ceritanet  edisi 128 kamis 21 januari 2007,  po box 49 jkppj 10210

esei Saya Tidak Mau di Surga Sendirian
T. Wjaya

Sama seperti orang Indonesia lainnya, saya miskin. Sama seperti manusia lainnya, saya banyak dosa. Sama seperti semua makhluk di langit, dan di bumi, saya tidak tahu apa-apa. Tapi, saya tidak mau masuk surga sendirian, meskipun itu kehendak Tuhan.

Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana hidup abadi di surga sendirian. Hidup dengan kemewahan, dikelilingi bidadari cantik yang kulitnya sebening kaca, tapi orang yang saya kenal dan cintai, seperti ibu saya, istri saya, mantan pacar saya, leluhur saya, presiden saya, tetangga saya, sahabat saya, tersiksa selamanya di dalam neraka.

Yang lebih menyedihkan lagi, mereka masuk ke dalam neraka setelah hidup miskin dan terhina di dunia ini. Misalnya, Susi, teman masa kecil saya di Palembang, meskipun sudah menjadi pelacur, hidupnya tetap miskin.
Nah, mereka yang menjadi korban berbagai bencana di Indonesia selama setahun ini, baik akibat bencana tsunami, gempa bumi, kecelakaan pesawat terbang, kapal laut tenggelam, hukuman mati, saya sangat mengharapkan Tuhan memasukan mereka ke surga. Jangan menderita di dunia, menderita pula di akherat.
***

Selama setahun ini pula, saya selalu diajak orang yang mengerti agama untuk menyelamatkan diri. Penyelamatan diri itu yakni mengikuti sejumlah ajaran atau tradisi ke-Islam-an --saya beragama Islam-- yang dikatakan yang paling benar. Menurut mereka, kiamat sudah dekat sehingga setiap manusia harus menyelamatkan diri, alias jangan terikut dengan kebanyakan manusia hari ini yang dinilai sudah jauh dari Tuhan.

Awalnya saya setuju. Tapi, bila mana kiamat itu benar-benar datang mendadak --saya yakin adanya kiamat atau akhir kehidupan di dunia-- bagaimana dengan mereka yang tidak sepaham dengan saya? Apakah mereka masuk neraka?

Saya tidak mau dengan pilihan tersebut. Saya tidak mau saudara-saudara saya yang miskin, jarang melakukan ritual agama, tidak mampu bersedekah, dan terpaksa menjadi pelacur atau perompak, masuk ke neraka. Bila memang seperti itu pilihan Tuhan --mungkin naif-- lebih baik saya sendirian masuk neraka, tapi semua manusia yang sudah menderita di dunia ini masuk surga. Sebab saya percaya, selama di surga, mereka akan bermohon kepada Tuhan agar saya dibebaskan dari api neraka.

Jika hanya saya sendirian atau minimal dengan beberapa orang --kelompok kecil-- masuk surga, bagaimana mungkin dapat bernegoisasi dengan Tuhan agar mereka yang masuk ke neraka dibebaskan dari siksaan. Cukup sudah derita dan tangisan yang dialami serta dimohonkan para nabi, orang suci, yang lebih dahulu hidup dari kita, guna memperjuangkan nasib umat manusia kepada Tuhan. Intinya, saya ingin semua makhluk hidup di jagat raya ini masuk surga.
***

Gugurnya Cinta
Saya bukan nabi. Saya bukan ulama. Saya bukan malaikat. Saya manusia yang ingin belajar menulis karya sastra dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang sampai saat ini belum saya kuasai betul, dan seperti pernah disinggung kawan Radhar Panca Dahana --dalam sebuah perjalanan Lalu Waktu, antologi puisi-- di Palembang, Jambi, dan Bengkulu, menjelang Soeharto jatuh, bahasa Indonesia yang ada dalam kamus bahasa Indonesia, belum tentu mampu mengungkapkan siapa kita sebenarnya.

Tapi selama belajar menulis sastra, saya mengenal kata cinta. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun W.J.S. Poerwadarminta yang diterbitkan PN Balai Pustaka, 1976, cinta diartikan sebagai rasa sayang, rasa ingin, sangat kasih, atau sangat tertarik.

Saya percaya cinta adalah kunci kita masuk surga bersama. Teori cinta ini sudah banyak disebarkan dan diajarkan para nabi, hingga filsuf dan pemikir. Tapi, perwujudan cinta yang mungkin menjadi persoalan kita hingga hari ini.

Personifikasi saya soal cinta itu, misalnya, setiap pekan tepatnya hari Jumat, umat Islam memberikan sumbangan ke masjid. Ini juga berlaku pada umat beragama lainnya. Secara acak, saya terkadang menghitung jumlah sumbangan kaum muslim itu setiap pekan. Misalnya setiap pekan terkumpul dana sebesar Rp100 ribu. Dalam sebulan terkumpullah dana sebesar Rp400 ribu.

Dana tersebut memang digunakan buat operasional masjid. Misalnya buat membayar listrik, air bersih, atau perbaikan kondisi masjid, atau membeli buku perpustakaan. Tapi, apakah betul dana sebanyak itu habis buat operasional masjid? Ternyata tidak.Buktinya, hampir setiap masjid ada tabungan.

Pertanyaan saya, kenapa sisa dana yang ada tersebut, tidak digunakan buat diberikan kepada anak-anak dari keluarga miskin buat biaya pendidikan, yang berada di kampung atau di sekitar masjid?

Maaf, yang terjadi, justru dana tabungan tersebut cenderung digunakan buat memperbagus atau meluaskan masjid. Jadi, tidaklah heran, bila di meja para pejabat pemerintah atau pengusaha, bertumpuk proposal permohonan bantuan biaya buat bangunan masjid.

Seandainya dana tersebut digunakan buat biaya pendidikan buat anak-anak miskin, saya pikir pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan pusing dengan persoalan pendidikan di Indonesia.

Bila nantinya anak-anak miskin itu menjadi pintar, lantaran sekolah, saya pikir mereka akan mampu menghasilkan uang dari ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Masjid setinggi 50 lantai pun pasti akan terbangun dari sumbangan mereka.

Belajar Cinta
Mungkin kita harus belajar bagaimana Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809) dan putranya al-Mamun (813-833) membangun dinasti Abbasiyah pada masa puncaknya, dengan pembinaan atau pendidikan mengenai peradaban dan kebudayaan, sehingga semua rakyatnya berjuang ingin masuk surga bersama-sama. Seperti ujaran “Amin” atau “Amien” yang diteriakkan bersama saat salat berjemaah di masjid maupun di gereja.

Pada masa hidupnya, al-Mamun melakukan gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan, dengan mendorong rakyat untuk sekolah, kemudian menerjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Teologi rasional menjadi tonggak pemerintahan Abbasiyah.

Menurut buku Ensiklopedi Islam yang diterbitkan Ichtiar Baru van Hoeve, 1994, ada beberapa faktor yang menyebabkan Daulah Abbasiyah mencapai masa puncaknya.

Pertama, adanya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah. Artinya, adanya peranan unsur-unsur non-Arab, seperti bangsa Persia. Kedua, pembangunan lebih diorientasikan kepada pembangunan peradaban dibandingkan perluasan wilayah.

Dari dua sikap itu, lahirlah Abu Hanifah dari bangsa Persia sebagai tokoh hukum Islam, Sibawaih dalam bidang gramatika. Lalu, para pemikir dari India menyumbangkan ilmu kedokteran, ilmu perbintangan, dan matematika.

Sementara Yunani menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam, seperti di Jundisapur dalam bidang kedokteran, Iskandariyah dan Antika dalam bidang filsafat, serta di Harran dalam bidang matematika dan ilmu falak.
Hanya, sebagai pengikat semua itu yaitu bahasa Arab.

Meskipun terlambat, menurut saya, pengalaman tersebut masuk ke nusantara. Misalnya di Aceh dan Palembang. Indikatornya dengan menyebut kata “sultan” buat para pemimpinnya. Khusus di Palembang, pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, banyak lahir para ulama, dan pemikir, yang tujuannya mengajak semua orang masuk surga. Bukan hanya di Palembang --baca Sumatra Selatan-- juga semua masyarakat di nusantara. Ini terbukti menyebarnya buku hasil pemikiran ulama Abdussomad al-Valembani ke Malaka, Brunei, Ternate, dan Thailand.

Bahkan, Palembang sempat dijuluki sebagai “Hadramaut kedua” lantaran banyaknya ulama, baik lokal maupun dari Hadramaut, Yaman. Tidak ada kekerasan antaretnis saat itu. Arab, India, Tionghoa, Eropa, Jawa, Bugis, diterima dengan baik. Soal paham ke-Islam-an maupun agama lain pun tetap diperkenankan hidup dan berkembang.

Hanya, benturan atau konflik terjadi ketika VOC yang semula ingin membangun hubungan dagang, berubah ingin menjajah. Lalu, mengapa VOC alias Belanda mampu menguasai Palembang, dan sebagian besar kerajaan di nusantara?

Menurut ustad Muhammad Husni --seorang ustad di Palembang-- takluknya nusantara terhadap Belanda, Inggris, atau Portugis, lantaran “hancurnya” rasa cinta. Menurut dia, syetan menyebarkan rasa tamak; sehingga cinta berubah menjadi perebutan harta, kekuasaan, dan fitnah. Meskipun diam-diam, kebencian terhadap Belanda atau bangsa asing, berubah menjadi kebencian terhadap keyakinan agama mereka.

Selanjutnya, dalam posisi “dijajah”, teologi rasional yang diserap dari Abbasiyah, beransur hilang. Mereka tidak lagi memikirkan ilmu pengetahuan. Mereka terbuai dengan benda-benda gaib, atau sesuatu yang dinilai memiliki kekuatan magis. Jadi, tidaklah heran, saat ini, bila seseorang ingin menjadi seorang pejabat, bupati, atau anggota dewan, bukan sibuk menyusun konsep atau menambah ilmu pengetahuan, melainkan mencari dukun yang paling paten. Uang jutaan rupiah, yang seharusnya dapat diberikan buat anak-anak yang tidak mampu melanjutkan sekolah, dihabiskan buat membeli kerbau atau ayam.

Jadi, beranjak dari pengalaman tersebut, nusantara ini harus dibangun kembali dengan rasa cinta. Cinta yang mendorong terbangunnya teologi rasional. Tidak gampang memang. Tapi, buat saya tidak membunuh, tidak rela orang miskin, tidak korupsi, tidak senang melihat orang bodoh, tidak memfitnah orang yang berbuat baik, itulah cinta.

Namun, seandainya besok atau satu jam dari artikel ini dibaca Anda, kiamat datang, terlepas dari semua kesalahan kita selama ini, saya berharap kita semua masuk surga. Kalaupun ada yang masuk neraka, cukup saya yang masuk neraka, dan di sana saya melanjutkan ritual menggergaji batu; yang selama ini suara dan serbuknya memekakkan dan menyesakkan dada saya.
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Sajak Kesepian
Gendhotwukir

memoar Gado-gadoku
Nabiha Shahab

 

ceritanet
©listonpsiregar2000