ceritanet  edisi 130 senin 19 februari 2007,  po box 49 jkppj 10210


tentang ceritanet


cerpen
Pindah
Jajang R. Kawentrar

Jangan ragu memutuskan sesuatu apabila dalam hati telah penuh atau sudah cukup niatan untuk melakukan sesuatu sejak lama. Pindah merupakan resiko yang harus ditanggung. Disekelilingnya adalah masalah-masalah gentayangan yang siap merong-rong dalam kondisi ragu dan tidak siaga. Masalah sudah pasti menghampiri dalam keadaan apapun.

Untuk itu, pindah adalah masalah, tidak pindah juga masalah. Jadi pindah keputusan di tangan dan di dada yang rela berkorban menerima tantangan. Kalau tidak materi, tenaga, pikiran atau nyawa menjadi taruhan. Bisa jadi pikiran orang lain, tenaga orang lain, nyawa orang lain, materi orang lain, atau kita sendiri taruhannya.

Rencana kepindahan Mang Ujang telah menyebar dari mulut ke mulut. Sehingga orang-orang se-dusun mengetahui hanya semalam saja berita menyebar. Sore hari menjelang magrib sepulangnya dari ladang, setelah mandi di Lematang ia bercerita kepada Jali, kawan dekatnya.

“Kau jangan banyak cerita sama orang lain, cukup kita berdua saja yang tahu.” Mang Ujang berpesan setelah panjang lebar membeberkan rencananya.

Jali segera bergegas memenuhi panggilan adzan di langgar. Ia sedikit mengambil langkah seribu. Maklum ia kebagian menjadi imam maghrib.

Begitulah kegiatan rutin di dusun, selain kumpul di Langgar juga di pos kamling. Antara pengajian bapak-bapak, ibu-ibu dan pengajian muda-mudi atau jaga malam. Selain itu main remi, main gaple hingga larut, bahkan hingga sarapan pagi. Kadang-kadang gotong royong bersihkan siring-siring yang tersumbat atau bantu orang sedekahan di hari Minggu. Ini masalah etika dan gaya hidup dusun yang dibentuk dari kehalusan budi pekerti dan pemikiran sosial.

Cukup lama Jali duduk menengadahkan kedua tangan seraya memanjatkan doa setelah selesai sholat berjamaah. Segunung yang dipintakannya pada Tuhan. Jamaah lainnya satu persatu meninggalkan Langgar. Jali bertahan bersila, seperti sedang adu kekuatan doa dengan Gustamin, kawan dekatnya.

Gustamin penjaga gawang Langgar yang biasa adzan atau membereskan tikar dan sajadah, sekaligus tukang cuci, nyapu serta ngepel Langgar. Dialah yang selalu on time menjenguk dan mencumbu rumah Tuhan itu dan menyeru umat yang terlena dengan tugas juga kesenangan.

Gustamin kepercayaan Jali; rasanya tidak mungkin ada penghianatan diantara mereka. Mereka orang lama yang tinggal di Pagar Sari, sudah saling tahu kurap dan kudis di badannya. Mereka sudah saling telanjangi, saling tengok hati, saling selami jiwa. Mereka saling berpandang, dua mata bersatu saling mengulurkan tangan. Dua tangan erat berjabat. Mereka tidak langsung meninggalkan tempat itu, mereka bercengkrama saling menyapa, apakabar sanak keluarganya.

“Min, kau jangan banyak cerita sama orang lain, cukup kita berdua saja yang tahu.” Jali berpesan usai panjang lebar bercerita tentang rencana Mang Ujang.

Ini bukan masalah etika atau kesetiaan, tetapi ini masalah budaya, guyub atau galibnya berpenduduk di dusun Pagar Sari. Rahasia hanya ada dalam hati, makanya hati orang siapa tahu. Gustamin punya kawan dekat dan saudara dekat. Jali punya beberapa kawan dekat dan saudara dekat. Mang Ujang punya banyak kawan dekat, meskipun tidak punya saudara dekat satu darah, karena ia memang perantau dari seberang yang mengungsi akibat bencana.

Dusunnya tidak pernah berhenti tertimpa bencana. Bencana ini itu. Bencana, ya bencana. Oh bencana. Memang dusun Mang Ujang dikasihani banyak orang. Namun orang-orang tidak ada yang mengasihani Mang Ujang. Jadi Mang Ujang harus mengasihani dirinya sendiri, karena ia percaya ada masa depan dan kehidupan lain selain dalam rundungan bencana di dusunnya. Ia percaya ada dusun yang menjadi impian bagi siapapun.

Pagar Sari berada di kaki bukit. Sejuk. Tanaman apapun tumbuh. Air mengalir gemericik di siring-siring. Mata air memancar dari pori-pori tanah dengan lancar walau musim kemarau datang. Tentu ini bagian dari mimpinya, dan ia berusaha menciptakan keindahan yang lain dari mimpinya. Tapi mimpi tidak juga sempurna, seperti alam fana, seperti juga manusia. Serba serbi bocor halus sana sini.

Kini mang Ujang sudah pindah, tahun lalu Mang Ujang datang bekerja sebagai petani kopi. Lalu pindah menjadi pedagang kelontong di pasar senggol dan kalangan. Lalu pindah lagi menjadi perangkat Desa, lalu pindah menjadi Lurah. Perjalanan kepindahan menjadi teka-teki.
Sebulan sudah Mang Ujang menempati rumah baru. Rumah sederhana untuk anak tiga. Ia meninggalkan kontrakan yang lama karena alasan itulah keluarganya diboyong untuk pindah. Dari Lintang Kanan ke Merapi. Dari Palembang ke Pagar Sari.

“Hidup harus terus diperjuangkan, harus terus berpindah dari yang buruk ke yang lebih baik”, kata Mang  Ujang.

Di pagi hari yang mendung dan sesekali gerimis turun, orang-orang sedusun berkumpul di rumah Mang Ujang. Semuanya menggunakan sweeter, jaket dan jas. Udara sangat dingin. Mereka bertanya-tanya. Setiap keluarga membawa sedekahan berbagai macam makanan dan binatang ternak. Ada yang sedekah ayam, kambing, sapi, kayu bakar, kelapa, nangka muda, wortel, kubis, cabe, beras, bumbu masak, untuk keluarga Mang Ujang.

Mang Ujang bingung kepala diikat kain. Mengapa banyak orang datang?

Jali bingung kepala diikat kain. Mengapa banyak orang datang?

Gustamin bingung kepala diikat kain. Mengapa banyak orang datang?

“Jangan banyak cerita sama orang lain, cukup berdua saja yang tahu.” Pesan Mang Ujang masih terngiang.

Berdua dalam kehidupam sosial menjadi tak terhingga. Ini hidup adalah tantangan, ini adalah resiko. Mimpi bisa terbukti, atau harus dicari.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, dan hadirin semua, saya cuma menjenguk orang tua yang baru pulang naik Haji di seberang.”

Semua orang yang hadir hanya meminta supaya Mang Ujang tidak pindah dari Pagar Sari.

“Ya. Saya di Pagar Sari. Kalian semua menjadi keluarga kami.”
***
Lahat, Januari 2007

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


laporan Cina, dari Mata Yang Lain
Liston P. Siregar

cerpen Takut Miskin, Sebuah Dialog
Ronny P. Sasmita

memoar Bajaj Pasti Berlalu
Presiden Hayat

ceritanet
©listonpsiregar2000