ceritanet  edisi 127 kamis 4 januari 2007,  po box 49 jkppj 10210

sajak Ishazara – Wanita Falujjah
Elmi Zulkarnain

Bumi diantara tiga corok segitiga Sunni,
Tanah yang digempur diragut dari damai dan sunyi.
Antara Ar Ramadi dan Tikrit, kota Fallujah berdiri.
Seorang wanita menjerit berani,
“Mengapa kota sejarahku menjadi tumpangan derita sengsara?
Suara tangis anak-anakku yang dibebani cemas yang tiada sementara?
Kuping telinga dunia dituli siapa?
Mayat rentung suamiku yang tergelimpang di hujung sana,
Diteman rakan syuhadah yang menerima padah angkara dusta.
Apakah darah basah akan terus mengalir?
Adakah kebebasan bererti kemanusiaan sebenar dipinggir?”
Asap berkepul penghalang mentari,
Malam berganti dengan cahaya bedilan yang bergemintang.
Ribuan kemungkinan menyinggah di fikirnya,
Hati kecil yang remuk berbicara tanya,
“Adakah mati keluargaku hanya sia-sia?
Tetapku ku redha bertaut pasrah padaNya.
Akanku terusan menjerit berani,
Mencari cebisan empati erti kemanusiaan dan insani.”

Tiada Ku Daya, hanya Mampu Ku Coret

Aku di sini tak berdaya
Hanya tegukan demi tegukan
Yang hancurkan seluruh titis keringatku
Kala mentari menemani bumi
Bahteraku tak pasti
Sulaman mu tercabik-cabik mawar berduri
Semuanya jatuh di pangkuan bumi
Lalu mengalir tak punya arah
Aku tak perlu bergoyang goyah
Sebab bumi ku sendiri bergoncang
Dalam kehausan ku reguk air keimanan
Tak ku tahu erti kehilangan
Dalam goncangan yang menggoyang
Aku hilang bersama jiwa dan raga malang

Mampukah aku mengabadikan semua?
Kala aku terbaring
Mata ku memejam, penuh terlihat
Semua yang pernah ada
Matamu, senyummu, semua ada
Jemari ku berontak ingin mencoret
Semua yang ada di hati
Cerita ku di ambang subuh
Penuh gejolak
Tapi ia juga hilang bersama embun yang naik ke syurga
Apakah hidup ini?
Ku tawakan tatkala sedu membuku kalbu
Apakah hanya corat-coret tak bermakna?
Atau hanya makna hakikat sebenarnya
Yang tak terbaca
Hidup itu tak pernah berkata
Tapi ramai manusia yang berbicara
Aku terpaksa pasrah nampaknya ..... .... ....

 

Puisi dan Manusia

Mengapa aku jadi penyair?
Kerana puisi itu gambaran intelek manusia
Kerana puisi adalah hasil industri manusia
Kerana puisi digubal oleh kemahiran manusia

Buat siapa?
Buat manusia juga
Yang sepatutnya ditegur dengan metafora pedas
Yang inginkan kebebasan dari hidup terkandas

Puisi itu seharusnya indah
Bukan setakat permainan kekata
Bukan digunakan untuk memperdaya
Mengawang di minda melukis nan nyata
Hingga kini menjadi perantaraan kisah cinta

Penyair asli hatinya terbuka
Penyair tulen cinta akan masyarakatnya
Tidak mengharap balasan harta dan nama
Ku kesali penyair yang berdusta

Puisiku untuk mendidik
Kadang-kala abstrak, kadang-kala unik
Namun aku bukan penyair fanatik
Aku masih kenal erti cantik
Aku tahu maksud praktik
Aku akur pentingnya kualiti intrinsik

Puisi adalah kepunyaan manusia
Yang tua, muda, adam dan hawa
Penyair dengan puisinya
Puisi dengan manusianya
Makhluk kerdil ciptaanNya
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak ia ingin tinggal sebentar
Hery Sudiyono

cerpen Firdaus
Tobi Damaris

ceritanet
©listonpsiregar2000