sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 12, Selasa 15 Mei 2001

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

novel Dokter Zhivago 12
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

"Tiverzin! Kuprik!" Beberapa suara berseru dari dalam gelap. Banyak orang di luar bengkel-bengkel. Di dalamnya ada orang berteriak dan seorang anak menangis. "Masuklah dan tolong anak itu," kata seorang perempuan di antara khalayak itu.

Seperti biasanya, Pyotr Khudoleyev, mandor tua itu sedang menghajar Yusupha*, muridnya.

Khudoleyev bukannya dari dulu menjadi penyiksa murid-murid atau pemabuk yang suka berteriak. Dulu ia sebagai pekerja muda yang gagah menarik kerlingan kagum anak-anak perempuan kaum pedagang dan pendeta di daerah industri di sekitar Moskow.

Tapi Marfa yang tahun itu mencapai promosi di sekolah biara keuskupan telah menolaknya serta kawin dengan teman sekerjanya, yakni masinis Saveliy Nikitich, ayah Tiverzin.

Lima tahun sesudah kematian Saveliy yang dahsyat itu (ia mati terbakar dalam tubrukan kereta api yang menggemparkan pada tahun 1883) Khudoleyev mengulangi lamarannya, tapi Marfa menolaknya lagi. Begitulah ia mulai suka minum dan menjadi brandal; dicobanya membalas dendam kepada dunia yang menurut anggapannya menyebabkan nasib buruknya.

Yusupha adalah anak Gimazetdin**, juru kunci dalam blok perumahan, tempat tinggal Tiverzin. Tiverzin melindungi anak itu dan hal ini malah membuat Khudoleyev tambah membencinya.

"Begitu caramu memegang kikir, hai anak sipit?" hardik Khudoleyev, dijambaknya Yusupha dan dipukulnya kuduknya. "Begitu caramu mengikis tjoran, bangsat Tartar sipit?"
"Aduh, saya kapok, tuang, aduh saya kapok, tuan! aduh sakit, tuan!"
"Dikasih tahu satu kali minta dikasih tahu seribu kali, pasang dulu mandrelnya lalu sekrupkan sematnya, tapi kau tak dengar. Kau terus saja dengan caramu sendiri! Porosnya hampir kau patahkan! Blasteran!"
"Saya tak sentuh porosnya, tuan, sungguh."
"Mengapa kau usik anak ini?" tanya Tiverzin yang dengan menyikut-nyikut dapat melewati orang banyak.
"Bukan urusanmu," jawab Khudoleyev.
"Aku tanya, mengapa kau usik anak ini."
"Dan aku bilang, nyahlah sebelum ada heboh, hai sosialis, jangan ikut campur! Anak anjing ini hampir patahkan poros saya. Dibunuhpun ia tak patut. Ia mestinya berterimakasih pada nasib untungnya bahwa ia masih hidup, jahanam sipit ini --aku hanya jewer kupingnya dan jambak rambutnya sedikit."
"Jadi kau pikir kepalanya mesti dipotong untuk ini? Khudoleyev, kau sudah tua, seharusnya kau malu, sungguh, mandor tua seperti kau ini! Kau sudah dapat uban tapi otak sehat belum."
"Aku bilang pergilah selama tubuhmu masih utuh. Kupukul ususmu dari perut, kalau kau berkotbah padaku anjing! Kau terbikin di atas bantalah rel, hai juhi, di bawah hidung bapakmu sendiri, kukenal ibumu, si cabo, si kucing gundukan, sirok dalam yang kumal."

Apa yang terjadi sudah itu, lampau dalam sedetik. Kedua-duanya memungut benda pertama yang mudah tercapai di bangku-bangku putar, dimana berserakan alat-alat berat dan segala potongan ; pastilah mereka saling membunuh, jika orang banyak tak menyerbu ke dalam guna melerai. Khudoleyev dan Tiverzin berdiri dengan kepala menekur ; kening mereka hampir bersentuhan, pucat dengan mata berleret darah. Mereka amat gusar sampai tak mampu mengeluarkan sepatah kata. Mereka ditahan erat-erat, lengan-lengan mereka disengkelit dari belakang. Sekali dua kali mereka hendak lolos dengan tubuh menggeliat serta menyeret rekan-rekan aygn bergayutan pada mereka. Kait dan kancing beterbangan, baju dan jaket mereka melongsor hingga pundak kelihatan. Di sekitar mereka riuh rendah suara orang tak henti-henti.

"Pahat itu! Rampas pahatnya, dia akan hancurkan kepalanya. Tenang-tenang, Pyotr, kawan tua, ingin lenganmu patah? Apa guna kita main dengan mereka ini? Pisahkan dan tutup dalam kamar, habis perkara!"

Tiba-tiba dengan tenaga luar biasa Tiverzin menyikut lepas orang-orang yang menahannya ; ia lolos dan lari ke pintu. Orang memburunya, tapi setekah ia nampak telah beubah pikiran iapun dibiarkan saja. Ia keluar membanting pintu di belakangnya, lantas pergi tanpa menoleh-noleh. Malam lembab yang gelap di msim rontok itu menyelubungi dia. "Kucoba menolong dan datanglah orang banyak dengan golok,'' kumat-kamitnya sambil melangkah terus, tak sadar akan arahnya.

Dunia busuk yang penuh kebohongan dan tipuan ini, dimana seorang nyonya yang lebih dari kenyang itu dengan kurang ajar memandangi sekelompok buruh dan dimana salah satu korbannya yang mabuk bersenang hati dengan mendendami kaumnya sendiri, dunia begini sekarang lebih dibencinya dari dulu. Ia bergegas, seakan langkahnya itu sanggup memburukan waktu, dimana hal ihwal di bumi akan menjadi beres dan selaras, seperti yang dikhayalkannya kini oleh otaknya yang meradang. Ia maklum bahwa seluruh perjuangan mereka dalam hari-hari belakangan ini ; segala kerusuhan di sepanjang lin, pidato dalam rapat-rapat, putusan untuk mogok belum terlaksana --namun juga tidak batal-- adalah tangga-tangga kecil yang terpisah-pisah di jalan besar yang terbentang di depan mereka.

Tapi saat ini sangat rusuhlah hatinya, hingga ia ingin lari-lari sepanjang jalan, tiada berhenti untuk menarik nafasnya. Ia tak menerka kemana perginya dengan langkah-langkah panjang itu, namun kakinya sudah tahu betul kemana ia terbawa.

Lama kemudian barulah Tiverzin mendengar putusan yang diambil oleh panitia pemogokan, setelah ia tinggalhkan kolong perlindungan di bawah tanah bersama Antipov, yakni memulai pemogokan malam itu juga. Di tempat itulah putusan diambil, juga putusan mengenai siapa dari mereka harus pergi ke suatu tempat dan siapa-siapa akan dipanggil.

Segerombolan sudah meninggalkan depo serta gudang barang-barang, ketika Tiverzin membunyikan suling mesin di bengkel reparasi. Bunyi seraknya itu meletup bagaikan dari hulu hatinya sendiri dan beberapa detik kemudian turun ke nada mendatar. Segera gerombolan tadi ditambah dengan orang-orang dari kamar ketel yang meletakkan alat-alat mereka, setelah mendengar tanda Tiverzin.

Bertahun-tahun kemudian Tiverzin menyangka bahwa dia sendirilah yang malam itu menghentilkan pekerjaan dan lalu lintas kereta api. Lama kemudian di depan pengadilan, waktu ia dipersalahkan ikut serta dalam pemogokan, tapi tidak dituduh sebagai penganjur, barulah ia ketahui hal yang sebenarnya.

Orang lari ke luar dan bertanya : "Kemana mereka semua? Mengapa sirene itu? --Kau tidak tuli," sahut suara dari gelap. "Ada kebakaran. Itu tanda bahaya. Kita dipanggil untuk padamkan api." --"Mana yang kebakaran?"-- "Mesti ada, kalau tanda bahaya berbunyi."

Pintu-pintu berdebakan, banyak lagi orang keluar. Suara-suara lain terdengar. "Bukan kebakaran. Kau percaya si tolol? Itu pemogokan, tahu? Lemparkan alat-alatmu, kawan-kawan. Biar mereka cari alat-alat lain untuk pekerjaan mereka yang kotor itu. Pulang saja, kawan-kawan."

Makin banyak lagi yang bergabung pada gerombolan. Buruh kereta api sedang mogok.
***

* Yusupha : kata pengecil dari Joseph dalam Bahasa Tartar
** Nama Islam Jamaluddin yang di-Rusiakan (Gimazetdin adalah seorang Tartar)

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar