sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 12, Selasa 15 Mei 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

komentar Tentang Rudi Singgih
Ahmad Taufik

Membaca memoar Rudi Singgih, sungguh mengiatkan kita hukum tak jalan di negeri ini. Nyawa orang bisa diambil kapan saja oleh siapa saja, bahkan tanpa alasan apapun. Buat saya mengingat Rudi sama dengan mengingat kembali perjuangan panjang melawan ketidakbebasan pers di rejim Soeharto. Rudi orangnya kecil, ringkih, lincah tapi banyak ide. Kalau kita berbicara dengan dia banyak hal-hal yang kita tak tahu, justru datang dari dia.

Pernah dua tahun yang lalu ia cerita tentang banyaknya senjata-senjata dimiliki orang secara tidak sah melalui polisi, tentara dan Perbakin. Bahkan ia sempat mengungkapkan jago-jagonya eksekutif muda dan para pedagang di daerah Glodok yang jago menembak. Belakangan saya tahu informasi Rudi itu benar. Sekarang mulai banyak orang punya senjata, mulai dari anggota DPR sampai pedagang-pedagang kelas menengah. Dulu saya kira ia hanya membual, apalagi ia pernah mengajak belajar nembak dengan senjata yang disiapkan Perbakin. Namun, ia memberi syarat harus tiap hari Sabtu dan tak boleh absen sebelum mahir. Latihannya bersama Bambang Trihatmodjo, anak Soeharto. Saya tak pernah menindaklanjuti tawarannya, dan hanya nyelutuk 'aku tertarik.'

Aku ingat Rudi bersama beberapa kawan-kawan bekas Tempo mendirikan komunitas GET+ (Gabungan eks TEMPO plus) untuk melawan dominasi si rakus Bob Hasan. Saya termasuk sering mendapat proyek saat berada di Penjara. Memasok berita kriminalitas dari penjara untuk dimuat di lembaran Delik, suplemen Media Indonesia tiap Hari Rabu.

Kini mengingat Rudi sama dengan mengingat kembali kesewenangan-wenangan polisi dan juga tentara. Kita semua harus berjuang bersama ; tak boleh ada lagi orang ditembak sembarangan, entah itu di Jakarta, Bandung, Papua, Aceh, Maluku ataupun di tempat lain. Mari kita tak usah bayar pajak, karena pajak yang diambil pemerintah dibelikan senjata untuk menembaki orang-orang. Dan kelak tembakan bisa saja akan sampai pada orang-orang disekitar kita, juga pada anda dan pada saya.
***

 

situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet

kirim karya tulis
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar