sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 12, Selasa 15 Mei 2001

                                                                                                       tentang ceritanet

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

esei Bob Marley, Sang Pemantra Rasta
Yusuf Arifin
Kalau Jah (Tuhan) tidak memberiku lagu untuk aku nyanyikan, maka tak akan ada lagu yang bisa aku nyanyikan.
(Bob Marley, mati dari bumi 11 Mei 1981)

Gedung London Lyceum malam musim panas tahun 1975. Tanggalnya 18 dan 19 Juli. Konon di dua malam itulah Robert Nesta Marley, atau Bob Marley, tuntas memenuhi suratan nasibnya ; menasbihkan dirinya sendiri menjadi pengkhotbah untuk kaumnya, kaum Rastafarian. Benar bahwa sejak sekitar akhir tahun 60an Bob Marley telah menjadi salah satu pengkhotbah paling fanatik kaum Rastafarian. Tetapi dua malam di gedung pertunjukan tua Inggris itu Bob Marley mencapai kesempurnaan yang hanya bisa diimpikan oleh banyak pemusik besar dunia, siapapun ia. Bob Marley mencapai titik ekstase transendental di atas panggung. Panggung, bagi pemusik, adalah altar untuk mencari ekstase transendental yang tak bisa mereka dapatkan di dunia yang materialistik. Pengganti altar gereja, saf-saf masjid, teras-teras candi atau apapun namanya tempat bagi diberlangsungkannya upacara keagamaan.
Selengkapnya

 

esei Para Konsumen, Lawanlah Monopoli
Ningrum Sirait
"Ini kebijakan yang diksriminatif," begitulah kira-kira kata dunia usaha menanggapi kenaikan harga BBM April lalu, "karena kenaikan BBM hanya diberlakukan untuk industri, pelayaran, kapal asing dan pertambangan." Dan reaksi spontannya mengikut prinsip dasar ekonomi ; kenaikan biaya produksi harus --'dan sekali lagi harus,' kata dunia usaha-- langsung diikuti kenaikan harga produk. Itulah prinsip dasar ekonomi, atau sebutlah hitungan dasar matematika ekonomi yang mestinya bisa dipahami anak kelas 1 SD di Jakarta, di New York, maupun di Balige --ratusan kilometer dari Medan, di tepi danau Toba. Seperti 2+2 akan selalu 4, dan jika satu unsur diganti 3 maka 3+2 akan selalu menjadi 5. Titik, kecuali mau berdebat kusir ke sana ke mari. Tapi, para konsumen sekalian, peringatan seperti itu sudah perlu ditanggapi dengan serius. Soalnya ada perangkat hukumnya, yaitu Undang-undang No 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Selengkapnya

 

cerpen Pada Pertandingan Sepakbola
Senja Ungu
Priiiiiitttt…
Pluit melengking bagai awal sebuah kehidupan. Orang-orang bersorak-sorai. Tapi sejak tadi sepi sudah menyergapku. Aku terkapar di barisan belakang bangku stadion ini. Lengking pluit seperti membuka kembali layar kehidupanku.
Bola tiba-tiba saja sudah di depanku. Yeah, cepat kukejar sebelum direbut lawan. Kutendang sekeras-kerasnya. Busyet, meleset lagi, batinku. "Begooo… jangan melamun saja, ayo konsentrasi." Hah, itu pasti suara pelatihku dari pinggir lapangan. Kuperhatikan setiap arah benda bulat itu berlari. Aku juga harus ikut berlari mengejarnya.
Kesebelasan Persimbat lumayan tangguh. Kami agak kewalahan. Kutebar pandangan ke seluruh stadion. Para penonton terdengar bersorak-sorai mendukung Persimbat. "Ya, namanya juga bertanding di daerah lawan, saya kan harus mempersiapkan diri, Mbak."
"Tapi kan kamu tak harus melupakan saya. Apa nggak rindu sama saya?" dia bertanya dengan nada bingung sekaligus cemas.
Selengkapnya

komentar
Tentang Rudi Singgih
Ahmad Taufik

Mana Hukum dan Keamanan
Ze'sopol Caminha

 

 

sajak Rakyat Tak Mungkin Merdeka
Sutrisno Budiharto
Rendra,
Rakyat belum merdeka, katamu
itu bukan hanya kau yang tahu
para gelandangan dan lalat-lalat di bak sampah
para pengamen jalanan dan tikus-tikus di lorong pertokoan
para babu dan anjing-anjing penjaga di perumahan parlemen
juga bisa merasakan
Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga tahu itu sebab, rakyatmu memang tetap menjadi rakyat sejak dulu
Entah sudah berapa ribu politisi menawarkan keadilan dan kemakmuran
Entah sudah berapa juta janji dikobarkan dipanggung-panggung orasi politisi
tapi keadilan selalu terperosok ke dalam perut para politisi
Selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 12
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
"Tiverzin! Kuprik!" Beberapa suara berseru dari dalam gelap. Banyak orang di luar bengkel-bengkel. Di dalamnya ada orang berteriak dan seorang anak menangis. "Masuklah dan tolong anak itu," kata seorang perempuan di antara khalayak itu.
Seperti biasanya, Pyotr Khudoleyev, mandor tua itu sedang menghajar Yusupha*, muridnya.
Khudoleyev bukannya dari dulu menjadi penyiksa murid-murid atau pemabuk yang suka berteriak. Dulu ia sebagai pekerja muda yang gagah menarik kerlingan kagum anak-anak perempuan kaum pedagang dan pendeta di daerah industri di sekitar Moskow.
Tapi Marfa yang tahun itu mencapai promosi di sekolah biara keuskupan telah menolaknya serta kawin dengan teman sekerjanya, yakni masinis Saveliy Nikitich, ayah Tiverzin.
Lima tahun sesudah kematian Saveliy yang dahsyat itu (ia mati terbakar dalam tubrukan kereta api yang menggemparkan pada tahun 1883) Khudoleyev mengulangi lamarannya, tapi Marfa menolaknya lagi. Begitulah ia mulai suka minum dan menjadi brandal; dicobanya membalas dendam kepada dunia yang menurut anggapannya menyebabkan nasib buruknya.
Selengkapnya

situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet

 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar