ceritanet                          situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 131
jumat 090307

cerpen Ruangan Maya
Wahyu Heriyadi

Telah lama kukenal dengan ruangan maya atau istilah asingnya cyberspace, bukan cybersex. Chat, email, situs dan sebagainya. Juga kutahu bahwa situs porno selalu keluar dan mengundang untuk diakses, begitu diklik maka akan berhamburan keluar dan mengundangku untuk mengaksesnya. Coba saja. Dan kau akan disibukkan dengan link dari situs tersebut yang berhamburan ke situs porno lainnya, kuharap kau tidak kewalahan, atau bahkan kesal dan menutupnya.

Biasa saja, buka dan lihat dengan seksama. Produk lokal pun banyak dan berhamburan disana. Selalu ada versi di internetnya. Mudah diakses, tinggal mencari di warung internet terdekat atau kalau punya jaringan internet sendiri di rumah lebih mudah. Ya dapat diketahui juga bahwa ada yang hanya direkayasa saja gambar-gambarnya, juga ada yang asli, entah siapa yang bisa menyebarnya.

Tapi RUU tentang Anti Pornografi tidak terdengar lagi gaungnya. Padahal wacananya menyesak di media. Di jalanan. Terjadi pertentangan wacana pornografi tersebut. Antara  pendakwah dengan pedangdut. Antara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan wacana pornografi tersebut semakin meruncing. Namun setelah itu tertimpa lagi oleh wacana lainnya yang lebih menarik.

Tenggelam, ditinggalkan, dan berlalu sehingga terlupakan. Atau memang sengaja dilupakan, seperti dengan mudahnya melupakan masa lalu bangsa yang kelam misalnya. Sejarah bangsa yang mengalami keretakan dan rekayasa. Ah, tapi kembali lagi ke dunia maya.

Bagiku email lebih penting dari situs porno itu. Aku telah beberapa kali membuat email, awalnya tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Tapi beruntung. Akhirnya bisa kupelajari, hingga dapat berkenalan pula dengan seseorang, beberapa orang, dan banyak orang. Bahkan Tego yang playboy (bukan majalah) menggunakan fasilitas ini untuk menggaet teman kencannya. Dia pernah melakukan one nigth stand (cinta semalam) yang tak pernah terlupakan. 

Aku sadar, bahwa aku hanya pengguna saja, bukan programmer yang bisa mengerti seluk beluknya dunia maya, juga bukan hacker yang bisa mengobrak-abrik dunia maya. Pernah pula Roy, temanku yang gila komputer, menggunakan gambar porno untuk menghack situs kampus, rupanya  para pengaman tahu. Lalu dicari Roy hingga kekostnya, dia dijadikan staf untuk keamanan situs, sungguh upaya yang tidak sia-sia. Entah apakah itu yang disebut sebuah politik identitas. Menunjukkan kekuasaannya.

Roy juga pernah menghack sebuah perguruan di luar negeri. Memesan sebuah Jaguar dan tidak membayarnya; hanya memesan saja. Mengganti situs sebuah lembaga menjadi situs porno. Mengubah, dan banyak lainnya, bahkan mungkin ada yang lebih dahsyat dan belum pernah diceritakan padaku. Aktifitasnya terhenti oleh seorang master hacker yang bisa mengendalikan komputernya dari jarak jauh.

Aku suka juga dengan chat. Bisa bertukar pikiran tentang apa saja. Ttiba-tiba terasa ada orang di sampingku, entah bagaimana. Dan aku bisa menjadi laki-laki atau perempuan --batasan seksual memang menjadi kabur. Terkadang dengan menggunakan nama cewek berdatanganlah berbagai kata dan merasuk ke dalam ruangan chatku.

Tiba-tiba ada yang masuk di ruang chat,
ce_lembut_lho : asl pls
co_novelis : 24 m lmp u?
ce_lembut_lho : 19 f, lmp?
co_novelis : Lampung
ce_lembut_lho : bye
no such/nick channel

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_tembuspandang : salam revolusi
co_novelis : revolusi mbahmu
ce_tembuspandang : asu
co_novelis : muah
ce_tembuspandang : kontra revolusi kau
co_novelis : biarin
ce_tembuspandang : antek-antek imperialis
co_novelis : so what gitu lho
co_novelis : revolusi itu temanku
co_novelis : Asep Revolusi

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
co_hacker : Mau jadi hacker?
co_novelis : Tidak
co_hacker : Mau sih
co_novelis : Ya udah gimana?
co_hacker : Kukirimi lewat email aja
co_novelis : loser_radical@..........
co_hacker : Ntar baca di emailmu

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_kesepian : Aku kesepian
co_novelis : Aku juga

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_sabun : Ayo sabuni
co_novelis : Menyabuni apa
ce_sabun : Apa saja yang bisa kusabuni
co_novelis : Bagaimana kalau
ce_sabun : Boleh
co_novelis : Yang mana
ce_sabun : Yang mana-mana
co_novelis : Dari bawah ke atas
ce_sabun : Terserah
co_novelis : Dari tengah ke samping
ce_sabun : Terserah
co_novelis : Ah, cape deh

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_minum : Ayo kita minum-minum
co_novelis : Mabuk
ce_minum : Apalagilah
co_novelis : Wine
ce_minum : Boleh
co_novelis : Bagaimana sambil berpuisi
ce_minum : Malas ah
ce_minum : Hanya ingin merayakan sesuatu
ce_minum : Aku punya red wine
co_novelis : Aku punya minuman dingin bersoda
ce_minum : Tak apalah
ce_minum : Bersulang
co_novelis : Bersulang untuk apa
ce_minum : Kesedihan
co_novelis : Mengapa kau rayakan

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_filsuf : Kau ada
co_novelis : Ada
ce_filsuf : Dimana
co_novelis : Disini
ce_filsuf : Dimana-mana
co_novelis : Siapa kau
ce_filsuf : Kamu
co_novelis : Aku
Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_genit : Setubuhi aku
co_novelis : Gila
ce_genit : Ayo
co_novelis : Bagaimana caranya
ce_genit : Terserah
ce_genit : Ayo, aku lagi melucuti pakaian
co_novelis : Satu persatu
ce_genit : Ini kubuka bajuku
co_novelis : Sudah cukup
ce_genit : Lihat ini, ayo

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
co_samaran : Rokku pendek lho
co_novelis : Apa
co_samaran : Boleh kau intip
co_novelis : Kau cowok bukan
co_samaran : Aku menyamar
co_novelis : Emangnye intel bisa samar-samaran
co_novelis : Takut aku
co_samaran : Nggak usah takut, santai aja
co_novelis : Tolong, aku diteror
co_samaran : Ssst, siapa teror kamu say
co_novelis : Apa, say?
co_samaran : Iya
co_novelis : Sejak kapan jadi sayanganmu
co_samaran : Barusan
co_novelis : Waduh kau ini
co_samaran : Aku makin sayang
co_samaran : Aku mau telanjang
co_novelis : Aku mau muntah

Ada yang  masuk lagi di ruangan chat,
ce_baik : Kau suka pantai
co_novelis : Suka
ce_baik : Sedih kuingat
co_novelis : Pantai itu
ce_baik : Iya
co_novelis : Kenapa
ce_baik : Gelombang di laut itu
co_novelis : Kenapa dengan gelombang
ce_baik : Telah menghempaskan
ce_baik : Aku juga tidak suka dengan lumpur
co_novelis : Kenapa
ce_baik : Lumpur itu telah menenggelamkan
co_novelis : Apa yang telah tenggelam
ce_baik : Kebahagiaan
ce_baik : Rumah-rumah, perkampungan, tempat hidup
ce_baik : Kau harus merasakannya
ce_baik : Aku hanya bisa menangis
ce_baik : Lalu menggalang dana amal
co_novelis : Bagus kalau begitu
co_novelis : Aku tidak melakukan apa-apa
ce_baik : Kau harus melakukan sesuatu
co_novelis : Apa misalnya
ce_baik : Kau suka menulis
co_novelis : Sepertinya
ce_baik : Maka kau tuliskan
co_novelis : Iya juga
ce_baik : Ayo jangan tunggu
ce_baik : Tuliskan saja
ce_baik : Dan sebarkan ke mana saja
co_novelis : Ide bagus
co_novelis : Terima kasih
ce_baik : Sama-sama
ce_baik : Kau juga mau mendengar curhatanku

Tiba-tiba aku gelisah; apakah aku internet addicted, kecanduan internet. Tak nginternet, tak di ruang maya, badan menggigil, gelisah, was-was, jantung berdebar-debar, gelisah lagi, tak terkendali, perilaku buas. Mencari-cari warung buat nginternet, sakau. Kejang-kejang. Mengigau tentang email, tentang situs yang belum dibuka, belum ngisi blog, belum ngirim puisi ke pacar lewat email, belum chatting, belum milis. Menggigil.

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen
Surat Serat Jati Wa Ode Kepada
Paman Yones Koanfora Pellokia

Andiko

esei Belanda, Pengkhianatan dan Pahlawan
T. Wijaya

ceritanet©listonpsiregar2000