ceritanet  edisi 130 senin 19 februari 2007,  po box 49 jkppj 10210


tentang ceritanet


cerpen
Takut Miskin, Sebuah Dialog
Ronny P. Sasmita

Rasanya sangat jarang yang beralasan bahwa membuang-buang waktu dibangku sekolah dan ruang kuliah hanya untuk sekedar menambah ilmu, ingin mengetahui segala sesuatu yang belum diketahui, memiliki keterampilan sekedar untuk bisa melakukan sesuatu yang belum bisa dilakukan, dan segala peruntukan lainya, yang tidak ada kaitanya dengan uang.

“Lho, bukankah semua alumni dunia pendidikan beralasan begitu kalau mereka ditanya soal alasan mengapa mesti memeras orang tua demi menapaki jenjang-jenjang sektoral yang bernama pendidikan,” gumamku pelan pada diri sendiri.

Ya, betul, tentu saja begitu. Bahkan orang ingin sukses  dengan latarbelakang pengetahuan yang dimilikinya, bukan? Persis, tak salah lagi, memang begitu kan adanya.

Tapi apakah sukses yang dituju adalah sebentuk perubahan kebutuhan hidup, yang awalnya makan nasi putih dengan ikan asin, ditambah dengan goreng tahu tempe dan rebus daun singkong, lalu setelah terbilang sukses terbiasa makan makanan produk perusahaan transnasional dengan merek yang mendunia? Kemudian mengganti pakaian ala pribumi dengan tutup tubuh minim bermerek sekaligus berharga melangit? Rumah mentereng ditengah kota? Pulang kampung memakai mobil dengan harga yang belum sempat terbayang oleh masyarakat kampung kalau diuangkan? Begitu maksudnya?

“Lha, jika begitu adanya, bukankah kita dididik untuk menjadi manusia yang takut, persisnya sebagai penakut?”

“Ya ampun, penakut bagaimana maksudnya?”
“Ya, pokoknya takut saja, begitu!”            

Dan apakah orang berkreasi dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki   pada awalnya hanya  berniat dan ingin sekedar mencipta? Atau bermaksud untuk menjual ciptaannya pada hal-hal yang bisa mengobati mereka dari hantu yang bernama “takut”?           

“Waduh, bagaimana sih, takut lagi takut lagi, maksudnya apa, yang jelas dong?”
“Singkat saja, maksudku “takut miskin” begitu.”
“Oo..begitu, barangkali, mungkin, bisa juga, boleh jadi begitu.”
“Ah.. tak tahulah aku, kadang-kadang susah untuk memberi makna dan tujuan terhadap hidup ini,”  kataku, lagi-lagi pada diri sendiri.

Biarlah, apapun motivasi orang dalam menjalani hidup ini, dalam berbuat atau merencanakan sesuatu perbuatan, terserah sajalah. Tapi jujur, ini jujur lho; aku bosan dan muak digerogoti oleh rasa takut yang begitu itu. Aku jemu dengan aktivitas rutin yang melulu diukur dengan uang. Bahkan, kemanusiaanku kadang-kadang mesti, harus, kudu, terinjak-injak dulu sebelum mendapatkan semacam jaminan yang bernama “gaji” tiap bulan.

Bagaimana tak bosan, aku kan manusia, sarjana, terdidik alias punya pendidikan --tak ada jaminan memang untuk ini?-- pernah kuliah dikampus negeri ternama, pernah sedikit mencicipi dunia demo- mendemo alias aktivisme politik recehan, lalu mengapa mesti harus begini?Jangan bertanya-tanya, diam sajalah, tunggu guru yang memberi jawaban tanpa pertanyaan sekalipun.

Tak bisa begitu lah, aku terdidik, jadi wajar kalau aku kritis dan bertanya. Ya ndak bisa begitu, takdirnya bukan begitu. Begini saja, kemaren aku baca salah satu tulisan budayawan di harian nasional terkemuka, namanya Jakob Sumardjo, katanya takdir historis atawa budaya sini itu bukan bertanya, tapi menerima jawaban tanpa reserve. Begitu maksudku, makanya tak usahlah bertanya-tanya.

“Ah, masa begitu?”
“Iya, kalau tak percaya, bolak-balik saja koran kemarin itu.”
“Lalu, apa kita mesti percaya saja sama omongan budayawan itu?”
“Maksudnya mau mempertanyakan pendapat beliau itu?”
“Ya begitulah kira-kira.”
“Kan sudah dibilang, jangan mempertanyakan, apalagi beliau itu pakarnya.”
“ Oo.. begitu, tapi.”

Waduh, jangan pakai tapi-tapian lagi lah, kan sudah jelas.

Tunggu sebentar, sebentar saja, jangan sok kritis dulu ya, dengarkan baik-baik. Begini, takutkah aku pada teriakan istriku yang menanyakan gaji pada tanggal satu sore hari? Atau takutkah aku pada rengekan si bungsu yang minta dijajani sebelum dia angkat kaki menemui gedung reot Sekolah Dasar tigabelas kilo dari rumah?

Nah sekarang coba bayangkan, ini adalah sesuatu yang sangat pasti, lebih pasti ketimbang ilmu pasti yang diajarkan Pak Joko, Guru Fisika di SMA dulu. Aku yakin, betapa sumbringahnya wajah istriku saat kubawa, mungkin,  segepok uang saat pertengahan bulan. Sibungsu pun pasti akan tertawa puas pada boneka the pooh-nya kalau tiba-tiba ku belikan sepatu, baju, tas, mainan, celana, buku-buku, alat-alat tulis, dan seterusnya, yang kesemuanya serba baru. Bayangkan itu, sangat pasti kan?           

“ Walah, siapa juga didunia ini yang tak mau uang banyak, yang tak mau jadi kaya?”
“Nah, tu kan tahu sendiri jawabanya.”

Petani dan buruh pun tentu mau jadi kaya, tapi mereka bilang padaku mereka tak pernah sekolah tinggi alias menjadi anak kuliahan, jadi ya jelas tidak mungkin jadi kaya. Ya itu kata mereka, aku juga tak tahu pasti bagaimana kaitanya, aku sebagai sarjana ya mendengarkan saja, tepatnya sambil manggut-manggut seolah aku sedang mendengar ceramah mereka, bahkan seolah aku menjadi murid mereka, artinya mereka lebih pintar dari aku yang sarjana ini, mungkin.

“Tapi,”
“Tapi apa lagi?”

Tapi aku sudah kuliah dan sudah tersarjanakan, dengan nilai yang cukup memuaskan malah, nah kok tak jadi kaya-kaya juga? Apa yang salah? Tentu kau bilang aku yang salah, siapa lagi. Guru dan dosen tak mungkin pula jadi sasaran kesalahan. Kan kita yang disuruh merubah nasib kita sendiri, ajarannya memang begitu dari sananya, bukan dosen atau guru, apalagi mungkin tuhan, tidak tepat sasaran kalau mereka kena salah tanpa jelas juntrungannya.

Dosen atawa guru tentu tak perlu disalahkan, mereka cuma mesin operasional dari sistem, mungkin katakanlah semacam rezim, yang sedang berjalan, ya walaupun dibangku sekolah yang reot atawa diruang sombong perkuliahan mereka jarang menunjukan secara gamblang dan detail seperti apa jalan menuju sukses itu. Mereka cuma mempermahir kita  dalam mengutak-atik angka-angka, mengajarkan bagaimana bersikap dan berprilaku yang pancasilais plus agamais, sikap jujur, saling hormat, setiakawan, berjiwa sosial, tidak menentang Tuhan --apalagi atheis-- lalu bisa berfikir analitis dan rasional. Cuma itu, mungkin, karena aku juga tak pasti, lagian waktu kuliah dulu aktivitas bolos juga tercantum dalam daftar tabel mata kuliahku, lalu kutempel pas disebelah cermin tempat aku tiap saat melongo.

“Ya kalau begitu jangan sok tahu.”
“Ya tak apa-apa, kan bukan bertanya kan, cuma komentar kecil-kecilan.”
“Kecil-kecilan, kayak dagang saja.”           

Jika konteksnya begitu, rasanya aku tak pernah untuk tidak Pancasilais, apalagi menentang Tuhan. Aku masih ingat P4, bahkan setelah reformasi aku juga merasa lebih demokratik ketimbang sebelumnya, boro-boro korupsi tentunya. Memangnya mau memakan uang rakyat yang mana? Lha aku juga rakyat, masa jeruk makan jeruk.

Barangkali, taroklah, umpamanya, misalkan aku mau korupsi, begitu, ya katakan lah begitu. Ya caranya bagaimana, uangnya juga datang darimana? Tak mungkin kan? Apalagi, yang benar-benar bisa dan memang sudah melakukan korupsi tak mau bagi-bagi, mereka semakin hilang ditengah rimbaraya transparansi. Karena transparansi hanya sebagai sorakan  dan anjuran yang menggaung di seataero negeri ini, ya pastilah anjuran dan teriakan itu menyesaki kita seperti rimba raya, persis malah. Tapi ya sebatas teriakan dan anjuran, apalagi seruan moral, tidak mungkinlah menjadi mesin cukur, yang pasti malah dijadikan hutan belantara tempat bersembunyi pelaku korupsi, barangkali.

“Jadi, tak luculah orang biasa kayak aku ini korupsi.”

Bahkan, kata teman ku dulu, korupsi itu anak haran kekuasaan, jadahnya penguasa. Lalu  aku ini punya apa. Tak mungkinlah, korupsi itu utopis bagi ku. Jangankan korupsi, sekolahin anak saja sulitnya minta ampun, setengah mati, nauzubillah begitu, sembari aku tak tahu apakah ada jaminan dari sekolah  kalau sekian tahun yang akan datang, umpamanya, semisal, mungkin, anakku menjadi sukses tanpa korupsi?

Bahkan anak tetanggaku yang bapaknya juga sarjana, dua malah gelarnya, pakai acara beli kursi segala biar bisa duduk dibangku  SMA favoritnya. Katanya ada semacam jaringan yang terlibat dalam memperjualbelikan bangku seperti itu, mulai dari oknum guru, oknum kepala sekolah, oknum pejabat dinas pendidikan, bahkan oknum wartawan, semuanya sarjana. Mirip-mirip network marketing ya? Ya iyalah, pendidikan itu kan investasi, ya semacam perusahaan raksasa malah. Waktu itu aku cuma bisa berkomentar.:

“Jangan-jangan anakmu nantinya juga sekedar jadi oknum siswa saja,” begitu bunyi komentarku --cerdas kan!
"Yee...tak mungkinlah begitu, bayarnya kan lumayan mahal,” dia menjawab sekenanya, tapi seperti menertawakan pendapatku.
“Orang tua itu harus memberikan yang terbaik buat anaknya, sekolah favorit contohnya,” ungkapnya jujur sembari melecehkan dan mengguruiku.
“Lha, kalau nanti, kelak suatu waktu, kapan-kapan, anakmu kepingin jadi anggota wakil rakyat, ya ini semisal, umpamanya begitu, apa akan kamu belikan juga buat anakmu bangku di sekolah wakil rakyat itu; lembaga wakil rakyat maksudku, begitu,” ucapku sedikit berusaha menggurui pula, namanya juga usaha, siapa tahu persepsinya tergugah.

Llalu kemudian, seandainya, kapan-kapan, dia juga mau merubah sikap dan perilakunya yang main beli-beli begitu. Ya, hitung-hitung sedang merealisasikan tujuan ilmu komunikasi interpersonal yang pernah kudengar sedikit dari mahasiswa Fikom dulu.
“Ya, kalau itu lainlah,” katanya singkat, atau sinis barangkali.
“Ah, pembenaran," aku bilang.

Tetanggaku yang bergelar dua itu tersenyum sinis, pertanda tak senang barangkali. Tapi aku kembali bertanya, seperti tak peduli.

“Mengapa kau mau memberikan tempat pendidikan terbaik pada anakmu, apa kau telah terlalu kepincut pada dunia pendidikan?” kataku bersemangat.
"Ya pasti, orang yang terdidik itu praktis akan mempunyai SDM yang handal nantinya, lalu so pasti akan berpendapatan bagus karena mendapat kedudukan bagus pula dalam dunia kerja, begitu,” dia menjelaskan relasi-relasi sosial, ekonomi, pendidikan pada ku, persis seperti dokter mata menyenteri bola mataku  saat pernah dipacari sakit mata beberapa waktu lalu.
“Pak Haji Muchsin tak pernah sekolah, boro-boro kuliah, tapi kok dia sukses, sampai-sampai punya perusahaan tekstil besar di Majalaya, bahkan karyawannya banyak yang lulusan perguruan tinggi. Prestisius, ya otomatis mereka semua jadi bawahan Pak Haji,” timpalku sekenanya, ya seperti menembak kijang diatas kuda yang sedang berlari, begitu.

“Ya, kalau itu beda dong, semacam pengecualianlah,” balasnya kalem seperti tadi.
“Apa Thomas Alpha Edison juga pengecualian,” balasku tak mau kalah.
“Sudahlah, jangan dibahas lagi, bagaimanapun pendidikan itu penting, harus malah”, katanya kesal sembari membuang muka kearah sandal jepitku.

“Ya kalau itu aku juga setuju,” jawabku yang akhirnya juga ikut-ikutan memandangi sandal jepitku yang ternyata sebelah kiri dan kanan berbeda warna.

Kemudian temanku  itu pergi begitu saja, tanpa permisi lagi. Aku terpaksa melanjutkan dialog itu sendiri saja, mudah-mudahan tidak dianggap gila, pikirku mirip-mirip sedang berdoa.
 
“Memangnya pendidikan macam apa yang dianggap penting sama dia?” aku bertanya sendiri, tanpa peduli berjawab apa tidak. Apakah pendidikan yang bisa menciptakan mesin, lalu manusia tak bisa apa-apa setelah itu? Atau pendidikan yang bisa melahirkan ide-ide kreatif  untuk menipu yang tidak mempunyai ide kreatif? Semua mengajarkan untuk bisa menjadi sukses, ya artinya bisa dapat banyak uang, apalagi tentunya.

Sehingga, temanku waktu kuliah dulu, dia perempuan --tepatnya cewek-- sampai-sampai  nekad jalan sama om-om lantaran ingin membiayai sendiri kuliahnya sampai tamat. Karena kalau dia berhasil menamatkan kuliah, dia pasti mendapatkan pekerjaan yang bagus dan dapat uang banyak tentunya. Eh... setelah tamat dan bergaji lumayan pun, dia malah makin rajin saja pergi dengan om-om --"dasar nggak konsisten," aku bilang waktu itu. Kebutuhannya meningkat, begitu jawabnya enteng. Ya, apalagi sebabnya kalau bukan karena pendidikannya telah meningkat pula. Mungkin.

Sebenarnya dia berasal dari kampung pedalaman di daerah Garut, tapi kayaknya dia telah lupa jalan pulang. Mungkin karena pendidikannya telah meningkat, barangkali juga, pikirku terkadang. Di kampung tampaknya memang tempat orang-orang yang belum meningkatkan pendidikan, miskin tentu saja.

Selain itu, ada juga temanku  yang hafal jalan pulang kampung dan setelah jadi sarjana mencoba menetap di kampungnya beberapa waktu. Tapi tak sampai hitungan bulan, mungkin minggu malah, dia sudah minggat kembali ke kota tempat dia sempat disarjanakan dulu. Katanya, yang tampak di kampung cuma bentangan sawah, semak-semak, sapi, kerbau, kebun, sungai yang jernih airnya.

Nah lu, apakah ini karena dia telah meningkatkan pendidikan pula? Barangkali. Jadi, dia ditolak mentah-mentah oleh kampungnya. Ya, seperti orang memasang susuk yang ditolak oleh bumi saat mau dikubur setelah mati, pikirku, barangkali. Atau dalam bahasa lainya, pendidikan --sebut saja pengetahuanlah, begitu-- yang dia peroleh menjadi semacam macan ompong di kampungnya, begitulah kira-kira, barangkali juga, aku mencoba meraba-raba jawabannya.

Ssetelah dia kembali ke kota, dia lebih memilih tinggal bersama pohon-pohon besar yang terbuat dari beton dan baja, sawah-sawah yang sudah ditanami rumah, hotel, atau pabrik, serta  bergaul dengan sungai yang penuh dengan zat kimia kotor, bau lagi. Meski begitu, pendidikan yang dia peroleh mengharuskannya untuk sukses, punya banyak uang, berjabatan strategis dalam perusahaan atau pemerintahan, tentu saja begitu bukan? Jelas, jawabannya tidak ada dikampung kan.

“Kalau cuma kepingin hidup sederhana, ya tak perlu cape-cape kuliah,” begitu katanya mengguruiku dulu. Ya mau gimana lagi. Mendengar wejangan sarjana macam temanku ini, aku cuma bisa manggut-manggut persis kayak mendengarkan para petani dan buruh yang sempat curhat padaku beberapa waktu lalu. Apalagi, waktu kuliah dulu, dia terkenal lebih pintar dan cerdas ketimbang aku. Ya tak etis kiranya aku komentari miring, atau memang aku juga telah sepakat dengan omongannya, ah tak tahulah aku.

Aku melonggo dan melayang-layang di langit masa lalu, mengitari peta sejarah yang pernah terlewati, terutama bertemu dengan teman-teman masa melakukan pemerasan orang tua dulu alias masa-masa kuliah.

Jika kupikir-pikir, aktivis-aktivis kampus tampaknya cukup berbeda ketimbang kategori-kategori penuntut ilmu  alias teman-teman kampus yang teringat oleh ku tadi.

“Oo...tentu selalu ada semacam pengecualian,” pikirku santai.

Mengingatnya membuatku agak terkagum memang. Wah, mereka kritis, bahkan katanya mereka sekarang disebut-sebut dengan istilah pendobrak reformasi dan pembuka kran-kran demokratisasi di negeri ini. Huebat juga! Walaupun terus terang saja, sudah berkali-kali aku lahap buku Gelombang Ketiga Demokratisasi --versi Bahasa Indonesia karena Bahasa Inggrisku jeblok-- karyanya Huntington itu, tak kutemukan juga nama-nama temanku, tepatnya mahasiswa, sebagai salah satu pemicu gelombang pasang demokratisasi.

Walah bagaimana ini, maksudnya si Huntington apa? Waduh waduh, tapi si Ucok, aktivis paling berkoar waktu kuliah dulu kok malah sekarang goyang-goyang kaki di sofa partai yang katanya sempat menjadi skrup penguasa lalim itu. Persisnya partai itu juga sempat dia digugat  dulu. Walah aku jadi bingung!

Memang, saat-saat  bingung sering membuat kita kritis alias bertanya-tanya. Ya aku tak tahu lah cara membedakannya apakah bertanya itu termasuk kritis.Begitu! Alhasil pertanyaanya pun kadang asal, apalagi jawabannya tentunya.

“Ya yang kritis kan bukan pintar, pasti ada yang sedang bermain dengan kritisisme mereka itu.”
“Mereka itu siapa.”
“Mahasiswa maksudku, begitu.”
“Maksud mendalamnya, selalu ada yang lebih pintar ketimbang yang pintar, apalagi yang kritis, begitu?”
“Barangkali begitu, tapi tak tahu juga sih.”
“Jadi  orang-orang muda yang disebutkan sebagai “mereka” tadi tepatnya hanya dijadikan sebagai pion, gitu?”
“Apalagi  maknanya disetir seperti itu, agak ekstrem begitu, aku semakin tak tahu lah, ya barangkali benar, barangkali juga tidak, gampang kan”

Tapi yang jelas begini, aku mengira-ngira dan memproduksi hipotesis untuk dikonsumsi diri sendiri, ya ini barangkali ya. Yang jelas mereka kritis selama pasokan ATM mereka terus berkelanjutan dari orang tua tiap awal bulan, praktis mereka tak ikut-ikutan berfikir soal uang, soal makan dan perut, apalagi soal ketergantungan orang tua mereka pada rezim yang sedang berkuasa, bukan! Tapi kan hasilnya seperti si Ucok-si Ucok juga? Setelah tamat, kalau bukan jadi  profesional necis, ya jadi pejabat, atau yang lebih kuasa lagi ya jadi anggota wakil rakyat.

Wah, apalagi kalau sampai jadi wakil rakyat, bakal nyaris tak ada beban. Tak perlu seperti para sarjana penganggur yang lontang lantung cari kerjaan, karena sudah ada jalur khususnya. Jalur khusus bagaimana? Kok malah seperti kisruh di perguruan tinggi papan atas yang  pakai jalus khusus segala? Ya jalur khusus saja, kalau orang pintar di Amerika menyebut jalur khusus ini politik aliran. Kalau mau ikutan, cukup bergabung dalam satu aliran saja, pasti dari hulu sampai hilir ada disana, ya jadi tinggal diikuti saja sampai hilir, begitu!

Mereka juga tak ada beban, selain telah disediakan jalur khusus, karena menjadi wakil rakyat mempunyai kurikulum nasional yang mirip dengan kurikulum Taman Kanak-kanak, lebih banyak bermain ketimbang serius, begitu. Ya so pasti, beberapa waktu lalu seorang guru bangsa sempat menyebut mereka ibarat sekolah Taman Kanak-kanak.

Coba bayangkan, anak-anak mana pernah mikirin  beban, kan orang tua yang cari uang? Ceria sepanjang masanya, tertawa, bermain, makan, piknik, kadang-kadang berkelahi, tapi kalaupun berkelahi, mereka malah jadi hiburan orang tua. Ya orang tuanya wakil rakyat siapa? Namanya juga wakil rakyat, ya rakyat lah orang tuanya. Jadi yang jadi korban biaya-biaya di Taman kanak-kanak itu --Taman Wakil Rakyat maksudku-- ditanggung oleh orang tua alias rakyat? Ya pasti itu!

Enak ya? Tentu saja! Jadi kesimpulannya, karena mereka semua adalah mantan aktivis, pasti  sarjana pula, mereka pastilah orang-orang sukses alias punya banyak uang. Bahkan terakhir aku dengar, mereka telah banyak sukses menciptakan mesin uang. Yang paling anyar, nama mesinnya Pepe Tiga Tujuh. Waduh, nama apa itu, kok nama mesinnya aneh begitu, ya mbok yang modern sedikit lah seperti ATM atau creditcard begitu?

Ya tak tahu, apalah artinya nama, yang penting kan isinya, bukan begitu! Ah..terserahlah, tak tahulah aku! Tapi yang jelas, mereka telah berhasil dididik menjadi takut miskin kan? Kan itu intinya, karena pendidikan membuat mereka takut miskin, maka mereka membuat mesin uang semacam itu, jadi tergolong sukseslah itu namanya, kreatif malah! Oo...sukses ya! Iya...sukses! Gampang juga indikator keberhasilannya ya, tidak sesusah membuat skripsi dulu. Ya memang begitu!

Memang, ku pikir-pikir, aku juga akhirnya mengakui keberhasilan dunia pendidikan dalam proyek menakut-nakuti pelajarnya, semua alumninya benar-benar takut miskin, orang tua mereka juga mengharap dan mendukung untuk itu, biar anaknya sukses, lebih mentereng ketimbang mereka dulu. Ya mungkin anak sudah mirip-mirip. Barangkali, ya ini barangkali, semacam asset investasi, begitu.

Tapi negara ini kan didominasi orang miskin, berarti pendidikan belum sukses dong? Ya tidak begitu lah, kan tujuan pendidikan tersebut --jika kita ambil istilah lain dari bahasa takut miskin tadi-- adalah membuat semua pelajarnya menjadi kaya. Jadi ya belum sekarang suksesnya, yang penting semua alumninya sudah berhasil ditakut-takuti. Jadi barangkali, karena sudah terlalu banyak orang yang terdidik di negeri ini, maka semakin berkembang pula spirit takut miskin itu di kalangan mereka.

Alhasil --ini baru hipotesis lho-- semakin banyak pula orang yang jijik pada orang miskin. Jangankan untuk menyalurkan kesuksesan, memproduksi ide kreatif penanggulangan kemiskinan pun semakin jarang, yang ada adalah menjadikan isu kemiskinan sebagai pembangunan citra, semua sarjana yang berjabatan politis plus strategis merumuskan program penanggulangan kemiskinan, lengkap dengan skema keberhasilan yang sangat optimis, ya cuma untuk membangun citra bahwa mereka peduli orang miskin.

Lha, si Citra kok dibawa-bawa? Si Citra yang gagal kuliah dan tinggal di Bandung Utara itu maksudmu? Si Citra itu sekarang sudah jadi pelacur, halusnya PSK, di pasar baru. Lihat saja tiap malam, dia pasti berdiri di salah satu pinggiran jalan Ottista, Pasar Baru, Bandung. Walah, kok jadi kotor begitu pikiranmu? Kalau si Citra itu aku tahu, bahkan aku pernah merekomendasikan si Dady, teman kuliah dulu yang sudah jadi manager personalia di perusahaan tekstil Cimahi itu, untuk memakai si Citra. Tapi pastinya aku tak tahu, dipakai apa tidak.

Jadi yang kumaksudkan dengan citra disini bukan orang, tapi ya sejenis konsep yang tidak tampak lah, namanya juga konsep. Ya kalau tak tampak, mirip-mirip setan atau iblis, begitu maksudnya? Ya tak mungkin begitu lah. Maksudnya semacam begitu, tapi bukan setan atawa iblis, tapi konsep, lalu jadi program, lalu jadi strategi, eh...tahu tahu jadi permanen alias semacam ideologi, tepatnya  pedoman bertindak, begitu. Oo...yang itu, aku paham kalau begitu. Nah begitu dong!

Nah, aku ini kan sarjana, sedikit banyaknya juga alumni dunia pendidikan, apakah aku juga takut miskin begitu? Atau malu hidup super sederhana? Waduh, tak tahulah, berat banget pertanyaanya!

Seketika itu, pengelanaanku yang jauh menerobos waktu, sedikit ikut-ikut mengutak-atik sejarahku, walaupun masih rada tabu di dunia nyata, terhenti lantaran seorang penggemis lewat dan mampir ke rumahku, persis di depan rumah dimana sedari tadi pikiranku  merantau jauh ke masa lalu sekaligus ke masa depan. Dia memohon sedikit sumbangan, tepatnya bantuan, sembari menjulurkan tangannya cuma beberapa centi saja dari dadaku. Harusnya dia menjulurkan tangan ke arah kepala ku, bukan dadaku, pikirku, karena aku kan terdidik dan sarjana.

Tapi berselang sesat dari itu, istriku berteriak dari dalam rumah sembari berlari menuju tempat aku terpaku vis a vis penggemis.

“Ayah, ada telpon dari manager kantor ayah, katanya penting, soal proyek besar.” istriku berseru sedikit berteriak, sangat semangat dan sumbringah, pasti itu, karena hal semacam ini termasuk ke dalam kategori ilmu pasti yang sempat terpikirkan dalam petualangan ku tadi. Mendengar ada kata-kata “penting dan proyek besar” telingaku berdiri, ya ini semacam instink orang terdidik dan sarjana.

Aku pun melesat ke dalam rumah, mengambil gagang telpon. Si ibu-ibu penggemis terpana, berlalu, tentu tangannya masih kosong. Di saluran telpon kantor manajerku bicara.

“Buruan ke kantor sekarang, ada proyek besar, kau kan ingin dapat jatah besar juga, kepingin kaya, begitu,” manajerku berkicau disaluran telpon seperti itu. Aku hanya bisa terpana, lalu berucap “ ya bos, siap.”
“Buruan ya, kau sarjana, kau yang pantas mengurus operasional proyek ini ketimbang karyawan-karyawan tamatan SMA lainya. Kau yang terdidik alias berpendidikan tinggi di antara mereka karena itu kau yang layak memimpin mereka, dengan lain perkataan, kau yang berhak dapat jatah yang lebih besar”, dia terus berkicau persis seperti mengguruiku.

Aku terdiam, terpana, terbingungkan, bimbang mungkin, mungkin juga terlalu berharap, mungkin juga terlalu optimis mendengar kepercayaan penuh seperti itu, mendengar pujian atas kesarjanaanku, pujian yang langsung tanpa malu-malu dikaitkan dengan uang besar.

Tapi tanpa kusadari, aku pun berkata lancar; ” Iya bos, siap, beres bos.” Dengan tanpa malu pula bos ku menutup pembicaraan setelah cape berkicau, ya pasti aku meletakan gagang telpon itu ketempat semula, persis tanpa malu-malu juga. Kumelirik ke pintu depan rumah yang masih terbuka, istriku sudah tidak didepan, tapi penggemis itu masih ada, berdiri tegar, mungkin karena dia juga takut miskin, takut tak bisa makan hari ini, tapi aku malah menjadi takut dan jijik melihatnya, mungkin juga karena aku takut ketularan jadi miskin, barangkali.

Kemudian, kubiarkan saja dia. Malah pintu depan yang melongo itu ku tutup rapat begitu saja, tanpa malu-malu tentunya, sampai-samapi anak kunci yang menempel disitu kuputar tiga kali, melebihi ketentuan yang semestinya cuma duakali, ya pantas saja aku sempat bersitegang dengan anak kunci itu sekejap.

“Ku takut ketularan jadi miskin, aku benar-benar takut miskin sekarang”, gumamku pelan. Mungkin karena aku sarjana, terdidik lagi, barangkali. Apalagi baru beberapa menit lalu gelar kesarjanaan dan peringkat tinggi pendidikanku dipuji oleh manajerku.
“Ya ampun, ku takut miskin rupanya,” pikirku, tapi aku tak tahu persis benar apa tidak pikiranku itu, atau mungkin aku sedang menyinisi sejarah diriku, barangkali. Mengapa aku tak bisa pahami gejala yang merebak dalam diri ini, mengapa? Mungkin karena aku sarjana, terdidik, barangkali. Tapi setelah itu, aku melihat dari kaca jendela si penggemis itu beringsut, sepertinya mau pergi, putus asa barangkali menunggu bantuanku.

Walah kok aneh, dia meludah tepat pada tatapan terakhirnya saat melihatku melonggo dari jendela kaca, lalu berlalu begitu saja, tanpa malu-malu malah.
***
Cibolerang, 060207

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


laporan Cina, dari Mata Yang Lain
Liston P. Siregar

memoar Bajaj Pasti Berlalu
Presiden Hayat

cerpen Pindah Jajang R. Kawentar

ceritanet
©listonpsiregar2000