edisi 13, Jumat 1 Juni 2001
ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis
komentar Toko Kanan Yang Aman
Sanie B. Kuncoro
Seorang anak, yang tumbuh normal dalam sosialisasi masyarakat Indonesia, hampir pasti dicecoki dengan kaitan langsung antara kebaikan dengan tangan kanan. Kanan adalah patokan paling dasar untuk menilai kewajaran seoran anak dalam berhubungan sosial. Berjabat tangan, menulis, memberikan sesuatu, atau makan. Kita semua --yang berusia sekitar 40-an lebih-- mungkin punya kenangan seorang teman di SD yang secara genetis lahir dengan kekirian namun dipaksa menjadi kanan. Kenapa kanan? Karena bukan kiri. Anak tak pernah tahu tahu mengapa harus kanan, padahal bila dibiasakan dengan pola yang sama pasti kiri juga bisa melakukan hal yang sama, yang tak kalah santun dengan kanan. Tapi ; "gunakan tangan manis, tangan kanan."Kiri terpojok untuk cebok, buang sampah, ngupil, dan kerja ekstra ganti persneling mobil --sementara kanan bisa nyetir sambil bersantai disandarkan di bibir jendela mobil. Kalaulah si anak lebih cenderung dengan kekiriannya, upaya pendidikan dilakukan dengan berbagai upaya. Entah dengan bebat tangan, teguran, pukulan atau apa saja. Ada anak yang kalah,ada yang kuat bertahan walau dapat cap kurang normal, cap kidal.
Di pentas olahraga, kiri sedikit menyusahkan orang normal. Atlit tenis kidal akan membuat atlit kanan normal hjadi harus lebih berhati-hati. Si kidal ternyata jadi punya jurus khusus yang khas. Jadi, di cabnag olahraga, menjadi kidal menjadi kelebihan. Banyak pelatih sepakbola yang mencari pemain sayap yang kidal supaya membuat serangan tim sama kuat dari kiri dan kanan, sementara tim belakang lawan semuanya normal.
Tapi kenapa sampai terjadi pada suatu masa dulu kalau nenek moyang orang Indonesia yakin kanan lebih baik atau lebih santun dari kiri? Baiklah, bila memang harus diterima seperti itu ; kanan lebih baik dari kiri. Tapi soal memilih berpikir kiri atau kanan, tak bisa lagi sekedar diterima begitu saja. Apa salahnya berpikir kiri, membaca kiri, atau berpendapat kiri? Apalagi kalau kiri dan kanan tak lagi setegas jaman Perang Dingin. Kiri mungkin bisa disederhanakan menjadi Marxisme, Leninisme, tapi sumbangan mereka pada peradaban dunia tak kalah dari Adam Smith atau World Bank. Lebih parah lagi, karya Pramoedya Ananta Toer atau Frans Magnis Soeseno ; Kiri atau kanan?
Buku merupakan pernyataan dari sebuah pemikiran yang terbuka dan dibagikan kepada semua orang secara bebas. Tinggal siapa saja yang bersedia membacanya karena buku tidak mau dan tidak bisa memaksa. Memang ada orang yang bisa memaksa ; Mao Tse Tung memaksa rakyatnya membaca Buku Merah. Tapi membaca juga bisa untuk melawan, mengejek isinya. Pendeknya, mau baca silahkan, tidak ya tidak apa-apa. Kalau tidak suka, ya sudah!. Paling buku itu menguning atau dimakan kutu. Kemerdekaan memilihlah yang menentukan nasih sebuah buku ; apakah harus dicetak ulang atau jalan di tempat.
Tapi pembakaran atas nama sweeping, tidakkah sama sebangun dengan penjarahan dan penindasan hak asasi untuk membaca dan menyatakan pendapat ? Melawan kertas dengan api ? Itu jelas bukan sebuah perlawanan, melainkan pembantaian. Dan karenanya tidak akan pernah terjadi interaksi seimbang disitu.
Sesungguhnya sebuah buku selalu terbuka untuk dilawan. Buku selalu bersedia dibedah sampai titik darah lembar terakhir. Dan banyak media menyediakan tempat untuk membedahnya. Kalau toh masih merasa terhadang dengan saringan atau persyaratan suatu media, masih ada media alternatif macam ceritanet, yang nyaris tanpa syarat. Jadi mengapa harus dengan api?
Tapi yang paling menyedihkan, Gramedia sebagai toko buku terbesar di Indonesia, yang sesungguhnya punya kekuatan paling tangguh untuk melawan, ternyata justru terbirit paling awal. Persis tokoh pecundang di banyak film kartun. Seharusnya pemilik toko buku itu --dan seluruh jajaran manajernya-- nonton film You've Got Mail dan belajar dari seorang tokohnya ; seorang perempuan yang cuma punya toko buku kecil Shop Around the Corner tapi amat besar hatinya untuk menyatakan sikapnya. Atau sebaiknya toko buku besar Gramedia yang berjiwa kecil itu mengundurkan diri saja sebagai toko buku. Ganti saja jadi toko khusus alat tulis dan kantor atau toko kelontong. Bila perlu semua dipajang di rak-rak di sebelah kanan. Namanya dilengkapi ; Toko Kanan Gramedia. Aman, tak perlu jadi pecundang.
***
situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanetkirim tulisan
©listonpsiregar2000