ceritanet  edisi 130 senin 19 februari 2007,  po box 49 jkppj 10210


tentang ceritanet


laporan
Cina, dari Mata Yang Lain
Liston P. Siregar

Dengan pertumbuhan ekonomi lebih dari 10 %, persiapan sebagai tuan rumah Olimpiade 2008, dan sikap menentang sanksi keras atas negara jahat Korea Utara yang dikutuk Barat, Cina jelas merupakan kekuatan ekonomi dan politik yang menjadi perhatian dunia. Raksasa Cina sudah bangkit dan akan maju terus tak terhentikan lagi; berkembang semakin besar, semakin maju, dan akan tetap semakin besar dan akan tetap semakin maju.

Tapi di baliknya --yang juga diangkat banyak orang-- ada gelombang urbanisasi yang menghasilkan kaum miskin perkotaan, penggusuran rumah-rumah kuno bersejarah, maupun sensor atas media asing dan lokal –penahanan 2 wartawan yang bekerja untuk media asing belum lama berselang adalah cambuk yang langsung terasa getarnya ke seluruh dunia.

Dibaliknya lagi? Tergambar di  A Thousand Years, yang dituturkan dengan sabar, dingin --tapi memukul ulu hati pembaca-- oleh Yiyun Li, perempuan kelahiran Beijing yang kini menetap di Amerika Serikat. Hidup di negara ‘demokrasi’ yang paling ketus atas Cina, tidak membuat Yiyun Li marah-marah, berteriak, atau menggebrak pemerintah Cina yang melaju kencang dan mulus dengan kaca mata kuda di jalan tol --disaksikan oleh masyarakat pinggiran yang hidupnya transparan.

Itulah yang dicatat Yiyun Li, seperti catatan wartawan-wartawan asing yang terkagum-kagum --atau mungkin iri hati-- pada Cina. Bedanya, Yiyun mencatat dengan ‘rasa,’ yang akan sulit dilakukan oleh sesorang yang tidak pernah hidup dan tumbuh dalam masyarakat Cina yang sedang berubah pesat. Dan catatan seperti itu bisa menggugah orang untuk tertanya-tanya; apakah Cina memang berada di jalur yang tepat dengan kecepatan yang pas?

Cerita pertama, Extra, tentang Nenek Lin atau Lin Mei, karyawati sebatang kara berusia 51 yang dipensiunkan dari pabrik tekstil milik negara yang bangkrut. Dia mendapat sertifikat dengan tulisan berwarna emas dan tabungan yang cukup untuk hidup setahun. Kebangkrutan BUMN Cina yang dihantam kebijakan privatisasi merupakan laporan yang beberapa kali kita baca, tonton, atau dengar di BBC, CNN, The Economist, Tempo, atau Kompas. Yang kurang adalah drama manusianya, sebagai konsekuensi langsung dari keambrukan ekonomi negara.

Dalam Extra, ada keluarga yang membutuhkan perawat bagi ayah berusia 76 tahun yang menderita darah tinggi dan diabetes. Istrinya sudah meninggal dan kedua putranya sibuk dengan usaha masing-masing, maka lewat mak comblang Nenek Lin lulus seleksi menjabat istri Tuan Tang Tua, yang ditengah kepikunannya tak sudi menerima posisi istrinya digantikan oleh Lin Mei. Penolakan yang membuat Tang Tua tergelincir, jatuh, dan tewas. Nenek Lin dituding menjadi penyebab kematian Tuan Tang, namun seorang putra Tang yang punya kenalan top masih berbaik hati menawarkan pekerjaan sebagai pembersih. “Ketika salah seorang putranya menawarkan pekerjaan di sekolah asrama swasta yang dikelola temannya, Nenek Lin hampir menangis gembira.”

Di sekolah tempat anak-anak orang kaya Cina itu, dia bersahabat dengan bocah laki-laki 6 tahun, Kang, yang bapaknya punya istri baru dan ibunya berjanji akan menjemputnya suatu waktu kelak. Kang suka mengumpulkan kaus kaki teman-temanya, dan suatu kali memohon Nenek Lin mengantarkan ke ibunya, namun ditolak dan Kang lari dari sekolah beberapa hari. Ketika Kang kembali, Nenek Lin dituding dan dipecat dari sekolah. Di jalanan, tasnya dirampok orang tapi dia tak gusar karena masih mendekap kencang kotak makan siangnya, berisi 3000 Yuan uang PHK dan kaus kaki berhias gambar bunga; ‘souvenir dari kisah cintanya yang singkat.’ Nenek Lin yang terlempar, yang kesepian, yang sempat sekejap menikmati cinta.

Drama itulah yang dicatat Yiyun Li, mantan mahasiswa Peking University. Bulan September 1991, dua tahun setelah peristiwa Tianamen, mahasiswa baru Li ikut program pendidikan ulang politik selama setahun ke Xinyang, Cina Tengah. Di situ, ketika indoktrinasi usai dan lampu padam, dia menulis tentang bunyi jangkrik, babi yang berguling di lumpur, atau lalat yang terperangkap di sarang laba-laba. Kesabaran dalam menulis rincian-rincian itu muncul dalam cerpen-cerpen Yiyun Li, yang tidak menggunakan kalimat atau kata sastrawi yang subjektif dan  imajinatif untuk menghadirkan keindahan. Tapi Li berupaya sepraktis mungkin mendekati realita tanpa harus selalu menjadi indah, namun sekaligus tidak kehilangan rasa; seperti mengupas kulit bawang lapis demi lapis dan perlahan-lahan mata terasa pedih sampai mengeluarkan air mata.

Dan pengalaman pendidikan ulang politik di kem militer dengan nyanyian rutin ‘Komunisme itu Baik’ atau ‘Balada Pejuang Wanita Merah’ membuat Immortality tentang ‘impersonator’ seorang diktator tetap menarik dengan karakter masyarakat Cina yang bergerak, walau sudah sering didengar atau dialami banyak orang di negeri lain. Seorang bayi laki-laki berwajah mirip seperti ‘diktator’ lahir, dan semakin besar semakin mirip pula dengan Penyelamat Kita, Bintang Utara Kehidupan Kita, Matahari Yang Tak Pernah Terbenam Dalam Kehidupan Kita. “Selama bertahun-tahun kami tidak tahu apakah merupakan berkah atau bencana bahwa seorang anak laki-laki dengan wajah diktator hidup diantara kami.” Laki-laki itu sendiri mungkin punya pertanyaan yang sama; berkah atau bencana.

Lewat pemilihan nasional, dia kemudian terpilih menjadi bayangan sang pemimpin agung, bepergian keliling negeri, hadir di upacara nasional, tampil di layar TV. Orang-orang rebutan bersalaman dengannya, diharap-harap oleh setiap ibu yang punya anak perempuan –namun tak ada perempuan yang layak berdampingan dengannya. Namun suatu kali muncul fotonya di tempat pelacuran dan Komite Sentral Pengaturan Kebudayaan memutuskan dia telah mencemarkan nama yang diwakilinya. Tak ada yang bisa membayangkan sang bayangan dipecat.

Sulit rasanya memang membayangkan Cina pada tahun 2006 ini pernah terlintas di benak orang pada saat tragedi Tiananmen tahun 1989, yang justru dilihat sebagai titik balik dari langkah-langkah awal demokrasi Cina. Menurut Yiyun Li, Cina --pada saat bersamaan-- membuka dan menutup dirinya. Setelah menyambut investasi dan pengaruh Barat pada awal 1980-an, optimisme ambruk karena Tiananmen. “Setiap hari, sebelum berangkat ke sekolah, orang tuaku mengingatkanku untuk diam saja di depan umum,” kenangnya. Kebebasan untuk mengungkapkan keluhan di depan umum musnah ketika ratusan orang ditembak mati di Tiananmen dan keadaan darurat diberlakukan di Beijing selama 8 bulan.

Tahun 1196, Li berimigrasi ke Amerika Serikat dan belajar Imunlology di Universitas Iowa, namun setelah selesai sekolah dia ikut Workshop Iowa Writers hingga meraih Master of Fine Arts, MFA. Penghargaan yang sudah ia terima antara lain Pen/Hemmingway Award, Plimpton Pize dari Paris Review, dan Frank O’Connor  International Short Story Award. Walau permohonan untuk tinggal menetap ditolak pemerintah Amerika Serikat, dia masih tinggal di Amerika dan mengajar MFA di Mills College, Oakland, California.

Mungkin A Thousand Years merupakan semacam perjalanan ‘pulang’ ke masa pra-Tiananmen, ketika orang-orang di Cina masih bisa bebas mengeluh. Namun Yiyun Li sebenarnya tidak mengeluh; dia lebih mencatat secara seksama dan menggunakan hatinya dengan setting perjalanan politik dan ekonomi raksasa Cina.   

Ada 10 cerita pendek yang dirangkum dalam A Thousand Years of Good Prayers, dan seluruhnya bertema perbenturan antara sesuatu yang ‘baru’ dan yang ‘lama.’ Son, tentang pertemuan pria berusia 33 tahun yang datang dari Amerika untuk melihat ibunya, menggambarkan jurang yang bisa terjadi di mana saja. Namun di Cina, gerak pendulumnya lebih kuat lagi. Waktu masih sekolah, ayah Han menemukan alkitabnya dan ibunya, anggota Liga Pemuda Komunis, yang membakar alkitab itu. Ketika menjemput di bandara, ibu Han menyambut dengan hadiah kalung salib berwarna emas. Han, pria homoseksual, juga menolak menemami ibunya masuk gereja. “Saya terkutuk. Siapapun Tuhanmu, dia tidak akan suka orang-orang seperti aku.” Dan ibunya menjawab; Tuhan mencintai kamu apa adanya, bukan apa yang diharapkan orang atasmu.”
 
Dalam biografi singkatnya, My Story, Bye Bye Beijing di Majalah Prospect terbitan London, Li menulis bahwa uang menjadi topik utama pada masa tahun 1990-an. Dan pada tahun 1992, partai mengganti ‘ekonomi terencana’ dengan kebijakan ‘ekonomi pasar komunis.’ Dia juga mencatat; “Tidak butuh waktu lama bagi orang di Beijing untuk melupakan Tiananmen. Kebisuan, dan duka dari korban yang tewas, digantikan dengan kebiasaan bercanda jika 1989 diangkat,” tulis Yiyun Li.

Walau tak satupun cerpen Yiyun Li tentang Tiananmen, dia menyuarakan kembali kebisuan dan duka dari korban-korban yang tewas di Cina. Bukan hanya dari peristiwa Tianmen, tapi dari seluruh proses perjalanan modern raksasa ekonomi dan politik Cina. ***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


cerpen Takut Miskin, Sebuah Dialog
Ronny P. Sasmita

memoar Bajaj Pasti Berlalu
Presiden Hayat

cerpen Pindah Jajang R. Kawentar

ceritanet
©listonpsiregar2000