ceritanet  edisi 125 senin 13 november 2006,  po box 49 jkppj 10210

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

ceritanet
©listonpsiregar2000

memoar Pengakuan Jenderal Monon; Demi Bintang
Ahmad Taufik
"Demi Tuhan, saya tidak pernah merencanakan atau merekayasa musibah itu untuk kepentingan naik pangkat atau jabatan,’’katanya menitikan air mata. Badannya yang tegap seolah luluh oleh air mata yang mengalir dari kelopak yang biasa membelalak. Tangisnya tak bisa berhenti. Namun kulit mulus bagai maneqin dan wajahnya yang seperti bayi, tak bisa menyembunyikan kekejaman kepada kawan-kawanku." Monon bersimpuh di depan kakiku. Sambil mulutnya nyerocos bicara tentang dirinya.
baca

cerpen Fatima
Limantina Sihaloho

Malam itu, awal Oktober 2005, aku membukakan pintu. Hatiku berdebar-debar. Kusambut rombongan Bang Kabel dengan senyum gemetar yang berusaha kusembunyikan. Ia rupanya hanya datang bertiga. Aku sudah kenal dengan kedua lelaki yang menemaninya, Brem dan Deniel. Tidak dengan Ibunya. Aku sedikit kecewa sebab aku lebih suka kalau Ibunya ikut malam itu, untuk melamarku menjadi istri Bang Kabel kepada kedua orang tuaku.“Silahkan. Silahkan masuk Bang,” sambutku kepada mereka. Tidak seperti biasanya, malam itu kulihat Bang Kabel agak lain.
baca