ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 139
rabu 040707

cerpen Kliwon
Mukhotib MD

Kliwon benar-benar gelisah. Tiba-tiba saja ia selalu ingat mati. Kematian seakan-akan sudah begitu dekat di pelupuk matanya.

Apalagi semalam ia bermimpi dua gigi gerahamnya copot. Malam sebelumnya ia bermimpi pula dinikahkan oleh kedua orang tuanya. Perlambang dari mimpi itu, bagi Kliwon, merupakan firasat kematian yang datang dari sang Kuasa. Suara burung gagak di belakang rumah pun ia rasakan sebagai pertanda kematian yang siap menjemput.

Saat ia melihat Wak Haji Komar lewat di depan rumahnya, Kliwon mengira malaikat maut yang akan segera mencabut nyawanya.  Bahkan ketika balon yang dipegang Markonah anak tetangganya meletus, ia merasakan dirinya telah mati tertembak. Lalu berkali-kali ia mencubit tangan kirinya. “Belum..., belum...,” pikirnya.

Setelah  sadar dan yakin betul bahwa dirinya belum mati, Kliwon langsung masuk kamar. Ia mengambil seluruh uangnya yang disimpan di bawah tikar tempat tidurnya. Sebentar ia
menghitung lembaran uang itu. ”Tujuh belas ribu lima ratus,” pikirnya.

Kliwon terus pergi ke pasar. Ia akan membeli kain mori, kapas, dan minyak wangi untuk persiapan mengkafani mayatnya nanti. Kliwon ingin kematiannya nanti tidak merepotkan orang lain.

”Pak..., beli kain kafan, kapas dan minyak wangi,” ujar Kliwon ketika sampai di sebuah toko yang menyediakan peralatan perawatan jenazah. Seperti biasanya, ketika ada yang membeli peralatan perawatan jenazah, orang-orang langsung mengerumuninya dan bertanya siapa yang meninggal dunia.

”Siapa yang meninggal, Won,” tanya Busro tetangga dekatnya.
”Saya yang akan mati,” jawab Kliwon mantap.

Orang-orang yang berkerumun semakin merapat dengan wajah keheranan. Bisik-bisik pun mulai terdengar. Dan mereka yang menganggap Kliwon sudah gila langsung meninggalkan kerumununan itu. Tetapi sebagian besar dari mereka tetap bertahan. Malah semakin banyak yang mengerumuninya.

"Bagaimana kamu bisa tahu?” Tanya Busro kemudian.

Tapi Kliwon tak lagi memperdulikan pertanyaan itu. Ia juga tak memperhatikan puluhan mata yang memandanginya. Kliwon segera meninggalkan toko itu, dan orang-orang yang mengerumuninya.

Sampai di rumah, ia menyimpan peralatan perawatan jenazah di kamarnya. Lalu mengambil cangkul dan skop. Kliwon melangkah cepat menuju pemakaman desa. Ia menggali kuburannya sendiri dengan cekatan. Kliwon tak menemukan kesulitan sama sekali, sebab ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu. Entah sudah berapa kali ia menggali kubur untuk para tetangganya yang meninggal dunia.

Ketika matahari tenggelam, Kliwon baru selesai menggali lubang kuburannya. Dalamnya sak dedek sak pengawai.  Ia merasa  lega, karena pekerjaannya itu tak diketahui orang. Kalau saja ada yang mengetahui, tentu ia akan diberondong pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal.

Sekembali dari pemakaman desa, Kliwon langsung mengambil air untuk persiapan memandikan jenazahnya nanti. Semuanya ada tujuh ember besar yang diambilnya dari tujuh sumur di desanya. Kini semuanya sudah siap. Kafan, minyak wangi, bunga, kapas, air untuk  memandikan jenazah dan lubang kubur.

Kliwon merasa tentram batinnya. Ia merasa telah siap untuk menerima kematiannya. Menghadap Tuhan yang telah memberikan hak untuk hidup selama ini. Meninggalkan kebusukan dan akal licik. Melupakan semua kehidupan yang ia rasakan makin memuakkan dan sarat dengan kepalsuan.

Kliwon merebahkan tubuhnya yang kurus di atas amben bambu di kamarnya. Ia benar-benar menyongsong kema­ىtiannya dengan senyum bahagia.
***

Sampai menjelang pagi, ternyata Kliwon belum juga mati. Rasa haus dan lapar tiba-tiba menyerang tenggorokan dan lambungnya. Kliwon segera bangkit dan menuju ke dapur.

“Mungkin orang hendak mati tidak boleh dalam kondisi lapar,” pikirnya sambil menyalakan kompor untuk merebus air. Kelaparan dan kehausan merupakan musuh bebuyutan manusia. Kliwon tidak ingin hidupnya diakhiri dengan rasa haus dan lapar. Kelaparanlah yang telah mendorong manusia untuk melakukan apa saja. Perut telah membuat manusia lupa, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Ia memutuskan untuk masak nasi yang paling enak, sebab pagi ini menurutnya adalah sarapan yang terakhir kalinya. Ia juga berniat membuat kopi yang terkental.

Ketika Kliwon sedang menikmati sarapannya, pintu rumahnya diketuk orang. Kliwon tergagap dan segera berlari membukakan pintu.

”O..., tamu yang kunanti. Sebentar saya sedang sarapan untuk mempersiapkan perjalanan kita. Saya harap mau menungguku barang sejenak,” kata Kliwon kepada tamunya.

Kliwon mengira, malaikat pencabut nyawa benar-benar sudah menjemputnya. Padahal nasi terlezat dan kopi terkental buatannya belum habis. Tentu saja tamu itu bingung dan tak mengerti arah pembicaraan Kliwon. Saat ia akan menjelaskan maksud kedatangannya, Kliwon sudah berlari menuju meja makan dan meneruskan sarapannya serta menghabiskan kopi kentalnya untuk bekal kema­ىtiannya.

”Pak Kliwon...,” panggil tamunya di depan pintu. Tamu itu tak berani masuk ke dalam rumah, karena Kliwon tidak mempersilakannya masuk.

”Ya..., ya..., sabarlah. Saya hampir selesai,” jawab Kliwon ىkemudian dan mempercepat makan paginya.

“Maaf, saya harus mencuci ىpiring dan gelas, sehingga saat pergi nanti tak ada barang kotor di rumah ini,” lanjutnya.

Selesai mencuci piring dan gelas, Kliwon kembali ke ruang tamu dan mempersilakan tamunya masuk. “Sudah..., sekarang saya siap. Silakan cabut nyawaku,’ katanya sambil berbaring di atas bangku panjang.

”Saya tidak akan membunuhmu, Pak Kliwon,” sahut tamu itu.
 ”Jangan berpura-pura menguji kesiapanku. Saya sudah tahu kaulah malaikat pencabut nyawa itu. Ayolah lakukan tugas yang diembankan Tuhan kepadamu. Atau kamu ingin mengikuti jejak hidup manusia, mengkhianati kewajiban kemanusiaan untuk keuntungan pribadi sendiri. Kamu ingin mengorbankan kepentingan kemalaikatan untuk keuntungan kamu sendiri?”
 ”Sumpah demi Dia yang menguasai seluruh alam dan isinya. Saya tak akan menggugat-Nya di pengadilan-Nya. Saya telah menerima seluruh keadaan yang terjadi atas diriku. Saya tahu semua itu bukanlah kekhilafan-Nnya untuk mentakdirkan diriku menjadi kaya. Saya miskin dan terus miskin, karena memang terlalu kuatnya orang-orang kaya di sekitarku. Jadi bukan karena kelemahan Tuhan dalam mengawal takdir-Nya.”

”Karena itu..., jangan ragu. Cabutlah nyawaku sekarang. Saya justru kian merindukan kesejukan wajah Tuhan. Kemilaunya sinar dan tatap mata-Nya. Aku ingin segera menciumnya dengan segala birahiku.”

”Telah kupersiapkan semua kebutuhan untuk merawat dan mengu­burkan jenazahku. Saya pun telah menulis surat wasiat agar rumah gubukku ini dihibahkan kepada Wak Haji Komar untuk kepentingan usaha sosialnya. Mungkin tidak terlalu berharga. Tetapi itu yang bisa saya berikan. Meski saya miskin, tetapi saya tetap berkeingi­nan untuk berbuat kebajikan. Tetapi seandainya saja saya kaya, mungkin keinginan itu malah tidak saya miliki.”
”Pak Kliwon..., apakah kamu sudah lupa. Saya ini wak Haji Komar,” ujar tamunya kemudian.
”Apa...?!” Betapa terkejutnya Kliwon mendengar pengakuan itu. Dan ketika wak Haji Komar memegang tubuh Kliwon, dada kurus itu tak lagi bergerak.***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Hujan Yang Terlewatkan
Wahyu Heriyadi

sajak Stasiun Kota
Amir Ramdhani

ceritanet©listonpsiregar2000