ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 134
sabtu 140407

cerpen Aku dan Hujan
Dyah Nyiur

Hujan kembali membuat aku tercengang-cengang dengan dampak kehadirannya yang aneh. Barangkali sebenarnya semua biasa dan alamiah saja. Tapi bagiku, hampir setiap kudengar gelegar guntur, setiap kali pula kusebut nama Tuhan banyak-banyak di dalam doaku. Sebuah doa penolak bala.

”Tolong, Tuhan, kirimkan hujan-Mu secukupnya. Secukupnya saja! Sampai bulan lalu barangkali kota kami masih menderita kekeringan. Tapi begitu Kau turunkan rejeki hujanmu dengan banyaknya, maka sebentar saja kota ini akan tergenang. O, Tuhan, maafkan aku atas doaku yang plin-plan. Sebulan lalu masih kuminta kau kirimkan segera hujan itu kepada kami,” demikian doaku.

Hujan yang sempat berhenti turun telah membuat sumur-sumur di kampung kami kering. Rumah-rumah kampung di belakang komplek perumahan megah memang selalu menanggung beban lebih berat baik di musim kemarau maupun penghujan. Di sekeliling ”perkampungan dalam kota”  tempat tinggal kami adalah menara-menara rumah susun megah dan pusat perbelanjaan. Sepetak tanah yang di atasnya berdiri beberapa kamar kontrakan,  salah satunya —yang letaknya agak terpisah— adalah yang sedang kami diami,  cuma dibatasi oleh tembok menjulang dari sebuah rumah super besar. ”Tembok raksasa di belakang deretan kamar-kamar ini cuma melingkupi sebuah halaman rumah saja, lho!” Kata tetangga kami pada suatu hari. Dan begitulah. Saat musim kemarau yang lalu sumur pompa listrik kecil dan pompa genjot kami kalah oleh kekuatan mesin jet pump rumah ”tetangga besar” kami itu.

Akan kuceritakan padamu bagaimana kacaunya musim kemarau di kampung kecil kami itu. Hampir setiap pagi, biasanya akan terdengar teriakan-teriakan para ibu di sederetan kamar kontrakan itu. Meriah, menggelikan sekaligus menyedihkan!

” Eh, irit-irit pake aer! Lu pikir cuman lu yang butuh mandi?” teriak seorang ibu nyaring kepada seorang anak tetangganya yang sedang mandi di sumur umum milik sederetan kamar kontrakan tetangga kami itu.

Pok! Anak gua mau berangkat sekolah juga. Butuh mandi! Bagi-bagi dong airnya!” sambung ibu tetangga lain.

Ibu tetangga yang anaknya sedang mandi duluan itu cuma melengos. Kenyatannya, anak ibu itu juga tidak sedang mengguyurkan air mandi yang banyak. Toh air memang sedikit persediannya. Sumur dengan pompa mesin kecil belum bisa difungsikan. Sumur satunya lagi, yang berpompa genjot sudah tak sanggup mengeluarkan banyak air meski sudah membuat semua orang berkeringat karena memompanya.

Rasanya miris mendengarkan tetangga yang bertengkar karena jumlah persediaan air itu. Bagi kami sendiri? Karena kami tinggal sedikit terpisah dari deretan kamar kontrakan itu, kami beruntung karena masih punya sebuah ”kemewahan” besar di musim kemarau panjang yang mengerikan itu. Kamar mandi kami terletak di dalam rumah. Sumur berpompa mesin kecil kami juga kerontang. Kebetulan rumah kontrakan kami berada persis di sebelah rumah induk semang. Dan seperti cerita klasik lainnya, pemilik rumah dan kamar kontrakan tentu saja adalah keluarga yang paling mapan di antara penunggu petak-petak kontrakannya itu. Sumur mereka ber-jet pump, yang masih mampu menyedot air dari kedalaman yang lebih ketimbang sebuah sumur berpompa mesin biasa.

Kamipun lebih beruntung mendapatkan pertolongan ekstra dari keluarga induk semang. Kami boleh menyelang air dari sumur mereka ke rumah kami. Maka satu persoalan untuk sementara teratasi — selama kami rela mengantri untuk menyelang air sesudah kebutuhan keluarga itu terpenuhi (dan kadang-kadang kebutuhan tetangga lainnya juga) — maka persediaan air kami akan terjamin keberadaannya. Namun persoalan baru pun muncul tak lama kemudian. Hidup memang aneh, kita seperti tidak boleh menikmati sebuah kelegaan yang tidak berbatas.

Mengantri air, yang pada awalnya terasa seperti “mendapatkan pencerahan dari sebuah kegelapan” lambat laun membuat kami sedikit merasa tertekan. Pasalnya adalah waktu penggiliran dan jumlah yang dapat ditampung setiap kali kami mendapatkan giliran itu. Kebutuhan ternyata tidak selalu berjumlah sama dengan alat pemenuhannya. Sering kali air mati (atau dimatikan?) ketika kami sedang sibuk-sibuknya melakukan pekerjaan rumah yang notabene membutuhkan air. Misalnya mencuci piring. Seringkali tepat pada saat kami selesai menyabuni piring dan siap untuk membilas, aliran air mendadak mengecil untuk kemudian terhenti.

Atau pada saat kami sedang mengepel atau menyikat kamar mandi. Jangan ditanya bagaimana sulitnya mengatur jadwal mandi! Air hanya akan didapat pada saat malam hari, ketika keluarga induk semang telah memenuhi kebutuhan mereka. Sering pada saat kami sedang mulai mengisi bak mandi kami sembari mandi, air itu berhenti mengalir sebelum bak dapat penuh terisi. Baiklah, malam itu kami lantas membilas tubuh bersabun kami dengan air seadanya. Namun untuk kebutuhan mandi pagi, kami sering terlambat pergi bekerja karena masalah mengantri air!

Pada suatu pagi, pada saat aku sedang menyiduki air sedikit-sedikit dari dalam bak mandi, sembari menyisihkan air dari endapan dan kotorannya, terdengar sebuah pertengkaran kecil — ini bukan yang pertama — dari kamar mandi umum di deretan petak kontrakan tetangga. Kegiatan mandiku terhenti sejenak demi menguping percakapan yang tak terdengar ramah itu.

Eh, jangan pelit-pelit sama air! Musim begini kan harusnya kita berbagi!” terdengar suara dari salah satu perempuan penghuni petak kontrakan. Sebelumnya, aku sempat tidak tahu kepada siapa kemarahannya itu ditujukan. Sampai kudengar sebuah suara lain yang sangat kukenal, menjawabnya. Suara si nyonya induk semang.

”Pelit apanya coba? Saya tuh sudah menghidupkan mesin air sejak jam lima pagi setiap hari! Orang-orang juga sudah tahu dan mereka juga pada antri. Sabar, napa Ceu?! Anak saya juga butuh mandi sebelum pergi ke sekolah!”

Tak terdengar lagi jawaban dari ibu yang tadi menggugatnya. Sepertinya ia mau tak mau memang harus membenarkan dan segera menerima kenyataan bahwa keluarga pemilik kontrakan sesungguhnya telah cukup berbaik hati membagi air kepada keluarga-keluarga pengontrak petak dan rumah mereka. Keputusasaan telah membuatnya sedikit kehilangan kesabaran. Barangkali demikian pula sebenarnya aku. Sebab sering aku menangis di bahu suamiku setiap kali air itu berhenti mengalir di tengah segala kerianganku mengerjakan pekerjaan rumah. Aku tercenung.

Air yang seyogyanya menyegarkan tubuhku pagi itu terasa sedikit asin di sudut bibirku. Bercampur air mata. Baru saja hendak kumaki keterlambatanku seperti biasa karena ketiadaan air untuk mandi pagi itu. Baru saja makian itu hendak kulontarkan kepada ibu pemilik rumah kontrakan yang malang itu, meski tentunya tidak secara langsung seperti para penghuni petak kontrakan. Aku menyadari keterbatasan kami mendapatkan air setiap pagi, tombol mesin air berada di dalam rumah induk semang. Kami tak dapat berbuat apa-apa sebelum sang pemilik rumah berbaik hati menyalakannya, tak berdaya selama mengantri selang air yang sedianya akan di julurkan dari rumahnya, menuju bak kami melalui sebuah lubang pipa di tembok kamar mandi.

Demikianlah, musim kemarau di kampung perkontrakkan kami. Hari-hari itu kupenuhi dengan sebuah doa yang berbunyi begini, ”Tuhan, segera turunkan hujan yang banyak kepada kami, supaya segera penuh kembali sumur-sumur kami!”

Sementara menunggu musim hujan tiba, kami memutuskan untuk menyabang selang leding dari rumah induk semang. Sebagai kompensasinya, kami akan turut membayar iuran bulanan, dengan perkiraan hitungan yang telah disepakati bersama antara kami dan pemilik kontrakan tersebut. Satu masalah telah terpecahkan lagi. Tapi seperti biasa, hidup memang aneh, kita seperti tidak boleh menikmati sebuah kelegaan yang tidak berbatas.

Doaku terkabul. Tepatnya doa kami semua. Musim hujan telah tiba. Hujan turun dengan derasnya. Bahkan sangat deras. Terlalu deras barangkali, melebihi harapan kami. Kami tidak berani menyalahkan Tuhan. Toh, segalanya telah sesuai dengan doa yang kami panjatkan kepada-Nya saat musim kemarau yang lalu terasa sangat menyiksa; ”Tuhan, segera turunkan hujan yang banyak kepada kami, supaya segera penuh kembali sumur-sumur kami!”

Demikianlah keadaannya. Kami belum sempat mengamati kembali apakah sumur berpompa mesin kecil milik kami itu telah berisi air kembali. Kami juga belum sempat bertanya kepada para warga tetangga  penghuni deretan kamar-kamar kontrakan di belakang rumah, apakah sumur pompa genjot di kamar mandi umum mereka telah kembali mengucurkan air dengan derasnya. Hanya satu hal yang pasti, dan telah kami ketahui dan derita bersama-sama. Banjir. Banjir telah melanda rumah kami bersamaan dengan datangnya rejeki hujan yang deras dari Tuhan. Maafkan kami, Tuhan. Kami tentu saja tak berhak menggugat apa-apa. Tapi ijinkan kami meralat doa kami kepada-Mu selama ini:

”Tolong, Tuhan! Kirimkan hujan-Mu secukupnya. secukupnya saja! Hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan air kami.” Apakah doa ini terdengar plin-plan hingga telah mengundang kemarahan Tuhan?

Barangkali sumur-sumur kami tak hanya telah berisi air kembali kini. Selokan telah penuh pula hingga meluap. Selokan yang meluap itu meruahkan air dan sampah dari perutnya. Selokan yang meluap itu mengirimkan airnya ke deretan kamar kontrakkan di belakang rumah kami. Selokan yang meluap itu telah mengirimkan pula airnya masuk kedalam kamar mandi kami lewat saluran pembuangan air dan lubang pipa tempat selang air kami biasanya berada. Selokan yang meluap itu telah membuat kami terisolasi dari dunia di luar kampung kecil kami.

Banjir! Banjir dan banjir! Para ibu dan ayah kerepotan menyelamatkan pakaian, kardus-kardus entah berisi apa, televisi, radio, kotak pengeras suara, keluarga, anak-anak bermain dengan keriangan yang sulit diungkapkan dengan kata. Betapa anehnya! Hujan, banjir dan keriangan kanak yang mengiriskan.

Beberapa keluarga telah memutuskan untuk mengungsi. Terutama keluarga-keluarga yang tinggal di sisi lain kampung kami, yang dekat dengan sungai. Mereka sungguh tidak hanya sedang menghadapi meluapnya sebuah got! Mereka sedang menghadapi amukan banjir sungai dan maut yang diantarkan  luapan berikut arusnya.

Air hujan dan banjir telah melalap rumah-rumah beserta segala isinya. Melalap jalan raya. Melalap senyum orang-orang yang sempat mengembang saat tetesnya yang pertama tiba.

Hujan di Jakarta memang aneh. Ia ditunggu kehadirannya sekaligus ditakuti. Hujan di Jakarta sanggup membunuh sembari ia menghidupi.
***
Jakarta, akhir Januari 2007

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Salam Sastra Buat Pujangga
Elmi Zulkarnain

esei Rasio Sastra, Mengenang Pramoedya Ananta Toer
M. Arpan Rachman

ceritanet©listonpsiregar2000