ceritanet  edisi 129 selasa 6 februari 2007,  po box 49 jkppj 10210

cerpen Kotak Amal
M. Arpan Rachman

Sejak musyawarah pengurus langgar menetapkan rumah ibadah di kampung kami harus direnovasi, bangunan kayu tua di tepi sungai Ogan yang telah terbilang dua puluh tahun lebih usianya dan di beberapa bagian mulai lekang diserang lapuk, secara beramai-ramai dirobohkan. Para penduduk berkumpul menyumbangkan pahalanya dengan menggada, meruntuhkan dinding, mencabut paku-paku, menggergaji tiang-tiang, dan mengangkut mihrab ke tepi jalan.

Masalah yang timbul setelah langgar tua itu rata dengan tanah, menyangkut besaran dana renovasi yang ternyata tidak mencukupi untuk mendirikan sebuah bangunan baru sesuai dengan maket yang diajukan ketua majelis taqlim yang sekaligus merangkap pula sebagai ketua pengurus langgar. Demi menyiasati ketidakcukupan dana pembangunan, diperintahkanlah seorang tukang membuat kotak berbingkai kayu yang dilapisi plastik kaca. Siapa lagi yang memerintahkannya kalau bukan Angku Harun –ketua majelis taqlim yang juga ketua pengurus langgar?

Kotak kayu berlapis plastik kaca yang terbuka pada bagian atasnya itu ditulisi dengan huruf-huruf besar “KOTAK AMAL” dan ditaruh ke tengah Jalan Kertapati. Ia menjadi semacam pertanda bagi arus lalu lintas yang melalui atau melintasi jalan itu tentang sumbangan sukarela.

Meskipun awalnya merasa keberatan dengan cara-cara menarik perhatian dan memungut sumbangan yang disampaikan secara demonstratif seperti itu, aku tidak bisa bersuara keras lantang menentang terang-terangan. Golongan remaja macam kami ini dianggap belum sahih membicarakan persoalan yang 'menurut katanya agama.' Padahal seharusnya pengurus langgar merencanakan sejak awal akan berapa besarnya biaya atau mencari donatur bagi proyek renovasi langgar. Bukankah pokok tujuannya tidak lain tidak bukan demi menegakkan kemaslahatan?

Beberapa remaja, termasuk aku, diperintahkan secara sepihak untuk menjaga kotak itu dari 'si tangan jahil' yang kalau-kalau datang mengendap-endap merogoh kotak dan melarikan uang di dalamnya. Atau sekadar mengangkut kotak dan memindahkannya ke emperan langgar, menjauhkannya dari terpaan curah hujan yang sudah musimnya kini tapi sekaligus pula menjauhkan dari perhatian orang.

Saat giliranku pertama kali berjaga di minggu lalu, kulihat beberapa sopir mobil, pengendara sepeda motor, dan para pejalan kaki yang lewat mengulurkan tangannya ke dalam kotak amal. Kupikir, mereka tentu akan mendapat ganjaran pahala yang tak ternilai.

Semestinya saat giliran kedua kalinya menjaga kotak itu sore kemarin, aku tidak berlaku lalai. Tetapi tayangan langsung pertandingan sepakbola Liga Italia di TV pada malam sebelumnya sukar benar kulewatkan. Jadinya, malam itu mataku tidak terpicing sekejap pun hingga larut fajar. Masih sekal tertinggal di cuping telingaku merdunya lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an menjelang subuh yang berkumandang dari pengeras suara di atas menara surau di kampung seberang sungai.

Sore esoknya, tersungut kantuk sangat menyengat, tanpa kusadari mataku terkelap dan aku pun lelap. Entah hingga berapa lama. Hingga tiba-tiba...

“Bangun, bangun!” bahuku dengan keras diguncang dua belah tangan kukuh.
Aku tergeragap. Liur masih menempel di ujung bibir...
“Hey, kau tanggung jawab!”

Tak tahu lagi siapa yang membangunkan aku ketika itu. Rasa panik seketika menguasai kesadaranku yang makin berat. Tatapku berkunang-kunang dan sebentar kemudian kudengar beduk ditabuh bertalu-talu. Suaranya seperti gemuruh debar jantung yang kurasa hampir tercabut dari rongga dadaku.
Orang-orang berdatangan pada keluar rumah dituntun oleh pengumuman yang diteriakkan arak-arakan berkeliling kampung anak-anak kecil yang kurang kerjaan. Mereka riuh menabuh ember dan bambu, kaleng dan kayu, apa saja yang dapat ditabuh mengeluarkan bunyi sampai gaduh.

“Kita kemasukan pencuri!”
“Maling! Maling!”
“Kotak amal hilang!”   

Tak pelak lagi aku lalu diajukan ke muka sidang yang dipimpin ketua Rukun Tetangga berhubung Kepala Desa sedang bertugas ke ibukota kabupaten. Balai desa, yang ruang tengahnya lapang, dijadikan sebagai tempat penyidangan. Kulirik sekilas beberapa tokoh pemuka masyarakat kampungku hadir juga di sana, termasuk Angku Harun yang kubenci, dan yang juga membenciku. Kami berdua seperti sudah ditakdirkan untuk saling membenci. Tak perlu alasan, tapi melihatnya saja kebencianku langsung memuncak, dan aku yakin begitu pula halnya dengan dia. Dan melihat tampangnya, aku bisa rasakan kebencianku menggelegar, menyingkirkan rasa takutku.

Banyak orang menyeruakkan kepalanya di ambang jendela. Sekedar menonton, memanas-manasi lewat celetuk dan komentar, tetapi di raut wajah mereka tampak benar ada gusar yang tidak sekedar. Suasananya ribut-ribut, mirip benar dengan sidang pengadilan menghakimi kriminil yang tertangkap tangan.

“Saudara Bayu, benarkah anda yang giliran bertugas menjaga kotak amal kemarin sore?” tanya ketua RT.
“Benar, Pak!”
“Tahukah anda kotak itu hilang?”
“Aku tidur saat itu,” ujarku pelan. “Sumpah, aku ndak tau.”

Bbuuuu! Para penonton ribut lagi. Mereka sibuk saling bertukar caci-maki yang membuat kupingku merah-padam dipanasi hawa emosi. Mereka nyata-nyata sekali telah mentakzizkan aku....

“Sudah, suruh ganti saja uang di kotak amalnya!” Angku Harun berdiri dengan amarah meluap-luap ke ubun-ubun. Darahku mendidih. Tanganku bergetar menahan semburan darahku yang siap menghantam titik mulutnya dari bagian bawah dan kepalan tanganku melesat ikut menyapu hidungnya. Darah muncrat ke ke lantai. Kutahan energi kebencianku itu, dan tanganku bergetar makin kuat.

Tapi perkaranya masih panjang. Sebab tak seorang pun tahu berapa persisnya jumlah uang di dalam kotak amal. Selama itu uang sumbangan ternyata belum sempat dihitung! Lalu muncul para penonton baru: orang-orang tegap, di antaranya ada yang berhias rajah tatto di lengannya, mengenakan kaos oblong hitam yang seragam. Dari kumpulan orang terakhir inilah terdengar suara-suara balau yang mengusulkan agar membawaku ke kantor polisi saja. Dan usul mereka disepakati....

Sudah santer terdengar kabar bahwa lokasi tanah, tempat langgar berdiri, dulu dihibahkan oleh nenek moyang keluarga Angku Harun namun hanya secara lisan kepada tetua kampung. Tidak ada bukti tertulis yang menyatakan tanah itu dengan sendirinya berubah fungsi menjadi rumah ibadah sebagai fasilitas umum. Dan Angku Harun masih memegang sertifikat tanah yang asli...

Beberapa minggu lalu, seorang lelaki berkulit kuning bermata sipit dikawal seorang lelaki lain: tegap, bermata tajam, serupa dengan kerumunan bertatto yang muncul di sidang penghakimanku. Mereka berdua turun dari mobil sedan hitam mengkilat dengan kaca jendela berwarna timah yang mementalkan sinar melindungi pandangan orang ke dalam mobil.

Di siang yang terik itu, aku kebetulan berteduh menjauhi sinar si raja langit di emperan langgar sambil menjaga kotak amal. Kudengar lamat-lamat, mereka berbicara tentang luas tanah dan lokasi bangunan toko. Beberapa hari kemudian lelaki pengawalnya itu datang lagi, bersama beberapa juru ukur berpakaian safari dari kantor pertanahan kabupaten. Mereka sama sekali tidak mengacuhkan seorang anak kecil berumur 12 tahun yang sedang berjaga.

Karena tidak diacuhkan itulah, aku bebas mengamati mereka dan mendengar pembicaraan mereka. Dan kusebar ke kawan-kawanku dan para pengurus langgar kalau langgar kami akan digusur untuk berganti menjadi toko. Kebencianku pada Angku Harun terlampiaskan. Aku membayangkan dia diciduk si mata sipit dan diikat di kursi berduri oleh si pengawal berbadan tegap, sementara kami semua membuat rantai manusia mengelilingi tanah langgar. Si sipit, si pegawal, dan para juru ukur tak bisa melangkah masuk. Aku tersenyum kecil usai menceritakan rencana Angku Harun dan si Sipit ke para pengurus langgar.

Tapi Angku Harun tahu juga dari asal-muasalnya buah bibir para penduduk dan desas-desus di belakang punggung tentang rencana penggusuran langgar. Dengan murkanya dia mengancam akan menggiring aku ke kantor polisi. Rasa takutku tidak keluar, terkalahkan rasa benciku. Kutahan napasku menekan semburan darah kembali ke jantungku.

Tukangnya Angku Harun kemudian membuat kotak amal baru. Aku tidak lagi bertugas menjaganya. Setelah sidang di balai desa yang terputus, dua orang polisi berseragam datang ke laggar dan mendorongku ke mobil patroli. Padahal aku masih mau menjaga kotak amala baru, kalau disuruh.

Angku Harun, katanya, membayar polisi supaya menyekapku di tahanan, paling tidak beberapa hari. Untunglah di situ ada masjid dan aku bisa mengedarkan kotak amal di dalam mesjid penjara.
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Suluk Transisi
Gatot. Arifianto

cerpen Feminis Ngetop dari Jakarta
Limantina Sihaloho

ceritanet
©listonpsiregar2000