ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 133
senin 020407

sajak Tangisan Setetes Darah
Dewi Penyair

mengapung rindu di permukaan
menyembunyikan lara pada sang bintang
diantara pedih, luka, cinta, dan rindu
terkoyak malam, tak tertahankan

setetes darah, telah berkecupan
dengan kulit lembut mempesona hati
enggan beranjak, masih merindu
jangan diusap, aku tak mau pergi!
menangis lirih tak berdaya

aku pun sama, kekasihku
telah menari dalam lingkaran kesempurnaanmu
berbelai kata dan syair indahmu
yang terbawa hingga ke mimpi

turunkan tangisku
hingga darah tak menangis
peluk rinduku
sampai kau menangis

Sepiring Embun Rindu

kekasih, basahi aku dengan keringatmu,
karena aku tak bisa menghilangkan dahagaku,
basahi jiwaku, sebelum matahari menyusun awan-awan
sebelum dedaunan bersentuhan dengan angin pagi

bangunkan jiwaku, kekasihku...
hingga aku tak tertidur sedetikpun
menyanyikan lagu malam
melukiskan keceriaan kelip bintang
mempersiapkan warna pada kelopak bunga
yang esok akan mekar merekah

kekasihku,
sekuntum kenanga sudah kuselipkan di sisi pagi,
dan telah kuhidangkan bagimu
lukisan tangan ketika mata tak terkantuk,
kini tergeletak di meja makanmu
untuk kau nikmati,
dengan secangkir kopi dan sepiring embun rindu
yang telah ku petik semalaman...

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Pada Rumah Tua
Moyank

sajak Adakah Kau Rasakan Gundah Itu? Teguh S. Usis

sajak Setetes Harapan Di Akhir Perjalanan
Feri Hendriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000