bersama bibinya yang tuli. Pun mereka akan diusir. Kupikir, anak itu baikalah tinggal di sini saja. Prov ada perlu apa?"
"Bagaimana kau tahu dia di sini tadi?"
"Kulihat ember tak tertutup dan mangkuk itu di atas es --tentu si Prov menelan air, kubatin."
"Pikiranmu tajam, Kuprinka. Memang dia Prov --Prov Afanasyevich. Ia pinjam balok-balok sedikit --kuberi itu. Tapi aku ceriwis saja, wah tolol! Lupa sama sekali --kabar yang dibawa Prov itu. Coba pikir, Kuprinka! --Tsar telah menanda-tangani manifes dan semuanya bakal terbalik-- tiap orang akan diperlakukan adil, petani dapat tanah dan kita semua disamakan dengan kaum ningrat! Betul sudah ditanda-tangani, kata Prov, hanya belum diumumkan. Sidang gereja mengirim sesuatu untuk dimasukkan dalam ibadah, pujian pada Tuhan atau doa untuk dimasukkan dalam ibadah, pujian pada Tuhan atau doa untuk Tsar; ia jelaskan tapi aku lupa."
***
*. arteli : kumpulan buruh atau pedagang kecil yang bekerja bersama di bawah seorang mandor dan biasanya menyewa rumah bersama-sama


ceritanet
©listonpsiregar2000