ceritanet  edisi 125 senin 13 november 2006,  po box 49 jkppj 10210

memoar Pengakuan Jenderal Monon; Demi Bintang
Ahmad Taufik

‘’Demi Tuhan, saya tidak pernah merencanakan atau merekayasa musibah itu untuk kepentingan naik pangkat atau jabatan,’’katanya menitikan air mata. Badannya yang tegap seolah luluh oleh air mata yang mengalir dari kelopak yang biasa membelalak. Tangisnya tak bisa berhenti. Namun kulit mulus bagai maneqin dan wajahnya yang seperti bayi, tak bisa menyembunyikan kekejaman kepada kawan-kawanku.

Monon bersimpuh di depan kakiku. Sambil mulutnya nyerocos bicara tentang dirinya.

“Selama ini ada rumor-rumor, tuduhan atau kecurigaan bahwa saya melakukan rekayasa atau rencana terselubung untuk membikin kasus itu berdarah-darah. Sama sekali tidak benar dan saya tidak akan membela diri,’’katanya sesungggukan seolah memohon ampun padaku.

Aku hanya diam saja, tapi Jendral Monon tak mau berhenti.

“Saya tidak  tahu dan tidak mengerti rencana besar apa sebenarnya dari  pemerintah pusat dibalik kasus Gerakan Pengacau Keamanan WarSuwar, kalau memang benar-benar ada. Pada waktu itu, saya baru kembali dari pendidikan di sekolah komando tentara dan baru beberapa hari tiba di Venus."

Dan mungkin karena aku diam, dia seperti mendapat persetujuan untuk nyerocos rinci..

"Sebagai komandan resort militer Venus Hitam, saya terkejut mendengar laporan anak buah saya bahwa mendiang Kapten Asutenan, Komandan Divisi, tahu-tahu sudah disandera kelompok WarSuwar. Sebagai komandan, jelas saya ingin membebaskan Asutenan dari penyanderaan. Hanya itu yang pertama-tama ada di benak saya. Sebagai  perwira yang sudah dilatih sebagai pasukan komando, hati dan jiwa saya tergerak untuk secepatnya membebaskan Asutenan, anak buah saya, karena bagaimanapun ia harus diselamatkan. Keluarganya, teman-teman maupun handai taulannya sudah menanyakan bagaimana keadaannya dan menanti-nantikan. Yang pertama-tama ingin saya lakukan setibanya di perkampungan WarSuwar adalah dialog  dengan pimpinan kelompok WarSuwar dan anggotanya. Tidak ada niat menyerbu secara militer."

"Kalau ada pemberitaan pers yang mengatakan bahwa saya membawa dua batalyon pasukan, itu tidak benar,. Yang jelas saya membawa anak buah menuju perkampungan WarSuwar. Tetapi waktu menerima laporan tersebut saya tidak diberikan peta lokasi daerah tersebut. Sesampai di Kelurahan Hitam, Corecor, saya mampir ke rumah Pak Lurah, saya melihat sudah banyak kerumunan rakyat. Mereka berniat menyerbu  perkampungan WarSuwar itu karena rupanya ada anggota masyarakat di kelurahan itu, yang baru pulang dari apotik, yang dibunuh oleh anak buah WarSuwar. Situasi sangat  tegang dan panas, masyarakat setempat seperti sudah tidak sabar lagi untuk menyerbut perkampungan WarSuwar. Karena selama ini tidak ada komunikasi yang baik antara para pendatang di perkampungan WarSuwar dengan penduduk asli setempat. Tidak ada akulturasi yang sehat. Yang terjadi adalah eksklusifisme anak buah WarSuwar dan rencana pengajian serta pengembangan pesantrennya masih baru dan belum dikenal luas."

Aku seperti melihat kembali insiden WarSuwar yang dia paparkan, tapi aku punya kamera lain. Cerita kawan-kawanku yang selamat dari keganasan pasukannya tak kalah rinci, bahkan lengkap dengan bukti-bukti nyata. Tapi aku meneruskan diam, menatap tajam matanya. Tapi dia malah semakin yakin dengan pengakuannya.

"Kalau melihat orang-orang yang menjadi anak buah WarSuwar, jelas mereka tipe orang-orang desa dan  agraris yang sederhana dan sahaja, tidak berpendidikan cukup sehingga mudah terhasut. Sehingga saya tidak punya maksud sama sekali untuk membunuh atau menghabisi mereka, karena mereka adalah warga masyarakat yang harus kita ajak dialog untuk menyelesaikan 'ketegangan dan penyanderaan.' Asutenan itu. Saya datang ke perkampungan WarSuwar tidak bermaksud untuk menyerbu. Tapi tahu-tahu saya mendapat informasi bahwa Asutenan sudah dibunuh oleh penyandera dan  pistolnya diambil. Pada waktu itu, kerumunan rakyat makin besar mendekati perkampungan WarSuwar dan berteriak-teriak serbu."

Aku pertajam mataku menatap ke ujung dalam matanya. Aku lihat matanya berkedip cepat beberapa kali, sebelum kembali kosong, penuh percaya diri.

"Saya tidak ingin warga setempat ikut menyerbu dan menyerang, tapi dalam situasi kemelut dan kaotik itu, siapa yang bisa mengendalikan atau mengusir warga untuk menjauhi tempat itu? Situasinya benar-benar kisruh, panik, tegang dan rusuh. Dalam situasi macam itu, yang pertama saya pikirkan adalah bagaimana menyelamatkan ibu-ibu, wanita, dan anak-anak agar tidak jadi korban dalam bentrokan fisik antara aparat dan kelompok WarSuwar tersebut. Namun serangan warga masyarakat dan pasukan ke perkampungan WarSuwar itu berjalan cepat. Ketika kami  menyiapkan pasukan untuk bertindak, tiba-tiba warga sudah menyerang dan membakari perkampungan WarSuwar. Rupanya kemarahan warga setempat itu dipicu oleh perbuatan anak buah WarSuwar yang membunuh seorang penduduk asli yang baru pulang dari apotik. Dan cerita itu berkembang di kalangan warga asli, yang curiga terhadap para pendatang yang belum mereka kenal. Sehingga dengan pembunuhan seorang warga asli setempat itu, sikap curiga dari penduduk asli pada pendatang kian meninggi."

Kutarik dalam nafasku, mataku tetap terpaku ke pusat matanya. Aku berpikir, orang seperti apa yang sebenarnya yang sedang kuhadapi ini.

"Ini sungguh kecelakaan, musibah sosio-politik yang amat menyedihkan. Sebenarnya musibah ini tidak perlu terjadi jika aparat intelijen cepat memberi tahukan saya mengenai kelompok WarSuwar. Data dan informasi intelijen kita amat lemah. Sehingga tidak bisa memberikan masukan yang jernih, tepat dan arif dalam mengatasi persoalan kemasyarakatan dan keamanan."

Matanya coklat gelap. Aku perhatikan tak lapisan bening di matanya; seperti memakai lapisan contact lens berwarna coklat gelap.

"Sesudah prosesi penyelesaian penyanderaan dalam Peristiwa Venus itu dan mengambil jenasah Asutenan,  tidak lama kemudian saya didatangi Komandan Satgas Intel Brigadir Jenderal Podobae. Saya bersitegang dengannya. Saya bilang pada Podobae, kenapa saya tidak diberi secara dini, saya tidak ngerti persoalan Venus ini. Saya tidak tahu apa hubungannya dengan usroh-usroh, apa itu, saya nggak tahu sama sekali. Coba kalau saya diberitahu lebih dulu, ini kan persoalan gampang untuk menyelesaikan, tinggal mencari kaitan kelompok WarSuwar dengan siapa, siapa tokoh agama yang disegani kelompok WarSuwar, dan apa yang ingin mereka lakukan, semua itu kan bisa dilacak, dicari sebab-sebabnya dan bisa diselesaikan dengan musyawarah, sehingga tidak perlu terjadi musibah kemanusiaan ini. Saya benar-benar bersitegang dengan Komandan Satgas Intel itu, cara kerjanya tidak akurat dan akan dianggap konspiratif, model intel Melayu."

"Saya memang mendapat ucapan selamat dari Brigjen Podobae pada waktu itu, karena telah dianggap berhasil menyelesaikan 'GPK WarSuwar.' Saya tidak merasa senang dan terhormat, bahkan tidak mengerti, dengan ucapan selamat itu, sebab saya tahu ada kelemahan operasi intelijen. Saya melihat kelemahan 'intel melayu' sangat parah, tidak menguasai antropoli, sosiologi, dan sejarah masyarakat kita sehingga operasi intelijen kita menjadi mudah salah, bias, gebyah uyah, mengandalkan pendekatan konspiratif dan tidak akurat secara keseluruhan. Penggunaan cara-cara lama yang mengandalkan tekanan fisik, mental dan kekerasan,  sudah tidak memenuhi syarat bagi penyelesaian masalah. Bagaimanapun Kelompok WarSuwar kan warga negara, umat beragama yang harus kita dekati dengan cara kultural dan religius. Namun pendekatan keamanan intelijen kita terlalu berlebihan. Maka saya katakan, saya tidak gembira dan tidak mengerti mengapa saya mesti diberi selamat oleh Brigjen Podobae itu."

Aku membayangkan menjadi orang yang baru pertama kali mendengar tentang dia, yang kemudian akan langsung berdiri, menyalamnya, memberi simpati. Tapi aku sudah mendengar sepak terjang orang ini sejak 10 tahun lalu, jadi tak kulepas sorot mataku.

"Terus terang saya melihat ada sesuatu yang aneh atau janggal dalam kasus Kelompok WarSuwar itu. Kenapa? Karena orang-orang yang mengaku sebagai anak buah WarSuwar itu merupakan orang-orang lemah dan sederhana serta memerlukan bimbingan keagamaan. Tapi kenapa mereka bisa berubah menjadi radikal, berani, frontal dan melawan serta curiga terhadap aparat negara? Kita harus melihat dengan teliti, cermat, dan jernih. Nampaknya, mereka merupakan umat yang merasa tertindas, tidak punya harapan dan berupaya membangun solidaritas, kebersamaan dengan cara tertutup.

Kulonggarkan tatap mataku sebentar, lelah. Aku merasa seperti sedang mendengarkan kanpanye politik menjelang pemilihan Presiden. Tiba-tiba muncul bayangan Jenderal Monon menjadi presiden. 'Sialan, lengah sebentar, dia sudah mau langsung jadi presiden," pikirku dan langsung aku asah kembali sorot mataku. Lebih tajam dari yang tadi.

"Kemudian ada aktivis-aktivis muda reliji berusia dua puluh tahunan seperti  Maodar, Kerak Telor dan Mastik. Tiga aktivis reliji yang muda-muda ini saya kira merupakan kekuatan utama penggerak, baik secara langsung atau tidak langsung, by design atau tidak, dalam hubungannya dengan kelompok WarSuwar. Dengan doktrin, seruan relijius atau penggunaan ayat-ayat suci, jelas akan bisa mempengaruhi orang-orang WarSuwar untuk melawan. Adanya konsep ngalih dari Kerak Telor dan kawan-kawan, dan ajaran agama terompah seperti agama sempalan, merupakan variabel-variabel yang berpengaruh dalam gerakan WarSuwar itu. Modal aktivisme agama radikal seperti yang ditanamkan anak-anak muda itu, Kerak Telor, Maodar, dan Mastik yang memiliki dampak serius di kalangan masyarakat yang kurang berpendidikan, awam dan secara ekonomi di pinggiran. Kesulitan hidup, tekanan ekonomi-sosial, tiadanya akulturasi di tingkat lokal, tidak adanya komunikasi antar warga, diskomunikasi massa dan aparat negara dan otoriterisme politik di level nasional, saling tali-temali dengan masyarakat 'ertutup, eksklusif, protektif dan agraris' semacam kelompok WarSuwar ini."

'Kurang ajar,' pikirku dalam hati. Tukang bunuh orang kok bisa-bisanya merasa serba tahu banyak hal.

"Saya tidak percaya orang-orang yang sederhana dan kurang berpendidikan itu mau jadi pengacau keamanan atau bahkan membikin revolusi. Mereka, saya rasa hanya ingin hidup dan mengembangkan agama dengan cara sendiri, yang mungkin menjadi pertanyaan bagi warga kampung tetangga. Apalagi ada kesan esklusifisme itu. Pada waktu itu, saya melihat ada gejala yang irasional dan sukar dimengerti antara peristiwa Corecor dan sikap dan respon pemerintah pusat terhadap peristiwa itu sendiri."

"Yang mengherankan lagi, siapa yang menyuruh mereka membikin anak-anak panah dan bom molotov. Lalu untuk apa itu dibuat dan hendak melawan siapa? Menurut anggota WarSuwar, mereka tidak tahu kenapa harus membuat anak panah dan bom molotov, untuk apa semua itu dan mau berperang terhadap siapa? Jelas ada mis-informasi atau dis-informasi atau bahkan rekayasa halus dari intel Melayu melalui 'orang-orang binaannya' untuk membikin kekacauan di kawasan Kelompok WarSuwar, membuat semacam proyek keamanan bagi aparat negara agar anggaran intelijen terus meningkat. Akibatnya ada kesan proyek negara dan rekayasa aparat untuk menciptakan kerusuhan dan ketidakamanan ini, kesan ini sangat kuat di kalangan masyarakat akademis yang meneliti insiden Venus berdarah."

Sejak masih mahasiswa, aku dan kawan-kawan pergerakan pro-demokrasi s udah sering membicarakan kekejamannya, dan begitu aku jadi wartawan, apa yang dulu kami bicarakan dulu itu mulai berkristal menjadi bukti-bukti yang lebih nyata. Sekarang dia berada di depanku, menarik simpati, mencoba menghancurkan bola-bola krsital itu.

"Saya sungguh tidak ngerti kenapa kasus Venus ini dikait-kaitan dengan Peristiwa Koprok dan orang-orang di Sima yang tidak tahu-menahu dengan  musibah Venus. Saya terkejut mendengar orang-orang Sima dan Koprok ada yang diintegrogasi aparat keamanan, bahkan ditahan karena dihubung-hubungkan dengan kasus Venus."

"Saya sungguh tidak ingin membela diri dan  tidak butuh dibela atau diperjuangkan oleh siapapun. Tapi saya ingin kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan ditegakkan. Dan jangan sampai orang-orang di Sima maupun Koprok yang tidak tahu apa-apa itu justru dijebloskan ke dalam tahanan hanya karena ada suatu pendekatan konspirasi dari elemen-elemen negara. Bagaimana pun pendekatan konspiratif itu sangat menyesatkan dan menimbulkan banyak korban yang tak berdosa."

Aku diam saja. Tangisnya hanyalah tangis buaya. Aku tak hanya punya satu kamera, dan aku tahu kepada anak buahnya, dia suatu kali sesumbar.

"Saya hanya mengejar bintang. Kini bintang sudah di tangan bahkan lebih bersinar lagi. Saya belum puas, saya mau mencari korban lagi. Kapak perang sudah aku kobarkan dengan peledakan di mana-mana. Semua musuhku sudah kutangkapi. Bahkan ada yang kuracuni saat mau ke luar negeri. Aku tinggal selangkah lagi, menuju tempat yang pasti. Aku perlu dukungan sang Adi Kuasa Bumi.”

Mungkin dia tahu juga, aku mendenagar ambisinya. Tapi mau apa lagi, memang itulah dia. Ttaubatnya, pada saat terdesak, hanya sampai di ujung bibir. Jenderal Monon senang karena sudah bisa mengendarai banteng merah. Ia siap menerjang semua musuhnya.
***

cat. nama dan tempat disamarkan, namun meupakan kisah nyata

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

cerpen Fatima
Limantina Sihaloho

ceritanet
©listonpsiregar2000