ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 13, Jumat 1 Juni 2001
esei Pelajaran Hugo Chavez
Liston Siregar
Situasinya tipikal negara pra-demokrasi yang sebenarnya kaya, atau antara lain seperti Indonesia di jaman Orde Baru. Semua pengusaha yang berhasil pasti berbau KKN, tukang suap, dan pembungkam pekerja, lantas semua pejabat negara di segala tingkatan maupun politisi dari semua partai pasti korup. Ketidak-percayaan berlaku timbal balik. Kelas menengah selalu dalam keadaan ketakutan menghadapi ancaman masyarakat kelas bawah, yang dianggap selalu mengintip setiap kesempatan apapun. Yang meredam, atau mengekalkan situasi itu --paling tidak secara semu-- adalah pihak militer, dan sikap saling tidak percaya tersebut.
Tak jelas bagaimana caranya, juga darimana, untuk mulai memotong lingkaran setan itu. Di Venezuela mereka sepertinya mencoba lewat seorang mantan pasukan para yang bernama Hugo Chavez. Partai Republik Kelimanya menang mutlak lewat pemilihan umum tahun 1998, setelah dominasi panjang partai kanan Accion Democratica dan Social Christian Party.
selengkapnya

laporan Djakarta, OK, OK Saja
Lenah Susianty
Djakarta. Ouupps, majalah baru (newish/kebaru-baruan) macam apa pula ini? Namanya tidak mencerminkan kebaruan ; D-j-a-k-a-r-t-a. Jakarta, ibukota Republik Indonesia, dalam bentuk majalah sengaja dieja dengan ejaan lama (orde lama, masa Soekarno). Entah maksudnya untuk menggoda Ibu Wakil Presiden Megawati (barangkali?) atau sekedar ungkapan kegenitan, seperti para remaja yang walau lahir sesudah EYD (Ejaan yang Disempurnakan) diberlakukan, tetap entah belajar darimana berani-beraninya menuliskan kesengsaraan ataupun kebahagiaan mereka dengan oe dalam akoe, soekaboemi, soerabaya, soesah, ataupun barang-barang lain yang sebenarnya memakan waktu lebih sedikit jika singkat saja dituliskan dengan huruf u, bukan oe. Mungkin niat untuk tampil beda, atau sekedar nostalgia terhadap masa lalu, atau supaya mudah diingat. Entahlah, lagipula apalah artinya nama.
selengkapnya

komentar Toko Kanan Yang Aman
Sanie B. Kuncoro
Seorang anak, yang tumbuh normal dalam sosialisasi masyarakat Indonesia, hampir pasti dicecoki dengan kaitan langsung antara kebaikan dengan tangan kanan. Kanan adalah patokan paling dasar untuk menilai kewajaran seoran anak dalam berhubungan sosial. Berjabat tangan, menulis, memberikan sesuatu, atau makan. Kita semua --yang berusia sekitar 40-an lebih-- mungkin punya kenangan seorang teman di SD yang secara genetis lahir dengan kekirian namun dipaksa menjadi kanan. Kenapa kanan? Karena bukan kiri. Anak tak pernah tahu tahu mengapa harus kanan, padahal bila dibiasakan dengan pola yang sama pasti kiri juga bisa melakukan hal yang sama, yang tak kalah santun dengan kanan. Tapi ; "gunakan tangan manis, tangan kanan."
Kiri terpojok untuk cebok, buang sampah, ngupil, dan kerja ekstra ganti persneling mobil --sementara kanan bisa nyetir sambil bersantai disandarkan di bibir jendela mobil.
selengkapnya
novel Dokter Zhivago 13
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
Dua hari kemudian pulanglah Tiverzin, lesu karena kurang tidur, kedinginan sampai ke tulang. Musim yang luar biasa dinginnya pada waktu itu telah mulai semalam sebelumnya, padahal Tiverzin tak bawa pakaian panas. Gimazetdin si juru kunci menjemputnya di pintu gerbang.
"Terimakasih, tuan Tiverzin," gagapnya dalam Bahasa Rusia yang berantakan. "Tuan tak biarkan Yusupka tersiksa. Saya akan selalu berdoa untuk tuan." "Kamu gila, Gimatzedin, siapa kamu panggil dengan Tuan?" buanglah kata itu dan lekas ucapkan apa yang hendak kau katakan; kau lihat hawa amat dingin." "Kamu tak usah kedinginan. Kamu akan segera hangat, Kuprian Savelich. Saya dan ibumu Marfa Gavrilovna kemarin mengambil segudang penuh kayu dari stasiun barang-barang --pohon 'berk' semua-- kayu bagus, kering. "Terimakasih, Gimazetdin. Kalau ada lagi yang mau kau katakan, lekaslah. Aku kebekuan." "Aku ingin mengatakan, jangan menginap di rumah, Savlich. Sembunyilah. Polisi tadi kemari, menanyakan siapa-siapa yang datang ke rumah. Tak ada yang datang, kataku, orang-orang kereta api yang datang, bukan orang asing, sungguh mati."
selengkapnya
penulis edisi 13
ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000