ceritanet  edisi 130 senin 19 februari 2007,  po box 49 jkppj 10210


tentang ceritanet


memoar
Bajaj Pasti Berlalu
Presiden Hayat

Debu dan asap knalpot berhamburan dikacau angin, mengobrak-abrik udara bersih di daerah pinggiran Jakarta siang ini. Dengking klakson keparat bersahutan dengan raungan mesin berbagai kendaraan yang berlalu-lalang. Ada ojek, bajaj, kancil, mikrolet, metromini, bus, taxi dan berbagai macam kendaraan pribadi.

Kalau ada yang belum tau --apa ada?-- ojek adalah  transportasi umum dimana sepeda motor atau sepeda menjadi medianya. Definisi lengkap versi KBBI, ojek adalah sepeda atau sepeda motor yang ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang atau penyewanya. Tidak peduli apakah itu RX-King, Kawasaki-Ninja, Honda-Tiger ataupun Harley Davidson, Baik yang masih baru ataupun yang sudah butut, kalau dikomersilkan atau dipakai untuk menarik penumpang namanya ya ojek.

Bajaj relatif lebih terkenal. Ketenarannya, mungkin sama dengan bemo waktu dulu dan menjadi salah satu kata favorit untuk meledek orang. Kasino meledek Dono dengan menjulukinya si muka bemo. Gelarnya Msc, alias Mrongos Sak Cangkem-cangkeme. BMW diartikan menjadi Bajaj Merah Warnanya. Kata Jijik-pun dipadukan dengan bajaj menjadi jijai bajaj. Ada juga judul film Bajaj pasti berlalu. Dan yang paling diingat orang tentang bajaj adalah kapan dia mau belok, hanya Tuhan dan sopir bajaj yang tahu. 

Kalau metromini dan mikrolet pastilah sudah tahu semua --apa ada yang belum tahu?. Meskipun banyak yang menuduh ada sopir metromini yang suka meninggalkan otaknya dirumah ketika sedang menyetir. Konon Tuhan menempatkan sopir metromini jauh lebih mulia daripada ulama ataupun pendeta. Alasannya, kalau mendengarkan khotbah sang pendeta, banyak orang yang mengantuk dan malah lupa Tuhan, sementara kalau naik metromini atau mikrolet, orang akan berdoa dan sering menyebut-nyebut nama Tuhan agar perjalanannya selamat.

Kancil, apakah itu? nah, alasanku ke pinggiran Kota Jakarta ya mau coba public transportation yang satu ini. Yang aku dengar dulu, kancil diproyeksikan mengganti bajaj untuk meningkatkan kualitas udara kota jakarta yang sudah memasuki tahap bedebah nan keparat.

Setelah berdiri beberapa lama disekap udara kotor, akhirnya dari jauh kulihat mobil imut-imut, bercat kuning mendekat. Kulambaikan tangan, mobil menghampiri, aku menyebutkan tujuan dan tanya berapa ongkosnya, dia menyebutkan harga.

“ Kurangi seribu ya, bang “

“ OK “ katanya sambil menyilakan aku masuk. Tangannya segera meraih handle pintu belakang dan membukanya dari dalam. Aku memang grogi dan kelamaan membuka pintu karena ternyata handle pintunya ditarik dari samping, bukan dari bawah seperti mobil biasa. 

“ Sudah lama pak bawa kancil? “, tanyaku agak-agak ragu setelah melihat interiornya.

Pak Sopir menoleh sejenak dan berkata : “ ini bukan kancil pak, tapi bajaj yang baru “

Alamak, jawaban tadi seperti mantra yang mengubahku jadi manusia jaman batu yang tuna informasi. Kemana si kancil yang berjanji berhenti mencuri oksigen dan cuma akan kentut sedikit CO2 saja? Apakah aku juga kuper kalau berkata bahwa manajemen lingkungan tidak berjalan dengan baik di jakarta?

Tidak masalah aku kuper, tapi aku tidak mau jadi orang tolol yang sering membuang sampah sembarangan dan tidak menggunakan air dengan bijak.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


laporam Cina, dari Mata Yang Lain
Liston P. Siregar

cerpen Takut Miskin, Sebuah Dialog
Ronny P. Sasmita

cerpen Pindah Jajang R. Kawentar

ceritanet
©listonpsiregar2000