ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 137
senin 040607

komentar Sepucuk Surat dari Presiden Hayat
Presiden Hayat

Jakarta, 02 Juni 2007
Kepada Yang Terhormat
1. Anggota Marinir yang berada di Desa Alas Tlogo, Grati, Pasuruan, Jawa Timur hari Rabu Pagi, Tanggal 30 Mei 2007.
2. Bapak-bapak dan Ibu-ibu penduduk Desa Alas Tlogo pada waktu yang sama.

Perihal : Peristiwa yang sebenarnya terjadi pada saat itu, yang mengakibatkan empat nyawa tercabut.

Dengan Hormat,

1. Nyawa seseorang sangatlah berharga dan kita harus ikut bertanggung jawab menjaganya.

2. Melemparkan tanggung jawab kepada kambing hitam atau seseorang yang tidak seharusnya bertanggung jawab adalah suatu kejahatan besar. Melakukan hal itu berarti kita punya andil menyuburkan sikap tidak bertanggung jawab. Mengembang biakkan sikap pengecut. Menebas kaki keadilan sehingga dia tidak bisa leluasa berjalan di muka bumi. Menipu anak cucu dengan menyodorkan kepada mereka sejarah yang keliru.

3. Apapun yang terjadi hendaknya objektivitas dijunjung tinggi. Katakanlah di pengadilan dengan sejujur-jujurnya apa yang sebenarnya terjadi. Ungkapkan fakta bukan opini. Kita butuh fakta. Fakta akan mempemudah penyelesaian masalah karena begitu banyak versi berita yang beredar. Banyak juga pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal? Haruskah nyawa 4 orang tercabut untuk menyelesaikan masalah? Mengapa lahan untuk pusat latihan tempur disewakan? Mengapa harus membawa parang dan senjata tajam ketika berunjuk rasa? Katakanlah apa yang sebenarnya yang terjadi.

4. Kita tidak boleh bosan berusaha agar hukum menjadi panglima tertinggi di negeri ini. TNI dan Polisi harus melayani dan melindungi rakyatnya. Bukan jadi antek pengusaha. Pengadilan harus menjadi tempat yang adil untuk menyelesaikan sengketa.

5. Semoga peristiwa ini menjadi tragedi terakhir di Republik Indonesia. Mohon Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian bisa membeberkan apa yang terjadi sejujur-sejurnya. Mari kita wariskan kepada anak cucu kita, sikap tanggung jawab. Hentikan sikap selalu menyalahkan orang lain dan selesaikan segala sesuatu masalah dengan cara-cara yang beradab.

6. Alangkah indahnya menyaksikan petani dan anak-anaknya tertawa riang bermain lumpur di sawah memanen padi yang gemuk dan kuning. Sementara tentara dan polisi dengan gagah berdiri di pematang, menghadang calo yang tengah mendekati petani untuk membeli gabahnya dengan harga super murah.

Terimakasih atas perhatiannya,
Presiden Hayat

cc: Presiden Susilo Bambang Yudhyono, di Istana Merdeka, Jakarta

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

komentar Menangislah Engkau Alas Tlogo
Liston P. Siregar

komentar Pak Presiden, Petani menunggu janjimu
Limantina Sihaloho

ceritanet©listonpsiregar2000