ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 139
rabu 040707

cerpen Hujan Yang Terlewatkan
Wahyu Heriyadi

Malammu telah terlewatkan ketika hujan deras itu menghujam tanah. Kita pun melerai badai perlahan dengan usap. Ratapan menggenang, membasahi sekujur tubuh kita, namun masih dalam gigil ini.

Kau di tepi jalan persimpangan, menengadah, menghunus sebilah ketajaman, lidah kelu, namun merapal sesuatu, tak terdengar jelas. Tak sesiapa pun melewati jalanmu, saat itu lenggang yang ada. Tanganmu bergantian mengepal, dipindahkanlah kepegalan hunusan sebilah ketajaman. Samar-samar rapalanmu terdengar jelas, seperti desah.

Aku ingin kau membisikkannya ditelingaku.

Hujan masih membasahimu; air itu mengusap, menggerayangi seluruh tubuh.  Menyerap perlahan ke dalam kulit, melalui pori kemudian memuara dan bersatu dalam darah. Langkahmu tersendat, menggapai-gapai dalam laju jalanmu. Gelapkah hingga kau seperti itu kemudian merangkak. Apa yang kaulakukan mengingatkan rangkak pertama yang sulit dilakukan, pada awalnya hanya berguling, dan kau belajar untuk menggapai, merangkak, berjalan, berlari.

Aku disampingmu, menemanimu di persimpangan, duduk termenung denganmu, menghabiskan malam. Bersuara-suara lantang tanpa ada yang menghirau, gemamu membekas di persimpangan ini, persinggahan kita. Saat hujan turun, kau yang pertama menepi dan aku mengikutimu, di sudut. Kedinginan itu memaksa kita berbagi hembusan, aku senang membaginya denganmu.

Selepas reda, kita kembali di persimpangan dan masih menatap malam, namun ketika itu kau menemukan pelangi, dengan diterpa sinar bulan separuh yang rapuh dan kehilangan separuh sinarnya, kau menyuruhku untuk mempercayainya,

Dan ya, aku percaya, karena aku menatapnya juga.   

Kita tak akan membicarakan pada sesiapa pun telah menatap pelangi di malam itu, aku mengerti karena ini memang usah terlontar dari ingatan, dan tak akan pula bersimbah belukar ucap tentang bulan separuh.

Hingga, kita berjumpa kembali dengan pelangi di malam hari untuk kedua kalinya, ya, untuk kedua kalinya, namun dengan sinar bulan penuh. Sayup-sayup turun dari langit,  sebuah titik datang dari jauhnya, terasa lambat, kita pun menjauh dan tak akan tertarik lagi untuk menunggui datangya malam itu, malam yang pernah ditaburi pelangi. Kita pun berjalan membelakang, dan menjauhi.

Saling berjalan memapah langkah, hembusan rintik. Kau tiba-tiba bersorak, tanda gembira telah hinggap, meletup-letup. Menatah rumput yang menjulur, disibak terurai menggapai langit. Setelah kegilangan itu menjenuh, seraya senyum simpul, kau menunjukkan sebuah jalan, menggapai harta karun. Aku meninggikan tangan mengacungkan tanya, semakin tak terperilah ucap itu. Kudekati, namun kau merapalnya dengan yakin, aku pun usah berkeluh.

Mulailah aku di tarik oleh cengkrammu, mengikuti langkah, dengan ragu kusulur arah tempuh. Peluh yang tak segan membanjir, hirau, jalan itu terus memintamu, semakin jauh kita berjalan. Rimba raya dalam segenap gulita, separuhnya telah menjamah kita, kian larut dalamnya. Percikan air mengalir dari hulu tersusur, disitu kita henti sekejap, tertuanglah regukan, kemudi lalu lanjut.

Aku keletihan, pernah kau kuajak untuk menepi, namun berkali-kali kita harus menempuh, hirau keletihan itu. Aku tertatih-tatih, tapi masih saja kau cengkram hingga tubuhku senantiasa agak condong dan tangan ini mengikuti tarikanmu. Ya, aku bisa apa lagi, karena semangatmu, aku menggebu, mengikuti lagi setiap hentakan langkah.. 

Di penghujung kota tua, kita pun merapat, menatap sekeliling, memaknai keadaan. Gedung usang berkumpul menjadi satu, kita pun mengusung tepian sebuah gedung tua itu, merebah, dan terlelap dalam khayal masing-masing. Hingga seutas sinar pergantian menuju malam mulai tampak, kita pun tersadar, dan terbelenggu di kota tua ini.

Bukan tanpa sebab, kota tua ini memancarkan keindahan, kau seakan-akan menemukan harta karun di sini, yang pernah kau bisikkan dahulu. Kau mengitari setiap sudut kota tua ini, mengamati satu persatu dengan seksama, setiap tikungan, setiap guratan-guratan, coretan-coretan yang tertinggal dan membekas. Seakan tak terpuaskan, kau mengitari sekali lagi kota tua ini, sebelum akhirnya kau kecewa, dan memutuskan untuk segera hengkang.

Sebelum benar-benar hengkang, kau tampak mencari seuatu, lagi-lagi tersamar, dalam pucuk dedaunan, hingga kau temukan sebuah bongkahan yang buruk bentuknya. Kau membawanya, dalam genggaman.  

Tanganmu mencengkram lagi tanganku, ditarik, aku pun segera mengikuti.  Tanpa banyak kata, kita melaju, melampaui beberapa waktu yang ingin singgah, namun kita terus melaju, tanpa penghantar. 

Danau purba itu menghentikan langkah kita, terlihat jejakan-jejakan langkah yang pernah membatu di sana. Kita terperangah lekat-lekat, ada yang terperangkap di sana, menawarkan senyum dan secercah kegelisahan. Ada yang mengering disana, kita pun bertanya kenapa gerangan, terherankan. Tak bisa menaruh apa-apa, kita hanya melihat, dengan sepasang mata yang terbelalak.

Semakin dalam terlihat danau purba itu, tak terjangkau dimana pangkalnya, semakin tepi mata ini menjangkau, tak terperi dimana dasarnya. Hanya prasangka yang membawa kita pada pertanyaan di danau purba ini. Kau pun mencoba untuk menyelamatkan yang terperangkap disana. Diarungilah hamparan danau purba, terselami setiap deburannnya.

Kita pun terbawa arus dan hanyut dengan kepayahan menggapai-gapai, telah banyak tersedak oleh air-air ini sehinga tercampur dengan kehawatiran dan kita terus terhanyut dalam, semakin mendekati jurang, air yang terjun yang tinggi, kita akan turun dan jatuh menghujam kedasarnya, kandas, kita hanya menjadi setitik kecil yang pasrah, terjatuh dan menanti dalam hitungan.

Kita berpikir itu adalah sebuah ilusi, ah kenapa menjadi ilusi? Padahal seharusnya kita percaya dengan kenyataan yang terjadi, ya, kita harus percaya dengan kenyataan yang telah kita lalui, lalu persoalan kita menjadikannya sebuah ilusi aku tidak yakin sama sekali. Sebuah bongkahan yang buruk bentuknya telah membuat kita selamat, entah bagaimana caranya tiba-tiba kita menjadi berada di sebuah lorong, kita tidak ingin mempertanyakan sebuah lompatan waktu itu, karena apa yang harus kita jawab.
 
Tapi di sebuah lorong, apakah kita tersesat?  Seakan tak pernah menemui tepi, tak kunjung menemui ujung. Dengan harap cemas entah berapa lama, apakah terasa lama? Kita tersesat dalam lorong yang panjang tak berujung. Namun ternyata lorong ini bukannya tanpa ujung, namun jauhnya tempuhan yang harus dilalui, apakah memang kita ini harus bersabar? Entah mungkin, setelah melalui lorong ini, kita tidak yakin untuk menghadapi apa.

Hingga kita tiba di sebuah peperangan, tempat berbahaya. Tapi kau meracau akan menemukan harta karun di sini.

Di sebuah peperangan?

Tapi mungkinkah di situ adanya. Aku telah memperigatimu berkali-kali untuk memikirkannya, ulangi lagi, sekali lagi, berkali-kali, sampai kita benar-benar yakin. Ayo, sekali lagi!

Tapi kau malahan mulai membaca situasi, karena di sini terjadi peperangan, maka ada yang diperebutkan. Kau sangat yakin, dan perebutan itu adalah sebuah harta karun.

Aku yakin, harta karun itu ada di kepalamu, kau ikuti sendiri harta karun yang ada di kepalamu, lalu kau mulai meracau di berbagai tempat. Kau makin kacau di peperangan ini, makin kacau. Sebab kau tafsir di sini adanya, dimana kepalamu? dimana harta karun?

Dimana dirimu? Aku hanya hujan.

Kau di tepi jalan persimpangan, menengadah, menghunus sebilah ketajaman, lidah kelu, namun merapal sesuatu, tak terdengar jelas. Tak sesiapa pun melewati jalanmu, saat itu lenggang yang ada. Tanganmu bergantian mengepal, dipindahkanlah kepegalan hunusan sebilah ketajaman. Samar-samar rapalanmu terdengar jelas, seperti desah. Aku ingin kau membisikkannya ditelingaku.

Aku mendengar bisikanmu, begitu lirih, hujan telah terlewatkan. Saat ini malammu pun telah terlewatkan...

Dan aku hanya hujan.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Kliwon
Mukhotib MD

sajak Stasiun Kota
Amir Ramdhani

ceritanet©listonpsiregar2000