sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 12, Selasa 15 Mei 2001

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis

esei Bob Marley, Sang Pemantra Rasta
Yusuf Arifin
Kalau Jah (Tuhan) tidak memberiku lagu untuk aku nyanyikan, maka tak akan ada lagu yang bisa aku nyanyikan. (Bob Marley, mati dari bumi 11 Mei 1981)

Gedung London Lyceum malam musim panas tahun 1975. Tanggalnya 18 dan 19 Juli. Konon di dua malam inilah Robert Nesta Marley, atau Bob Marley, tuntas memenuhi suratan nasibnya ; menasbihkan dirinya sendiri menjadi pengkhotbah untuk kaumnya, kaum Rastafarian.

Benar bahwa sejak sekitar akhir tahun 60an Bob Marley telah menjadi salah satu pengkhotbah paling fanatik kaum Rastafarian. Tetapi dua malam di gedung pertunjukan tua Inggris itu Bob Marley mencapai kesempurnaan yang hanya bisa diimpikan oleh banyak pemusik besar dunia, siapapun ia. Bob Marley mencapai titik ekstase transendental di atas panggung. Panggung, bagi pemusik, adalah altar untuk mencari ekstase transendental yang tak bisa mereka dapatkan di dunia yang materialistik. Pengganti altar gereja, saf-saf masjid, teras-teras candi atau apapun namanya tempat bagi diberlangsungkannya upacara keagamaan. Tak banyak pemusik besar dunia yang bisa sampai ke taraf itu, dan juga tidak setiap kali naik ke panggung efek itu akan tercapai. Dua malam itu Bob Marley menyentuh impian yang selalu didambakan setiap pemusik. Ia kesurupan dengan energi yang sepertinya tak akan habis, membuang tubuhnya ke kiri dan kekanan, berputar-putar layaknya seorang sufi yang sedang mendendangkan lagu pujaan kepada tuhan, ia mampu menyebarkan vibrasi ekstasenya ke seluruh orang yang ada di dalam gedung. Seorang saksi mata pertunjukkan mengaku kalau malam itu Bob Marley memerintahkan mereka untuk membakar kota London, ia sangat yakin mereka akan membakarnya.


Bagi Bob Marley --yang tidak sekedar menganggap panggung pertunjukkan sebagai pengganti altar upacara keagamaan, tetapi adalah altar kegamaan itu sendiri-- dua malam di Lyceum London sangatlah berarti. Pada dua malam itu anggapan kaum Rastafarian bahwa ia memang seorang pendeta --dukun atau
shaman-- terteguhkan, sesuatu hal yang ia sendiri sebenarnya sudah meyakininya sejak lama.

Janganlah Menangis Perempuan
Bob Marley tercatat berulangkali mengatakan pertunjukkannya sebagai upacara keagamaan untuk meningkatkan kesadaran akan kehidupan. Versi rekaman live salah satu lagu yang dinyanyikan dua malam itu, No Woman, No Cry, menjadi hit dunia. Rekamannya sendiri tidaklah sempurna sekali, tetapi intensitas vibrasi lagu itu menusuk setiap orang yang mendengarkannya. Lagu itu berkisah tentang seorang laki-laki (Bob Marley) yang berpisah dengan kekasihnya karena akan pergi memperjuangkan kebenaran di dunia. J
udulnya No Woman, No Cry seolah mengatakan kalau tak ada perempuan maka tak akan ada tangis di dunia. Padahal Bob Marley menggunakan Bahasa Inggris Jamaika yang berarti Don't Woman, Don't Cry ; "janganlah engkau (perempuan) menangis." Menangisi sang kekasih yang pergi untuk memperjuangkan kebenaran.

Bob Marley juga yakin benar bahwa banyak lagu-lagu yang ia ciptakan adalah nujum akan masa depan yang selalu terbukti kebenarannya. Ia hampir mati terbunuh tahun 1973 oleh seorang yang masuk ke rumahnya --beberapa saat sebelumnya ia mengarang lagu Ambush in The Night yang sepertinya menceritakan kejadian itu. Ia merasa menjadi shaman yang harus terus mengingatkan manusia bahwa kebinasaan adalah niscaya dan tak lagi jauh dari mata. Ramalannya sendiri tentang kematian pada usia 36 tahun, setelah terlebih dahulu menikmati puncak kejayaannya selama tiga tahun sebagai pemusik -- entah mungkin karena ia sudah tahu terkena kanker ganas yang tak tersembuhkan -- terbukti benar.

Pada awalnya alasan ketertarikan Bob Marley pada musik sama dengan anak muda umumnya: menjadi populer dan keluar dari kemiskinan. Bapaknya seorang marinir Inggris --kulit putih-- meninggalkan ibunya --kulit hitam-- sejak Bob Marley kecil. Musiknya sangat beragam dan belajar dengan sangat rakus. Ia sangat mengenal melodi dan ritme jazz yang rumit tetapi ekspresif. Penggemar berat rock, terutama dari Fat Domino, Elvis Presley dan Ricky Nelson. Ia juga dikenal sebagai penggemar musik-musik Soul. Ia bahkan diketahui mengikuti dengan dekat Nat King Cole, yang dianggap berJazz dengan selera kaum kulit putih.

Tetapi dari itu semua, kecintaan utamanya adalah pada jenis musik tradisonal Jamaika: ska, jenis musik yang dimaklumi sebagai ibu dari musik reggae. Karena berbagai pengaruh aliran musik yang ada pada Bob Marley inilah, jenis musik reggae yang keluar dari tangan Bob Marley sangat eksplosiv dan berciri khas lain dibandingkan reggae yang sebelumnya ada.

Ketika pada akhir tahun 60an Bob Marley membentuk kelompok musiknya The Wailers --Sang Perintih-- bersama beberapa teman dekatnya, kelompok itu tak lebih dari sebuah kelompok ska sederhana. Tetapi ketika mereka mulai cenderung mereggae ketimbang ska dan mempertegas instrumen elektrik serta alat musik elektronik, mereka mulai menemukan ciri khas. Dentuman bass memandu ritme dengan ketukan seperti mengajak orang untuk meloncat-loncat. Bob Marley seringkali sengaja memainkan gitar elektroniknya dengan nada melompat-lompat sehingga sedikit agak keluar dari nada yang benar tetapi pas untuk menimpali suara bass yang menjadi patokan. Sebuah gaya yang kemudian menjadi trademark Bob Marley. Gaya bernyanyi Bob Marley juga tak jauh beda dengan cara ia memainkan gitarnya ; melengking seolah menjadi salah satu instrumen musik, yang seringkali tidak pas benar dengan nada musik yang dimainkan. Musik reggae paska Bob Marley jelas sekali terpengaruh oleh olahan Bob Marley, yang seolah kemudian diterima sebagai norma untuk memainkan reggae.

Sumber inspirasi ritme musik Bob Marley yang lain --dan reggae pada umumnya-- adalah nada repetitif seperti untuk upacara-upacara keagamaan di Jamaika. Nada repetitif ini untuk mengangkat alam bawah sadar manusia karena memang mempunyai potensi hipnotis yang hebat. Ini bukan yang luar biasa karena di seluruh dunia musik-musik tradisional --yang biasanya mempunyai kaitan dengan kepercayaan keagamaan-- cenderung menggunakan nada-nada repetitif. Apalagi jenis instrumen musik utama Jamaika adalah tambur, drum, genderang, atau semacamnya, yang tak banyak memberikan pilihan nada. Dipadu dengan pembacaan mantra maka nada repetitif menjadi medium yang efektif.

Dan yang dilakukan Bob Marley di atas panggung adalah membaca mantra --lagu-lagu ciptaannya-- dengan diiringi musik reggae. Bagi Bob Marley, mementaskan musik reggae adalah melakukan upacara keagamaan layaknya apa yang terjadi di Jamaika. Mengulang apa yang dialaminya di Jamika saat tumbuh dewasa. Adalah musik reggae olahan Bob Marley ini yang menyebar ke seluruh dunia di sepanjang tahun 70an. Mempengaruhi berbagai pemusik dunia yang sudah mapan, apapun alirannya, dan memberi inspirasi bagi pemusik pemula, baik putih maupun hitam. Yang juga membuat reggae versi Bob Marley mendunia adalah kesadaran penuhnya untuk menjadikan musik ciptaannya, dalam hal ini lirik, sebagai medium ekspresi atas observasi sosial politik.

Dari sisi idiososiologis, menurut para sosiolog musik, reggae versi Bob Marley menjadi tak jauh berbeda dengan kelahiran musik blues Amerika. Inilah yang menurut para sosiolog musik menjadi alasan mengapa Reggae bisa menyebar ke seluruh dunia. Pada sekitar tahun 70an, musik blues seperti telah kehilangan nyawanya. Dan musik rock, anak dari blues, kegemukan mengeruk uang dari dunia komersial. Reggae muncul persis seperti musik blues pada awalnya; sebagai jawaban orang kulit hitam atas kemiskinan, keputusasaan dan eksploitasi. Dan seperti musik rock ia mencoba memberi pengalaman spiritual (sesaat), persis seperti ketika musik rock mengambil alih hal itu dari kehidupan gerejani, juga sekaligus sebagai perwujudan pemberontakan kemapanan. Bahkan nama yang mapan buat kelompok musik Bob Marley adalah The Wailers, Sang Perintih, pelolong. Para anak muda dunia yang mencari alat pelampiasan dan pelarian dari dunia kapitalistik yang cuma satu dimensi, yang cuma mengukur segalanya dari seberapa tebal kantong di baju, memeluk reggae erat-erat sebagai bentuk eskapisme.

Dengan kaum hipies meredup ke pinggiran dan psychedelia gagal menjelaskan arti kehidupan di dunia, maka bersama gerakan punk, reggae menjadi sebuah trend dunia di tahun 70an. Reggae muncul dengan kakinya terhunjam ke lumpur dan kepalanya terhuyung-huyung menghantam kemapanan.

Penginjil Rastafarian
Reggae sinonim dengan gerakan Rastafarian karena Bob Marley lah yang mempopulerkan ke dunia. Pokok ajaran Rastafarian sederhananya percaya bahwa (mantan) Raja Ethiopia Haile Selasie adalah Tuhan, sang penyelamat Kristus yang dijanjikan dalam Injil. Haile Selasie inilah yang dipercaya akan datang menjemput kaum hitam di Karibia untuk kembali ke sorga, di atas bumi Ethiopia. Kaum Rastafarian percaya merekalah orang Yahudi di jaman modern yang tercerai berai, miskin dan terbudakkan, dan seperti dijanjikan Tuhan akan kembali ke tanah impian mereka ; Babilonia baru, Ethiopia. Mereka menyebut tuhannya dengan nama Jah, nama lain Jehovah --tuhan Yahudi dalam Injil.

Rastafarian bersumber dari Haile Selasie adalah Tafari Makonnen. Julukan lengkapnya Ras (Pangeran) Tafari Makonnen, panggilannya Ras Tafari, dan Rastafarian pengikutnya, atau sering disingkat Rasta. Gerakan Rastafarian ini mulanya dibentuk oleh pejuang hak asasi kulit hitam Jamaika, Marcus Garvey dan beberapa rekannya di sekitar pertengahan tahun 20an. Tetapi gerakan Rastafarian tidak pernah benar-benar mampu menyebar ke kalangan orang kulit hitam Karibia apalagi dunia. Baru setelah Bob Marley populer dengan reggaenya, Rastafarian ikut menyebar bak wabah ke seluruh Karibia.

Bagaimana Bob Marley bisa menerima ajaran kalau Tuhan hanyalah seorang manusia biasa dan hanya berlaku buat orang hitam Karibia membuat banyak orang tidak paham. Bob Marley, seperti halnya kaum rastafarian lainnya percaya bahwa Haile Selasie akan hidup selamanya. Namun ketika Selasie meninggal Agustus 1975, Bob Marley sempat menderita shock hebat. Ia kemudian memberi penjelasan bahwa kematian Selasie hanyalah secara fisik, tetapi secara spirit akan terus bersama mereka. Ia bahkan mengaku Jah Rastafari ruting mendatangi serta memberi petunjuk padanya. Setidak masuk akal apapun kerpecayaan Bob Marley menurut banyak orang, Rasta telah memberi arti hidup buat Bob Marley. Konon menjelang akhir hidupnya ia sering terlihat hingga lewat tengah malam khusuk membaca Injil sambil menghisap ganja -- yang diyakini orang Rasta bukan sekadar tumbuhan biasa tetapi sebuah tumbuhan suci yang bisa membersihkan hati dan jiwa. Ia seperti sedang mempersiapkan diri untuk bertemu kembali dengan Jah Rastafari, Tuhannya. Kritik orang akan kepercayaan yang dianutnya ia pasrahkan lewat salah satu lagu rasta yang paling populer, Get Up, Stand Up.

We sick an' tired of-a your ism-skism game
Dyin' 'n' goin' to heaven in-a Jesus' name, Lord
We know when we understand
Almighty god is a living man.

You can fool some people sometimes
But You can't fool all the people all the
Kami bosan dengan penjelasanmu
Mati dan masuk sorga atas nama Yesus
Kami telah memahami semua
Tuhan yang maha perkasa adalah manusia biasa
Tipuanmu kadang bisa berhasil
Tetapi tidak selalu dan tidak semua bisa kamu tipu

Tanggal 11 Mei 1981 Bob Marley meninggal dunia di sebuah rumah sakit Florida diserang habis tumor otak. Ia menghadapi kenyataan yang tak pernah menipu manusia : kematian.


situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet


 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar