ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 135
sabtu 280407

cerpen Lelaki Yang Ingin Mata Kekasihnya Bersayap
Wahyu Heriyadi

Matamu mulai bersayap dan terbang menuju terang. Aku terheran menatapmu, begitu cepatnya kau berubah. Dalam lekas. Kau siapkan kopor untuk dijejalkan pakaian, celana dalam, kutang berenda. Ada sesuatu yang terlupa, kau mulai memikirkanya, apa gerangan, teringatlah kembali. Seutas tali yang melingkar di pinggang, lalu wewangian yang selalu melekat di tubuhmu.

Lalu kau kepakkan sayap dimatamu itu, terbang landai. Terlihat rumahmu semakin menjauh, taman tempat menyepi pun menjauh. Kau sudah bertekad. Hingga terasa jauh, pulau tempatmu dilahirkan menjauh, ataukah pulau itu yang menjauhimu. Menembus awan, terlihat gerbang singasana. Kerajaan terang, yang telah menjulang meninggalkan pulau dari munculnya daratan.
***

Aku mulai merasa bosan dalam keramaian hiruk pikuk, kendaraan yang berlalu lalang. Mengitari dalam keseharian. di halaman ini, aku bersimpuh, merenda seutas demi seutas benang untuk menjadi sesuatu yang dapat dikenakan atau disematkan. Aku mulai merangkainya dengan mengkhayalkan merpati yang sedang mengepakkan sayapnya, gelombang besar yang meluluh lantakkan, atau seorang yang merasa sunyi dan termenung, seperti aku.

Hari ini aku akan memulai dengan merajut angsa yang menggelaparkan sayapnya. Kutatah dengan seutas demi seutas, khayalan ini membangun sayapnya, kurangkai sedikit demi sedikit. Ah, terhenti sejenak, aku mulai meraih-raih mencari secangkir kopi untuk diseruput. Rupanya harus melangkah menuju rumah, mengembangkan cangkir, menyahutkan air hingga memecahkan dirinya. Kemudian menyampurkan kemanisan dengan kepahitan, dalam suhu yang panas.

Kubiarkan sejenak, agar kuhirup wanginya, biji kepahitan yang telah diluluh lantakkan, kemanisan yang telah ditebas, dan menyatu dalam suhu yang panas, demam. Kutunggui hingga mereda demam itu, menunggu, di beranda, tampak selalu lalu lalang, mobil, orang yang berjalan, anjing kampung, ayam. Ah, demam telah usai, kuseruput.

Bagian mana yang telah terlupakan tadi, kulanjutkan kembali. Menjejaki kembali lekuk-lekuknya. Perlahan terangkai, menyatu dengan tanganku dalam gerakan-gerakan, tampak seutas demi seutas telah membentuk. Pilinan benang telah berubah menjadi sebuah rangkaian. Kurasa aku sangat puas merangkainya, mereka-reka kembali. Ada sedikit seutas benang yang menonjol, aduh, seharusnya tidak terjadi, aku lengah, ah, harus segera kuperbaiki.

Ketelitian, ya harus teliti, diulang kembali, dilihat satu persatu, dimaknai tiap lekuknya. Tanpa lelah harus ditelusuri. Perbaikan ini tidak terlalu menyita waktu, bisa kuseruput lagi kopi ini, sebelum dingin, kutuntas habiskan dulu. Kumulai lagi memperbaiki, ah, tidak terasa selesai sudah, kurasa cukup memadai menurutku, setidaknya, karena kupikir buatanku ini tak sempurna-sempunanya. Harus disudahi dengan kecukupan.

Setelah itu kutatap kembali, sekali-kali kuraba kehalusan rajutannya. Hem, rupanya harus kucoba perlihatkan pada orang lain, apakah sudah bagus. Ah, akan kuperlihatkan kepada lelakiku, mungkin dia akan senang melihat buatanku ini. Tapi hujan tiba-tiba turun. Aku menatap dari beranda menghitung satu persatu bulir air. Sambil memegang rendaan ini, kudekap, air semakin menhujam, deras.

Anginnya begitu kencang, menyibak kulit dan pori ini, mencerap. Perlahan di tanah bergemericik, pohon bergoyang mengikuti kehendak hembusan. Aku merapatkan tubuh ke kursi, medekap sekujur dengan tubuh sendiri. Terlihat pohon meroboh di halaman, begitu kokohnya, angin itu telah mengkandskan kekokohan pohon itu, dibantu dengan gemericik air, yang menderas.

Aku tertidur, dalam kantuk yang semakin menjadi. Sepertinya lelap adalah sebuah keharusan, untuk mengumpulkan kekuatan, mempersiapkan apa-apa yang akan dikerjakan selanjutnya. Aku semakin mengantuk, hujan tetap lebat di depan halaman. Gemericiknya semakin terngiang, dan aku benar-benar lelap.

Tak terasa ciuman mendarat di kening, aku terheran, seperti hembusan namun dalam remang, terjejak lagi ciuman di kening untuk kedua kalinya. Kurasa itu hanya belaian angin yang mengusik. Mata yang berat ini dengan sendirinya ingin mengintip, perlahan, terbuka mata. Tampaklah dia, ah, lelakiku, aku pun memberi senyum dalam geliat manja. Kucium pipinya. 

Tapi setelah itu kau terduduk disampingku dan menunjukkan keheningan, dalam kaku diwajahmu tergurat sebuah keinginan yang terpendam, sepertinya menggores dalam hatiku. Aku pun bertanya dalam beribu bahasa yang ingin kau jawab, dengan sejujurnya. Berikanlah kerahasiaan itu padaku, berbagilah. Ah, lelakiku kau memasuki rumah, menuju kamar dan melesak dalam bantal.

Aku hanya mengikuti dari belakang. Bertanya dalam beribu terka. Ada apa gerangan lelakiku. Rendaan, angsa yang menggeleparkan sayap ini menjadi bisu dan terjatuhkan, tercampakan, kuharap kau bisa melihanya, lelakiku. Aku pun memasuki rumah, menunci pintu, karena diluar telah malam. Mengikuti kemana langkahmu, menuju kamar. Dan melesak dalam resah, terbaring. Diluar hujan telah reda. Yang terdengar hanyalah suara malam.

Begitu hari telah berganti. Setelah terbangun kulihat lelakiku telah tertegun, kembali dalam keheningan kaku. Kupikir inilah saat yang tepat untuk bertanya padanya, dengan menggelayut manja di tubuhnya, kutatah segala pertanyan dengan mesra. Dengan berat lelakiku hendak berucap. Namun masih tertahan. Menghentak mungkin di hatinya, namun usah terlontar sedikitpun.

Aku menghempaskan tubuh ke bangku-bangku, mempertanyakan kejujuran lelakiku itu, akankah jawaban keresahan itu kunjung kau beri. Hingga kita lama sekali dalam keadaan hening itu. Tak ada tanya dan kata terlontar sedikit pun keluar dari bibir mungilku, juga darimu lelakiku.

Tapi di penghujung sore, lelakiku mulai gelisah, mondar-mandir mengitari rumah ini. Dan akhirnya ia mulai mengutarkan kerahasiaan yang beberapa waktu itu terpendam.

“Aku ingin matamu bersayap”

Aku kaget, lelakiku meminta itu, tersentak berkali-kali, jantung ini semakin berdegup kencang. Ah, lelakiku kau tega sekali. Bukankah aku selalu memenuhi setiap ucap, gerak dan kehendakmu. Lelakiku kau telah meminta agar mataku bersayap, bukankah itu berat sekali. Bagaimana caranya lelakiku?

Apakah matamu telah gelap tertutup oleh kabut, mengapa bersungut, membelalak. Bukankah kebersamaan telah membuat kita saling mengerti, tapi kenapa kau meminta itu? Ah, lelakiku kau terlalu mengada. Keserakahan melumatmu.

Disaat yang tepat, aku mulai membelahmu dengan belati, menusuk kemudian membelah bagian demi bagian tubuhmu, lembar demi lembar kulitmu. Lelakiku, kau menggelepar, apakah terasa sakit yang amat sangat? Lelakiku kau berkelojotan, bukankah kau mengigingkan mataku bersayap?

Kukira sayap itu ada di dalam dirimu, menyatu, berkalbu dan menyetubuh. Maka akan kuhempas tubuhmu, kukoyak dan akan keluar sayap itu, sayap yang akan menempel di mataku. Iya, aku yakin itu. Terima kasih lelakiku, kau telah memberikan jalannya.*
***

Kau telah menjelma dalam kerajaan terang. Di siang terikmu telah memberikan jawaban, sayap matamu telah menorehkan.
***

Bandar Lampung 2006

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Di Muka Kathedral
Gendhotwukir

cerpen Interview With My Body
Presiden Hayat
i

ceritanet©listonpsiregar2000