ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 133
senin 020407

sajak Adakah Kau Rasakan Gundah Itu?
Teguh S. Usis

adakah kau rasakan gundah itu? ketika lembayung kabut
menyaput. pancaran matahari pelan-pelan redup. anehnya,
aku masih tetap berdiri, tak hendak beranjak pergi.

lalu, kau datang. bawakan aku mantra dalam doa.
kau bilang, “sabar, sayangku”. kau kecup peluhku. pelan-pelan.
di atasmu, gerimis mulai turun. basahi rambutmu.
dan sekujur kepenatan ini.

aku tak tahu mesti ucap apa. kata-kata mungkin sudah tiada
guna. dan, aku tak hendak menggantinya dengan maki. aku
takut kau tak suka. padahal, gundahku semua dari sana.

bisakah kau rebahkan sejenak penatku ini? aku hendak
berbaring pada ranjang tuamu. sebentar saja, hanya sebentar.
biar lepas semua. mengawang, lantas terbang ke awan.
(mungkinkah di sana disambut ceria matahari? didendangkan
lagu, diselimutkan rindu?)

o, tak kukira akan seberat ini. padahal, kau datang dengan
senyum. maaf, cuma itu yang bisa kuucap. lalu, matamu
menutup. dan, tak lagi bisa kucium harum melati dari rambutmu.

terakhir, biarkan saja semua seperti ini. aku tahu, kau pun
sebenarnya sudah lelah. izinkan saja aku mengatupkan
jemarimu, dengan jemariku. lentera itu pun padam sudah.
(sejuta doa sudah kita alirkan. sejuta air mata sudah kita tangiskan).

Kutimang Rindu Ini

kutimang rindu ini dalam dekap angin senja. sudah lama memang
tak kau sentuh. sejak pilu bertautkan duka. ah, seberapa jauh
kau berlari. jejakkan tapak kecilmu pada butir pasir pantai.
lalu, kau ajak aku membuat miniatur rumah indah. katamu,
ini nanti akan jadi milik kita.

kau senyum. sambil membuai asa. aku ajak dirimu menyibak
cakrawala.

gelap pun tiba. ada kunang-kunang di matamu. hendak kuambil,
tapi segera kau cegah. biarkan saja, ujarmu. aku pun tak ingin
mengusik senyapmu.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Pada Rumah Tua
Moyank

sajak Tangisan Setetes Darah Dewi Penyair

sajak Setetes Harapan Di Akhir Perjalanan
Feri Hendriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000