ceritanet

situs nir-laba untuk karya tulis

edisi 13, Jumat 1 Juni 2001

esei Pelajaran Hugo Chavez
Liston Siregar

Situasinya tipikal negara pra-demokrasi yang sebenarnya kaya, atau antara lain seperti Indonesia di jaman Orde Baru. Semua pengusaha yang berhasil pasti berbau KKN, tukang suap, dan pembungkam pekerja, lantas semua pejabat negara di segala tingkatan maupun politisi dari semua partai pasti korup. Ketidak-percayaan berlaku timbal balik. Kelas menengah selalu dalam keadaan ketakutan menghadapi ancaman masyarakat kelas bawah, yang dianggap selalu mengintip setiap kesempatan apapun. Yang meredam, atau mengekalkan situasi itu --paling tidak secara semu-- adalah pihak militer, dan sikap saling tidak percaya tersebut.

Tak jelas bagaimana caranya, juga darimana, untuk mulai memotong lingkaran setan itu. Di Venezuela mereka sepertinya mencoba lewat seorang mantan pasukan para yang bernama Hugo Chavez. Partai Republik Kelimanya menang mutlak lewat pemilihan umum tahun 1998, setelah dominasi panjang partai kanan Accion Democratica dan Social Christian Party.

Sejauh ini Chavez sadar sepenuhnya kalau pergantian kepemimpinan maupun partai politik saja tidak cukup. Ia punya gagasan untuk meruntuhkan kekuatan parlemen dengan membentuk Dewan Konstitusi, namun masih harus ditunggu apakah Chavez memang sedang membangun demokrasi atau sekedar menyusun despotisme. Ini memang persoalan klasik dari kepemimpinan kuat yang berkharisma. Dan itulah yang menggantung di Venezuela ; Hugo Chavez.

Para pendukung Hugo Chavez, atau yang dikenal sebagai Chavitas dengan baret merah pasukan para sebagai atribut, berhasil meraih 56 % suara dalam pemilihan umum Desember 1998. Sedang dua partai kanan yang selama 40 tahun terakhir meraih suara sekitar 90 %, hanya kebagian 9 % saat menghadapi Partai Republik Kelima Chavez. Namun lewat koalisi bersama Patria Para Todos, Chavez pada tahun berikutnya berhasil meraih 90 % suara dalam referendum yang mengusulkan pembentukan Dewan Konstitusi, yang mengambil sejumlah kekuasaan dari parlemen, seperti penunjukan hakim, maupun mengesahkan promosi perwira militer. Prinsip Dewan Konstitusi, seperti dalam buku berjudul ABC nya Dewan Konstitusi yang ditulis seorang pengikutnya, Fabian Chacon, adalah memberikan kesempatan kepada rakyat Venezuela untuk ikut campur dalam politik pada setiap kesempatan. Jadi tidak terbatas hanya sekedar lewat sistem parlemen yang harus menunggu lima tahun sekali.

Aksi ini mengundang perlawanan langsung partai oposisi, yang mengerahkan pendukungnya ke jalanan sampai bentrok fisik dengan pendukung Chavez. Belakangan Chavez meredakan laju perubahan politik radikal dengan menekankan pada konsensus nasional. Ia kemudian meminta agar Dewan Konstitusi meninggalkan mekanisme pleno dan lebih banyak bekerja pada tingkatan komisi-komisi, antara lain komisi yang membahas perpanjangan masa jabatan presiden dari lima tahun menjadi enam tahun maupun penunjukan wakil presiden atau perdana menteri yang ditunjuk presiden.

Chavez juga menunda rencana kebijakan ekonominya yang radikal seperti revisi kontrak dengan perusahaan minyak internasional serta penolakan terhadap Dana Moneter Iinternasional IMF sehingga dia akhirnya bersedia menerima swastanisasi. Namun sikap moderat yang ditempuh Chavez ini tidaklah langsung meredakan perhatian dunia. Ia berkunjung ke Irak, bertemu dengan Saddam Hussein, dan menjadi motor utama dalam pengurangan produksi OPEC untuk mengontrol harga minyak.

Revolusioner Bolivarian
Tahun 1982 Kapten Hugo Chavez bersekongkol dengan teman-temannya mendirikan Gerakan Revolusioner Bolivarian. Nama ini diambil dari Simon Bolivar, pejuang revolusi Amerika Latin yang berhasil mengalahkan Spanyol, dan kemudian jadi pahlawan pujaan di beberapa negara Amerika Latin, termasuk Venezuela. Chavez memang pemuja buta Bolivar, dan cikal bakal Gerakan Revolusioner Bolivarian mekar ketika Chavez, dalam sebuah pidato tanpa teks, mengutip Simon Bolivar sekaligus menegaskan ketidak-adilan tetap akan mencengkram Amerika Latin sampai tahun 2000, atau masih sekitar dua belas tahun mendatang dari saat pidatonya. Dua perwira muda lain yang terpukau dengan pidato Chavez sepakat membangun jaringan rahasia.

Sepuluh tahun kemudian, tanggal 4 Februari 1992, Kolonel Hugo Chavez melancarkan kudeta terhadap Presiden Carlos Andres Perez, yang sedang dalam perjalanan pulang dari Swiss. Chavez kemudian bersedia menyerah dengan syarat mendapat kesempatan berpidato di televisi nasional. Dengan baret merah pasukan para, Chavez berpidato dengan semangat menyatakan tanggung-jawabnya atas kudeta tersebut, sebelum masuk penjara dua tahun.

Sejak kecil Chavez Chavez memang selalu menjadi bintang. Orangtuanya berharap dia menjadi pendeta namun hanya mencapai putra altar. Begitupun, katanya, dia tetap bintang putra latar karena selalu membunyikan lonceng gereja dengan indah sehingga setiap orang tahu saatnya Chavez bertugas. Sebagai pelukis pengagum Michelangelo ia meraih penghargaan pada usia 12 tahun, dan sebagai pemain gitar dengan suara yang memukau, Chavez selalu ditunggu-tunggu dalam setiap perayaan. Chavez juga amat berbakat dalam cabang baseball; catcher jagoan.

Militer sebenarnya tidak pernah masuk dalam tujuan hidup Chavez, namun di masanya jalan tercepat menjadi pemain baseball utama adalah bergabung dengan Akademi Militer Barinas. Disitulah ia belajar ilmu politik dan sejarah. Ketika lulus dari akademi militer ia menerima pedang kehormatan dari Presiden Carlos Andres Perez, yang dua puluh tahun kemudian ia kudeta.

Keberhasilan Chaves dalam pemilihan presiden tahun 1998 diadasarkan pada kampanye bahwa ia merupakan salah satu dari rakyat biasa Venezuela dengan melakukan kontak-kontak langsung dengan rakyatnya. Dia secara rutin muncul dengan pidato televisi yang informal dan masih punya program radio khusus yang disebut Hello President untuk menjawab pertanyaan dari rakyatnya. Orang-orang Venezuela kini boleh datang ke istana presiden dan wakau mereka tidak selalu bertemu presiden tapi paling tidak ada salah seorang wakil dari presiden yang menerima.

Pokoknya Revolusi
Bulan Mei 2000 Hugo Chavez menulis surat ke Keuskupan Venezuela. Surat ini merupakan tanggapan atas kritik Monsinyur Baltaraz Porras, Ketua Konperensi Keuskupan Venezulea, karena Gereja Katolik Venezuela mengingatkan agar janganlah kiranya Chavez sampai harus membawa-bawa nama Tuhan dan ajaran injil kedalam jargon-jargon politiknya. Chavez memang ngomong seenaknya dan jika diukur dengan standard normal pidato politik, maka pidatonya mungkin lebih cocok masuk golongan sumpah serapah, caci maki, atau ancam mengancam.

Ia memang sering mengancam "revolusi damai untuk membasmi oligarki yang korup." Pidatonya meneyrang pendeta, pemilik media, politisi oposisi, dan orang-orang kaya. Banyak orang yang menuding dia mengobarkan perang antar kelas. Tapi yang membuat Gereja Katolik Venezuela agak risih adalah ketika Chavez menyatakan "Tuhan bersama dengan revolusi dan siapa yang menentangnya bersama-sama dengan Setan." Makanya keluarlah surat supaya jargon politik tak perlu dikait-kaitkan dengan Tuhan dan Setan.

Chavez membalas kritik itu dengan surat dua puluh halaman yang penuh dengan kutipan ayat-ayat injil, kutipan Paus Paulus VI, dan filsuf politik Rousseau. Intinya, kira-kira, kalau jalan damai revolusi dihambat-hambat maka tidak ada yang bisa menahan revolusi menempuh jalan berdarah. Sampai sekarang praktis darah belum mengalir, namun ekonomi Venezuela juga menajdi tidak lebih baik.

Dan bulan lalu Chavez sempat mengancam akan memberlakukan keadaan darurat. Bukan karena kedudukannya terancam. Kelebihan Chavez, dan sekaligus kelemahannya, adalah dia terlalu kuat dengan dukungan kaum mayoritas miskin Venezuela dan --sejauh ini-- militer Venezuela. Ancaman keadaan darurat ia keluarkan dengan alasan revolusi damai berjalan terlalu lambat dan dia mau mengumpulkan seluruh kekuasaan menyusun Undang-undang ke tangannya sendiri.

Despot Abad 21?
Ada kekuatiran Chavez hanya menunggu waktu untuk mengencangkan kembali program ekonomi dan politiknya yang radikal. Salah satu senjata yang kemungkinan besar ia gunakan untuk mencoba mewujudkan ambisinya adalah Dewan Konstitusi. Jika saja ia berhasil melakukan konsolidasi kekuatan, yang tampaknya amat mungkin, Venezuela secara teoritis akan menempuh kemandirian ekonomi. Namun Chavez adalah seorang pemain taktis yang istimewa yang selalu siap berkompromi pada saat tak mungkin berjalan maju.

Secara gagasan, benak Chavez dipenuhi konsep sebuah negara dengan kedaulatan rakyat sepenuhnya. Rakyatlah yang memegang hak untuk menngeser para pejabat yang korup dan yang melanggar hak asasi manusia, jadi bukan lagi anggota parlemen. Kekuasaan bukan lagi terpusat di ibukota tapi pada tingkat kecamatan. Semua gagagsan yang disambut baik oleh kelas masyarakat bawah dan masyarakat asli Indian, namun dipandang curiga oleh kelas menengah dan kekuatan kapitalistis Barat.

Masalahnya apakah memang Venezuela mampu memotong hubungannya dengan masa lalu. Situasinya tipikal negara demokrasi awal, atau sebutlah Indonesia di jaman Gus Dur, yang mencoba meningkatkan laju demokrasi secara gagasan namun belum berhasil memotong hubungan dengan masa lalu.

Dan masalah lainnya adalah kekuatan Hugo Chavez sendiri. Di tengah tarik ulur saat sekarang ini, tidak ada yakin kemana nanti akhirnya Venezuela akan bergerak maju. Gabriel Garzia Marquez, peraih nobel sastra asal Kolombia, berduaan dengan Chavez dalam suatu penerbangan dari Havana ke Caracas. Ketika pesawat mendarat di Caracas pukul tiga subuh, Marquez --yang dalam novel, cerpen, dan eseinya sering mengisahkan tentang sosok-sosok kekuasaan secara rinci-- mengaku melihat dua Chavez. ''Satunya adalah orang yang selalu beruntung yang mendapat kesempatan untuk menyelamatkan negaranya, dan yang satunya lagi adalah ilusionis yang mungkin saja nanti masuk dalam catatan sejarah sebagai seorang despot.''
***

                                 
ceritanet