ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 136
jumat 180507

cerpen Sonya
Abednego Afriadi

Sonya, wajahnya biasa saja. Tak ada yang istimewa, jika dilihat sepintas. Namun luar biasa jika aku menatapnya lebih dalam. Bibirnya tipis, namun bagian bawahnya sedikit lebih ukurannya. Warnanya saja kemerah-merahan. Lesung pipitnya terlihat seperti lukisan alam di atas air.

Lantas tercipta puisi-puisi yang maha cengeng. Matanya, oh matanya begitu sayu. Bulu matanya meliuk seperti nada-nada lagu indah sedih dan senang. Entah, aku sendiri tak bisa mengatakannya. Namun saat kutatap sekilas memang tidak begitu cantik. Pembaca perlu tahu, oh Sonya, betapa aku tak menduga, Sonya seperti itu. Ada sesuatu tersembunyi di balik kecantikannya.

Malam ini aku berhenti melukis wajah isteriku di atas kanvas. Sonya memang perempuan terakhir yang kini harus aku pertanggung-jawabkan. Aku bertekad menikahinya, apapun yang terjadi. Menurutku Sonya adalah perempuan yang memiliki ketegaran lebih dari pada aku menghadapi sesuatu. Terlalu absurd memang. Aku tak mengerti sama sekali, apa artinya Sonya di antara perempuan lain di negeri yang serba mengambing-hitamkan mereka.

Irama Slow Rock Lagend terdengar mendayu, sesekali menghentak pula. Kopi kental terlihat masih separo cangkir. Aku reguk meski tak lagi hangat. Separo batang rokok ini sudah tak lagi menyala, lantas aku hisap dengan pipa. Masih tersisa aromanya. Pipa, temanku yang baik dan setia. Ia menemaniku di sebuah kursi lamunan. Sejak dulu aku memang sepakat dengan Sonya bertemu di atas kursi ini. Betapa ia sering membelai rambutku yang gondrong, serta menghembuskan asap rokok ke mukaku sehingga aku terbatuk-batuk. Tak jarang pula ia mengikat tanganku ke sandaran kursi kayu tua. Sedangkan kakiku dibiarkannya terikat di kaki kursi. Seperti itu membuat aku nyaris tak bisa bergera.
Sungguh permainan yang asyik. Penuh dengan intrik-intrik kecil.

“Berapa lama, aku harus menunggu?” seru Rusman menagih hasil jadi lukisan ini, “Aku sudah terlanjur menempati rumah baru. Ruang tamunya cukup luas, saying kalau dibiarkan kosong.”
“Bukankah rumah mantan lurah itu komplit dengan symbol?”
“Ah Tai, symbol-simbol itu sudah aku buang. Bahkan bendera ormas sekalipun,” balas Rusman.
“Kira-kirta berapa lama lagi?”
“Ya aku harus memolesnya agar nampak alami.”
“Bukankah itu cukup alami?”
“Belum, ini masih berkesan dekoratif.”
“Ya tapi berapa tahun lagi.”
“Ah, ga nyampe tiga hari. Dua hari juga sudah jadi kok bos.”
“Baik aku pergi dulu. Berapa pengeluaran, tolong dicatat dulu nanti aku ganti.”

Rusman terobsesi dengan lukisan isteriku. Namun ia tak tahu, perempuan cantik dengan lesung pitpit yang menggoda itu adalah Sonya, isteriku. Ah biarkan saja, semoga Sonya tidak tersinggung. O iya, Rusman keburu pergi, aku mengangkat gagang telphon.

“Hallo…”
“Ada apa men?”
“Heh lontong gosong! Lukisannya berbaju atau telanjang?”
“Berbaju boleh, telanjang boleh.”

Aku mencoba membuatnya telanjang tanpa sehelai benang pun, hanya bagian bawahnya sengaja aku buat seolah Sonya menutupnya dengan paha. Wah jadi soal juga ternyata. Paha Sonya perasaan lebih ramping dari pada dalam lukisan. Ah tak masalah, kalau nanti dia tersinggung, bisa aku beralasan kalau pengambilan dari sudut wide, sehingga ukuran tampa lebih besar. Namun lagi-lagi aku harus memperhitungkan lagi matang-matang. Karena setelah aku tamati perlahan, ternyata ukuran itu tidak proporsional.

“Heh, jangan sembarangan!” seru Sonya.
“Ah tidak bisa aku ulangi kalau memang benar-benar salah.”

Benar-benar cantik Sonya. Foto telanjangnya tidak sedikitpun membuat aku terangsang, tapi entah bagi yang lain, mungkin pembaca. Pikiran ngeres itu saya kira tergantung masing-masing individu. Bagiku lukisan ini nampak artistik. Tapi ini tidak adil, suatu saat aku harus melukis lelaki telanjang, atau malah para pejabat itu telanjang. Sebab dengan lukisan ini aku ingin menerobos mata batin dan kejujuran. Kalau boleh aku jujur, aku bisa menelanjangi diriku sendiri sebelum menelanjangi para pejabat dan pemuka agama.

Yah, tapi aku harus selesaikan dulu lukisan Sonya, pesanan Rusman. Dead line dua hari rupanya terlalu singkat juga. Wah aku sendiri masih bingung, apakah lukisan ini aku buat tanpa busana atau bergaun?

Malam haru rembulan cahanyanya menerobos genting kaca di atap rumahku yang sengaja kumatikan lampunya. Asap-asap rokok yang masih kuhisap terasa seperti gambar serigala bercampur bulu-bulu domba yang beterbangan menyelimuti bulan purnama dengan sutera-sutera asapnya. Sedangkan aorma wewangian kembang semakin tercium dan merasuk ke dalam paru-paru. Aroma yang harum itu seperti membiusku untuk terus menorehkan kuas ini ke atas kanvas yang sudah tertoreh utuh wajah Sonya yang begitu jelita.

“Jangan sembarangan Bram! Wajahku tak secantik itu.”

Sonya berkali-kali menegurku memang, lantas aku mencoba ingin merasuki dimensi Sonya ke dalam lukisan itu. Akhirnya aku sepakat memberinya pakaian.

Malam berlalu, cahaya rembulan yang sedikit kebiru-biruan mengantarkan tangan kananku ini mengkombinasi berbagai warna yang harus aku toreh, sesekaliaku cipratkan menjadi efek dramatis yang tak terduga dalam sketsanya.

“Apa kabar Sonya, selamat malam..” bsikku begitu lukisan itu usai
“Apa kabar Bram?” balasnya dengan suara seperti di dalam air, “Sori Bram, aku masih basah, lebih baik kau keringkan dulu, biarkan aku menatap rembulan yang begitu indah bertelanjang senyuman tanpa paksaan dari pihak manapun.”
“Bisa ga kau hadir malam ini? Dua malam lagi kau tidur dengan Rusman. Ia sudah tergila-gila ingin mempersuntingmu.”
“Tidak Bram, aku tidak mau,” jawab Sonya.

Air matanya mendadak meleleh membasahi pipi, hingga membuat warna kulit mukanya luntur. Lesung pipitnya hilang, semua warna itu jadi luntur dan nyaris tak beraturan.

“Sonya jangan menagis!”
“Aku tak mau hidup dengan Rusman, aku ingin hidup denganmu. Ingat lah, bagaimana pun aku isterimu. Tega-teganya kau jual aku kepada temanmu. Kau tega Bram!”
“Sumpah, ini hanya sementara, aku sudah terlanjur pertaruhkan rumah ini, mobil VW dan sertifikat tanah ibuku di desa. Lantas, dengan apa aku harus membayar?”

Kepalaku mendadak kuarsakan pusing. Lantai rumah ini sepertio bergoyang-goyang saja. Aku piker gempa, tapi tak ada yang bergerak. Lantai itu Cuma bergoyang. Perlahan Sonya menghampiriku.

“Sonya,“ bisikku tak berdaya lagi mengeluarkan suara. Apalagi berdiri, tubuhku lunglai rebah di depan kanvas.

“Sonya,” bisikku lagi. Ia menghampiriku semakin dekat. Wajahnya mendekat ke wajahku. Akurasakan hangat hembusan nafasnya menyapu wajahku.

“Bram, aku mencintaimu, aku menyayangimu, berapa tahun aku bersamamu? Aku merindukanmu. Aku bahagaian di sampingmu.”

Tangannya meraba-raba dan merangkul pundakku dari depan, kepalanya disandarkannya di dadaku. Tubuhku yang rebah ini hanya terasa lemas.

“Sonya,” bisikku.

Dok-dok-dok. Suara pintu diketuk terdengar, mendadak mataku terbuka, aku hempaskan tubuh Sonya hingga terpelanting.

“Tidak dikunci, silakan masuk!” seruku seperti biasa menyuruh tamu. Dari balik daun pintu, kepala Rusman menengok.
“Bram, bagaimana kalau besok sudah jadi? Semua jaminan itu aku berikan!”
“Bbbb baik, sekarang sebanarnya sudah jadi, hanya aku harus menunggu sampai benar-benar kering.”
“Baik, semua kita bereskan besok saja!” jawab Rusman seraya menutup kembali pintu rumah. Suara deru mesin halus menjauh nyaris tak terdengar jika suasana gaduh.

Sonya kembali membisu di dalam bingkai. Aku harus segera membenahi lagi, namun aku sedikit malas memulainya dari nol membuat sketsa-sketsa. Aku biarkan begitu saja. Tinggal menambal dengan pigmen-pigmen. Jam dinding tua berdentang dua belas kali, tapi mata ini tak mengantuk. Aku penuhi lagi segelas kopi kental. Oh iya, masih ada sisa sebatang rokok di saku celana, ah sedikit patah. Tak masalah, bisa aku tambal, pigmen juga lumayan kental.
Wajah Sonya dingin menatapku, sorot matanya terhalang asap rokok. “Sonya,” bisikku seraya menambal warna di setiap jengkal wajah dan tubuhnya yang luntur dan terburai.
***

Ah lega akhirnya, semua jaminan sertifikat, rumah, dan segala tetek bengeknya sudah kembali lagi ke tanganku. Namun aku tak lagi bisa melihat wajah Sonya. Aku hanya bisa melukis wajahnya saat-saat tertentu saja. Itu dulu, mungkin lain dengan sekarang. Aku merasa kehilangan dia, sebab dia sudah menjadi miliknya Rusman. Ia sudah menemani Rusman setiap malam sepulang kerja, namun ia tak pernah diajak Rusman berpiknik, menonton, atau menghadiri acara resmi.

Oya, Malam Tahun baru, biasanya Rusman tak ada di rumah. Aku imgin bertemu dengan Sonya. Malam itu rumah Rusman masih menyala lampunya. Bahkan musik instrumentalia terdengar dari luar. Kini tiba saatnya kita akan berpisah …

Rusman tak juga mendengar kedatanganku. Padahal klakson dan gas mesin ini sengaja aku bunyikan menderu. Aku berjalan mengikuti di mana irama itu terdengar. Yah tepat di kamar depan, aku tengok dari jendela kamarnya. “Setan Alas! Rusman telanjang bulat mencumbui lukisan itu. Lukisan wajah Sonya. Aku lantas memukul jendela itu, “Brakkk!”

“Brengsek kau Rusman!” teriakku seraya kembali ke dalam mobil, lantas pergi dari tempat itu. Suasana jalan begitu ramai dengan pengendara motor meniup terompet. Aku ingin ke kuburan, aku ingin ke tempat Sonya dikuburkan. Tak peduli hantu, jambret, bajing loncat atau pengemis malam. Tak peduli pocongan, gundul pringis, atau wewe gombel. Aku harus ke kuburan Sonya, yah, aku harus memeluk nisan Sonya malam ini. “Selamat Malam, Selamat Tahun Baru Sonya……..”
***
Solo, Mei 200

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

esei
Krisis Ideologi Perfilman Nasional
Imron Supriyadi

sajak
Sajak Buat Gadis Kecilku
Teguh S. Usis

ceritanet©listonpsiregar2000