ceritanet  edisi 128 kamis 21 januari 2007,  po box 49 jkppj 10210

sajak Sajak Kesepian
Gendhotwukir

Tak ada azan magrib sepulang main bola
Sambil menenteng degan atau tebu dengan
Lusuh baju di sekujurnya. Atau juga azan subuh
Ketika hendak bergegas mandi setelah mimpi basah,
siap berangkat sekolah.

Tak ada kokok ayam di fajar yang menyadarkan,
bahwa semua hanya mimpi, juga saat
kemolekan Poniyem terbawa dalam mimpi,
ketakutan hendak terterkan macan, juga lantaran
iring-iringan ke kuburan.

Tak ada bunyi lesung di pagi hari,
penanda hidup memang harus diperjuangkan dan ditelateni,
seperti Mbah Min yang pagi-pagi buta tergesa
menumbuk padi dan jagung untuk Soleh yang
ingin sarapan bubur, sebelum ke sawah yang tak lagi gembur.

Tak ada suara musik ndangdut yang memecah
Keheningan pagi yang sunyi, dari rumah jauh di seberang jalan
Dengan rumah tak bersemen, cukup bergedhek saja agar suara musiknya jauh terdengar
Tapi, memang begitulah, Ponidi hobi musik melayu,
dari sejak remaja hingga kini beranak dua.

Tak ada kelana ke tetangga desa, ramai-ramai
Nonton kethoprak atau wayang, atau hanya sekedar kalah
Main dadu dan setelah itu mengumpat karena tak sempat
makan kupat tahu.

Tak ada teriak ketakutan di tengah malam di pekuburan tua yang angker
Dengan beringin dan kamboja yang mengelilinginya, saat-saat kita
pulang larut dari layar tancap di desa Sabrang.

Semua itu tak ada tapi tetap dipuja, di kota baruku yang bisu, tak mampu
Dengan penatmu, setelah dirimu terbujur kaku di atas
Apartemen-apartemen tak berdebu.
Bonn, 090205

Hujan Tiba

Hari ini mendung, pekat hendak meruntuh
Segra saja aku ingin pulang kantor,
menunggui bayiku,
menggendongnya, kalau tiba-tiba saja hujan lebat jatuh.

Seperti angin yang telah basah aku mengenalimu,
dirimu akan segera tumpah-meruah.

Sejak petaka tahun lalu di musim yang selalu berganti
Dirimu tak pernah memberitahu
Kecerobohan kita merawat semesta.
Sampah-sampah di trotoar, selokan
yang bau pesing, got yang tersumbat, tanggul yang hampir roboh
dan pemda yang senonoh.

Tanpa kabar layar kaca, bahwa banjir
Selalu ada, tanpa bicara di masa yang beriklan saja.
Tak sesederhana , kita berbicara karena janji dan dusta tiada beda,
bagi penguasa yang haus harta, juga bagi Sutiyoso yang cuma bicara saja.

Aduh Mak !
Hujan tiba, segeralah kemasi barang kita,
karna banjir akan segera melanda.
Sankt Augustin, 100205

Sajak Selepas Tragedi Legian Bali

Di Kuta Bali yang tak lagi sunyi,
ada gadis menyusur pesisir seorang diri,
hendak menelan tragedi Legian di mimpi,
tepat di dahinya yang tak berjejak hari.

Ditatapnya hari-hari yang enggan diakrabi dan dikencani,
setelah ratusan duri tak dapat dipercaki,
juga setelah tapak kaki yang segra lesap ke dasar bumi,
bersama angan-angan sore tadi.

Kata-katanya membisu di selembar kacu,
tempat air dukanya telah lama membatu.

Andai saja masa lalu hanya rajutan mimpi,
bisumu akan segra menjawabi, ratap-sesalmu yang mendayu akan menjadi saksi tak terperi,
seharusnya tidak begini, terkunci di sunyi-sunyi Kuta Balimu kini yang mau kau kutuki.
Bali, 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

esei Saya Tidak Mau di Surga Sendirian
T. Wjaya

memoar Gado-gadoku
Nabiha Shahab

ceritanet
©listonpsiregar2000