ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 135
sabtu 280407

sajak Di Muka Kathedral
Gendhotwukir

Wadak lungsuh susuh menyudut di sela-sela jeruji
Pesona bibir terkatub mantup menggigil
Tanah berpijak bosan dan enggan  membau buah kuldi
Pintu angan tak terbuka untukmu yang dekil

Wajah angkuh kukuh
Membumbung tinggi beralaskan wadak-wadak kumal
Raga kian gaduh riuh
Menatap keindahan dunia yang hanya dikenal

Mati enggan, hidup beralaskan permadani terindah
Melanglang bersama garang yang lupa daratan
Mati enggan, hidup lupa akan kaedah
Lupa menyapa wadak yang rentan

Di muka Kathedral hanya ada angan yang kosong
Keindahanmu tak menjanjikan berkat
Di muka kathedral hanya ada jasat yang gosong
Berharap hikmat yang tak pernah tercatat
030303

Ambang Batas
akan kemanakah  terbangnya layu kembang
telah digenggam oleh petang
namun petang tak segera mengungkap terang
sukma kembang menebar pandang
dijemput 'tak bagi tamu agung

lalu menangislah menatap kehancuran
karena hanya senyum girang terkenang
membau tanah gembur yang sengan
berbalik memeluk luh yang genang

tangis kembang menghuni malam sunyi
kehangatan terkapar di perapian
teriak lantang mengatai pagi
pagi merekah berarti ajal kematian

kenapa tak kau bunuh surya ?
menelan, bak Hanoman duta
hidup tak berpegang harap, bukan ?
tanpa harapan adalah kegelapan

tangis menghuni malam sunyi
enggan menyambut mentari
karena mentari berarti sepi
kematian bertubi-tubi silih beranti

210303

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Lelaki Yang Ingin Mata Kekasihnya Bersayap
Wahyu Heriyadi

cerpen Interview With My Body
Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000