ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 132
rabu 210307

cerpen Aaja Savariya
come to me, my beloved
Farah Rachmat

Pemandangan Pantai masih saja mempesona. Apalagi waktu kami menikmati matahari tenggelam. Saat di Pantai, ketika jalan-jalan dengan Anjeli, aku memperhatikan tekstur pasir Pantai yang mempesona. Aku merasa goresan air laut pada pasir Pantai mempunyai sejuta rahasia, sejuta cinta dan kasih, tergurat pada tekstur Pantai. Romantis sekali perasaanku saat itu. Matahari tenggelam juga mempunyai misteri lain, yang selalu mempersembahkan suasana, warna dan motif-motif berbeda pada langit. Langit saat itu banyak awan kelabu menggumpal diseling warna jingga menyebar ke seluruh relung awan dan perlahan menghilang dalam gelap malam.

Jemari tanganku, jemari tangannya bertaut. Jalan kami sudah jauh. Kami sesekali memperhatikan jemari kaki kami bergemerenyut di pasir hitam bertekstur. Dan kami melangkah tanpa melihat lagi begitu banyak jejak kaki kami timbul tenggelam sebab air laut yang selalu menyapa garis Pantai yang telah kami jalani.

Anjeli. Ah, Anjeli. Aku merasakan genggaman jemarinya merenggang tiba-tiba.

“Mal, coba lihat itu.” Ia mengarahkan telunjuknya ke awan. Kulihat… bulan baru muncul.
“Bulan baru,” gumamku. Mata Anjeli berubah sedih.
“Ada apa?” mataku menembus matanya yang hitam bulat.
“Tidak.” Ia mengalihkan pandangan dari tatapanku.

Genggaman kami terlepas. Ia melangkah menjauh beberapa langkah.

Aku melangkah pelan mengikutinya.

Kami berjalan dalam diam.
**

Pantai yang kulalui bersama Anjeli, kini kutelusuri lagi. Bulan baru ke-3 setelah perjalanan Pantai kami. Aaja Savariya, come to me my beloved.

Aku begitu merindukannya. Kupandangi awan, bergumpal, kelabu. Tak sama seperti aku menikmati terakhir kali bersama gadis berambut cepak dan bermuka dolicocepal itu. Tidak, awan kali ini agak lebih bergumpal seperti menyajikan gumpalan gulali. Warna yang menyertainya tidak juga sama, kali ini agak oranye mencolok…lebih menyerupai smoothies orange dalam bentuk lain.  

Aku bergerak menuju kendaraan. Aku berencana menuju rumah Anjeli. Aku tidak ingin menyia-nyiakan semangat dalam gelegak darahku. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, sebelum semua harus berakhir.

Tetapi, Anjeli… Anjeli tidak ingin kutemui. Aku memutuskan untuk segera pulang dan menyiapkan barangku. Esok pesawatku berangkat pagi sekali. Jika ia ingin bertemu denganku terakhir kali, esoklah saatnya.
**

Tiada kabar untukku. Tiada. Nada. Sepenggal Wait for the Magicnya Al Jarreau terdengar dari radio yang kupasang sedari tadi.

…well you touch him like a master/and you fit him like a glove/and his heart keeps beating faster/could it be this man’s love/you may lose, you may win/find love’ll break your heart/the best you can do is take a chance/jump in and play your part, as you wait for the magic/no, not forever/ just wait for the magic again/never look down, no, no/ don’t surrender/ just wait for the magic again, never look down, no, no/don’t surrender/just wait for the magic again.

Aku tertegun. Aku mungkin bukan orang yang selalu menginginkan sesuatu yang kuinginkan dengan kesungguhan hati. Ah. Aku sudah jauh dari Anjeli. Tak ada sesuatu yang dapat aku tunggu,atau…apakah aku harus menunggu keajaiban itu, Anjeli?
**

Bulan baru lagi, sekilas kutangkap saat aku masuk ke dalam rumah. Aku harus berbuat sesuatu. …jump in and play my part as I wait for the magic.

Tapi, sungguh. Aku berusaha for jumping in and playing part… but…I cannot wait for the magic no more.

Aku ingin sesuatu terjadi dalam jangkauan akal sehatku kali ini. Angeli, aaja savariya.

Aku melihat sepucuk surat di atas mejaku. Hampir berhenti degup jantungku. Anjeli. Adakah ini jawaban dari penantian? Kutimang-timang amplop itu. Sepertinya hanyalah sebuah kartu saja. Tak lebih. Perlahan kubuka amplop itu dan kudapati…

Kemal sayang,
Maafkan aku.

Belumlah aku sampai membaca keseluruhan, sebuah foto terjatuh dan aku melihat foto Anjeli…dan…ah siapakah lelaki ini?
I should not wait for the magic no more.

Mestinya aku sudah harus memahami ini, sedari dulu, sedari aku mengenal Anjeli. Dia sudah memberitahu hal ini. Bukan, bukan karena aku ingin menjajal kepastian yang bisa saja tidak mengenakkan akhirnya. Seperti ini. Bukan. Aku melihatnya, gadis itu…melihat si gadis berambut cepak berwajah dolicocepal itu karena memang, memang demikian adanya. Tiada yang membuatku harus atau tidak harus, tiada yang membuatku menafikan semua yang telah terjadi. Seperti kali ini. Tiada.

Aaja savariya… di ujung sendu ini, kurasa kau akan memahami betapa aku masih merindukanmu. Tiada yang tahu, tak seorangpun…hanya ada satu masih tersisa dalam relung hatiku… Waiting for another magic.
***
Nabire, 4 Mei 2006

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen
Sekeping Hati

Egita Pauline

cerpen
Topeng

Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000