edisi 12, Selasa 15 Mei 2001
ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
komentar Mana Hukum dan Keamanan
Ze'sopol Caminha
Sudah hampir setahun administrasi sementara PBB, UNTAET, bekerja di Timor Lorosae. Dan akhir Agustus ini, orang Timor Lorosae akan kembali lagi berbaris ke kotak suara untuk pemilihan umum, yang kelak akan membentuk pemerintahan awal Timor Lorosae. Tapi apakah UNTAET memang sudah berhasil membangun dasar-dasar untuk pemilihan umum? Itu pertanyaan besarnya.
Memang semua orang tahu membangun sebuah negara dan bangsa dari puing-puing bukanlah pekerjaan satu hari. Tapi di tingkat kehidupan sehari-hari, mestinya urusannya lebih gampang. Ini sekedar urusan menjaga ketertiban dan keamanan, yang jadi tugas Civpol atau polisi sipil PBB. Berbagai kerusuhan di Timor Lorosae, mulai dari kerusuhan di Stadium Municipal Dili pada bulan April 2000, percobaan pembunuhan Xanana, maupun kerusuhan di Viqueque Maret lalu --dua orang tewas-- memperlihatkan Civpol tak berdaya. Ada sejumlah orang yang menduga kerusuhan itu dipicu oleh masuknya orang-orang milisi yang dulu didukung Kopassuss. Dalihnya pulang kampung dan begitu masuk mereka langsung berbaur dengan masyarakat. Mereka inilah yang diduga bekerja menciptakan konflik-konflik demi ketidakstabilan politik negara Timor Lorosae.
Tapi itu isu yang dulu mungkin jauh lebih banyak benarnya tapi sekarang bisa benar dan bisa salah. Yang hampir benar adalah masyarakat makin sinis melihat Civpol . Setiap ada kerusuhan maka Civpol langsung jadi sasaran makian masyarakat Timor Lorosae karena mereka tidak pernah tegas, dan sekaligus terasa kurang berniat untuk melerai perkelahian, apalagi menindak-lanjuti kasus-kasus yang sudah terjadi. Motonya, 'Lei no Ordem' atau Hukum dan Perintah, menyiratkan Civpol diwajibkan menegakkan hukum dan menjamin rasa aman bagi masyarakat yang lemah. Namun prakteknya mereka sering mengecewakan rakyat kecil.
Dalam beberapa kerusuhan, pihak Civpol setempat hanya melihat dan tidak melakukan penangkapan pada orang-orang yang secara terang-terangan mata terlihat menyerang orang lainnya. "Hanya Civpol yang tuli dan buta yang bertugas di sini", begitulah kekesalan seseorang menyaksikan peirilaku aparat Civpol.
Bagaimanapun dalam masa transisi ini, mandat Dewan Keamanan mengharuskan terciptanya keamanan bagi rakyat Timor Lorosae. Ataukah ada sebuah skenario besar telah dirancang oleh PBB untuk memperpanjang pemerintahan transisi dengan alasan orang Timor Lorosae belum siap untuk merdeka? Tentu, ada banyak orang asing yang menyambut gembira skenario ini kerena UNTAET adalah proyek besar bagi staff internasional. Proyek dengan gaji besar di atas penderitaan rakyat Maubere yang baru berusaha bangun dari puing-puing kehancuran.
***
situs nir-laba
untuk karya tulis
ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000
sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar