ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 138
rabu 200607

sajak Bos, Saya Berhenti Menggergaji Batu
T. Wijaya

            Sebenarnya saya berhenti menggergaji batu. Saya menelan batu, Bos. Sebab bukan lagi 63 anak sungai dan 2.300 jenis ikan. Kebutekan air membuat semua penuh lumut, lumpur, serta anak-anak tangga di mulut. Istri saya yang terus menggergaji batu.
            Ceritanya bermula kita bergulingan di kamar mandi, Bos. Penis saya meluncur di lantai berlumut dan pesing, bagai kecemasan menusuk dada sehabis menonton ibu dimakan anaknya di televisi. Lalu, katamu, Bos, jangan ulangi pertemuan ini. Saya bagai jas hitam dibungkus beribu-ribu kondom, dan papan nama kantor saya dijepit pahamu.
            Bos, saya berhenti menggergaji batu. Berhenti.
            Bos, saya mandi atau tidak mandi, biarkan bersisik. Saya tidak mau belajar agama dari suaramu. Masjid kian membesar dan megah, seperti puluhan jembatan melintasi sungai Musi, di antara makam orang miskin.
            Dulu, kita timbun sungai, dan gali tanah. Katamu, nenek moyang kita ajarkan kekebalan dengan kebingungan ini. Kebingungan tersebut. Kebingungan tertentu.
           Sungguh, Bos, saya berhenti menggergaji batu. Istri saya yang terus menggergaji batu, meskipun saya tahu dia bukan betok atau gabus, yang tidak pernah dikalahkan kemarau dan banjir.
          Saya bosan kehilangan kebun, dan perahu. Saya bukan rombongan ke New England . Saya bukan penari telanjang di café-café sepanjang Bangkok . Tolong, Bos, biarkan kulit saya bersisik.
          Saya tidak takut dengan kodok. Biarkan dia bersejarah dengan lidah dan perutnya. Catat, Bos, saya bakar kapal-kapal dari Macau jika kembali membawa batumu.
          Saya tidak takut digoreng, kemudian dicecel bersama kecap, cuka, dan sambal, ke dalam mulutmu.
          Saya Tionghoa. Saya berhenti menggergaji batu. Biarkan istri saya yang menggergaji batu. Saya ingin masuk surga bersama makam orang miskin yang kaya.
***
2006

                                                   Saya Bandit

             Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Ini celana dalam saya! Mau apa Peter? Saya bandit. Saya bandit.
            Sebentar, saya tidak mencopet, merampok, membunuh, menjadi tukang pukul di lokasi perjudian atau pelacuran. Saya bandit. Saya bukan Thoyib. Saya bukan Ibrahim Syafei. Saya bukan Atai. Saya bandit. Ini celana dalam presiden saya! Mau apa Peter?
            Peter. Peter. Peter Gwin, dari National Geographic Magazine, menggaruk kepalanya yang plontos. Café Legenda di sungai Musi bergoyang. Saya tetap bandit.
Bila kata-katamu telah cukup, saya berambut pirang seperti George W. Bush.
            Saya tidak berdongeng. Saya membelanjakan ribuan dolar buat menyusun kata. Menyusun kata seperti para priyayi berdongeng soal leluhur mereka sehabis mengambil gaji dari pejabat Belanda. Saya bandit. Tolong buatkan saya stempel yang menjadi tanda, saya pernah berbohong kepada makam orang uluan dan anak jalanan.
            Peter. Peter. Peter Gwin, dari National Geographic Magazine, menguyah pempek, pelan-pelan. Saya bandit. Saya tidak dapat menghentikan orang baik-baik membuat proposal, dan membiarkan satelit memotret kambing-kambing menelan obat penenang di café ini. Saya bandit, saya berambut pirang seperti George W. Bush.
            Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Ini kapak merah saya! Mau apa Peter? Saya bandit. Saya bandit.
***
2006

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

komentar AS, Aceh, Malaka, dan Dimanakah Indonesia?
Arsadi Laksamana

cerpen Asing, Atas Nama Pendidikan
Ronny P. Sasmita

sajak Fajar di Bibir Ngarai Sianok

ceritanet©listonpsiregar2000