ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 137
senin 040607

Edisi 137: Pasuruan dan Janji Pada Petani

Sekedar langkah pertama saja, sehingga tragedi Alas Tlogo tidak sekedar seruan menghentikan tangisan atau meredakan kemarahan. Sambil menunggunya, menangislah engkau Alas Tlogo. Menangislah kita semua karena seri berikut dari rangkaian Tanjung Priok, Talangsari, Haur Koneng, Nipah, Alas Tlogo tinggal menunggu waktu saja. Menangislah, biarpun Istana Negara kelak tenggelam oleh genangan air mata kita semua. Menangislah Engkau Alas Tlogo
Liston P. Siregar

Dengan Hormat,
1. Nyawa seseorang sangatlah berharga dan kita harus ikut bertanggung jawab menjaganya.
2. Melemparkan tanggung jawab kepada kambing hitam atau seseorang yang tidak seharusnya bertanggung jawab adalah suatu kejahatan besar. Melakukan hal itu berarti kita punya andil menyuburkan sikap tidak bertanggung jawab. Mengembang biakkan sikap pengecut. Menebas kaki keadilan sehingga dia tidak bisa leluasa berjalan di muka bumi. Menipu anak cucu dengan menyodorkan kepada mereka sejarah yang keliru.

Sepucuk Surat Dari Presiden Hayat
Presiden Hayat

Sudah terlalu lama pemerintah Indnesia abai terhadap petani yang bekerja beratapkan langit, didera hujan, dan dipanggang terik matahari. Membiarkan mereka menjadi bulan-bulanan pasar yang tidak berpihak kepada mereka. Harga pupuk dan obat-obatan terus merangkak naik. Saat kampanye politik, ada saja balon-balon bupati yang tak tahu malu mengumbar janji kosong melompong akan menurunkan harga pupuk seolah-olah dia sendiri pemilik perusahan pupuk.
Pak Presiden, Petani Menunggu Janjimu
Limantina Sihaloho

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet
ceritanet©listonpsiregar2000