ceritanet  edisi 124 minggu 23 oktober 2006,  po box 49 jkppj 10210

memoar Sedihnya Bulan Puasa Berakhir
Ningrum Sirait

Kurasa aku bukanlah termasuk orang bertipe melankolis. Tapi aku selalu mudah terharu dan hatiku kerap mencair setiap kali orang menjadi baik hati dan manis budi pekertinya. Dalam pengamatan perasaanku, keadaan seperti ini selalu kutemukan khususnya saat bulan puasa. Entahlah, walaupun aku Kristen, tetapi kenapa bulan puasa atau bulan ramadhan ini selalu kurasakan berbeda dengan bulan-bulan yang lain, entah itu bulan ulang tahunku sekalipun?

Orang-orang terasa lebih religius, lebih baik hati, lebih pengasih dan bahkan jauh lebih sabar. Hal ini sering kuperhatikan dalam konteks kecil, misalnya banyak yang lebih sabar dan mau menunggu lampu hijau di persimpangan jalan daripada menerobos lampu merah yang sekarang seolah sudah menjadi hukum kebiasaan. Dan ada jualan buka puasa dadakan yang ada disepanjang jalan --yang sering lebih membuat jalanan lebih macet-- justru sepi karena setiap orang bergegas pulang mau berbuka puasa di rumah masing-masing.

Sementara di sepanjang jalan yang menyusuri pinggiran di Kampus USU Medan. banyak mahasiswa menjadi tukang jualan amatir dadakan yang menghadang ditengah jalan mencoba merayu agar minuman es sekotengnya dibeli. Tapi tidak terdengar sumpah serapah atau klakson tidak sabaran ,bahkan dari angkot sekalipun. Jangankan di jalan, di tempat kerja, di kantor, di Mal, pokoknya dimanapun kita berada seolah ada aturan yang diaminkan semua mahluk, bahwa menghormati orang berpuasa itu wajib hukumnya.

Dan hukum tak tertulis itu artinya, lebih sabarlah kamu, lebih baiklah hatimu, lebih pemaaflah kamu, lebih bersihlah pikiranmu dan lebih relijiuslah kamu. Ini adalah berbagai contoh keajaiban bulan puasa yang kunikmati, ketika sifat manusia ternyata bisa berubah menjadi lebih baik dalam bulan penuh rahmat ini.

Kenikmatan lain lagi ketika bulan puasa adalah buka puasa bersama. Terkadang aku kasihan juga melihat kawanku yang hanya bisa menikmati buka puasa bersama keluarga hanya beberapa hari dalam sebulan bulan puasa. Bukan hanya faktor malas pulang ke rumah karena takut macet, tetapi lebih berat karena membayangkan buka puasa bersama kawan-kawan terasa lebih nikmat dan suasanya lebih rame.

Menu buka puasanya juga bervariasi tergantung dari ketua panitia buka puasa yang menerima permintaan khusus orang yang berpuasa. Suasana bisa menjadi hiruk pikuk karena sesudah buka puasa dengan starter makanan ringan dan manis, setiap orang bergegas mengambil wudhu dan mencari tempat untuk sholat magrib. Ada juga yang langsung curi start dan memulai makan berat tidak menunggu yang lain selesai. Aku yang tidak sholat bertugas sering sebagai pengawas lapangan dan langsung berteriak mengingatkan untuk menunggu kawan-kawan yang lain.

Makan berat artinya menu utama yang terdiri dari nasi beserta lauk pauk. Hebatnya menu utamanya kadang-kadang hanya ada dijual selama bulan puasa, misalnya pakat --makanan khas Tapanuli Selatan berupa batang pohon rotan muda yang terasa pahit dan dimakan dengan sambal khas. Ketika bulan puasa jangan tanya apakah menunya ala apa, yang penting setiap orang punya permintaan khusus yang dianggap mewakili selera peserta umat yang diundang buka puasa.

Makanan pembuka puasa selalu disajikan makanan yang rasanya manis, entah itu bubur sumsum, kue-kue, buah-buahan dan air buah ketimun yang segar. Tetapi kuperhatikan selalu ada dua jenis dalam menu wajib yaitu kurma dan teh manis. Jangan tanya kurmanya impor atau tidak, atau kenapa orang harus minum teh manis dulu baru minum air buah? Hal seperti ini sudah menjadi hukum kebiasaan acara buka puasa. Belum lagi peraturan bahwa gelas minum masing-masing harus dijaga pemiliknya karena akan berlanjut penggunaannya ketika makan menu utama sesudah sholat magrib. Tidak jarang terdapat kesalahan tehnis ketika gelas minuman digunakan oleh peserta buka puasa lain yang memang tidak menyimak atau tidak perduli pada aturan main.

Sering juga keadaan ini diikuti dengan alpanya kawan-kawan melanjutkan dengan taraweh bersama.Kuperhatikan, alasannya cukup klise; 'nanti taraweh bisa di rumah sendiri karena kan sifatnya sunnah.' Yang sering malah sebatang rokok dan diikuti dengan makan langsung kelas berat sehingga membuat kawan-kawan menjadi enggan beranjak meninggalkan posisi yang sudah sangat nyaman ketika berbuka puasa.

Biasanya suasana yang sudah mencair memberikan energi baru untuk mengobrol topik yang tidak akan kami singgung ketika masih puasa, ha....Ketika sudah banyak HP yang berdering dan mengingatkan, meminta, bahkan akhirnya memerintahkan kawan-kawan yang sudah berkeluarga untuk segera pulang, percakapanpun akhirnya kami hentikan. Tapi selalu kuperhatikan ada topik standar penutup, yaitu besok kita buka puasa dimana dan menunya mau makan apa?

Detik-detik terakhir sebelum bubar, maka ketua panita pembersihan akan mengeluarkan plastik kresek bersih dan bersiap mengabsen siapa yang berminat membawa pulang sisa makanan yang masih ada. Peserta buka puasa yang statusnya anak kost akan segera bergegas membungkus karena makanan ini akan menjadi amunisi saat sahur. Terasa betul bahwa silaturahmi terasa lebih nikmat sesudah berpuasa seharian menahan lapar, minum dan hawa nafsu.

Dalam perjalanan pulang sering aku memperlambat mobilku menyaksikan iring-iringan orang pulang sholat teraweh di mesjid dekat rumah. Ada perasaan tenang karena aku lebih yakin semakin banyak orang beribadah maka kehidupan manusia akan semakin baik. Iringan orang ramai yang menggunakan mukenah di jalanan memberi gambaran religius dan menandakan bahwa bulan ini memang berbeda dari bulan yang lain. Mulai dari orang tua, anak muda bahkan anak-anak semuanya seperti menuju suatu tujuan yang sama, bahwa selama bulan yang suci ini maka ini saatnya manusia berupaya berbuat kebaikan, kebajikan, dan beribadah sebanyak-banyaknya karena memang bulan

Ramadhan ini adalah bulan yang berbeda dari bulan yang lain dalam satu tahun.

Sekarang tidak ada lagi acara buka puasa bersama. Bahkan pada minggu terakhir puasa, acara buka puasa lebih sering dilakukan di mal atau di rumah masing-masing karena umumnya kawan-kawan buka puasa bersama tadi sudah belanja lebaran sebelum buka. Entah kenapa hatiku terasa galau dan bertanya, apakah kebaikan, kesabaran hati manusia masih bisa kutemukan dalam sebelas bulan yang terhampar didepanku sampai bulan puasa tahun mendatang?

Suasana ketika bulan puasa berlangsung menjadi saat-saat yang khas dan berkesan dalam hidupku. Walau aku sadar bahwa sesudah bulan puasa maka lebaran akan memberikan kenikmakatan yang lain lagi ketika kita bermaaf-maafan, bersilaturahmi dan makanan khas seperti lontong sayur, rendang, tape, kolang-kaling sudah menunggu. Lebaran memang menjadi episode yang lain karena selama seminggu kita akan berhadapan dengan ketahanan bersilaturahmi, menu makanan standar yang hampir sama dimanapun, dan juga keluhan klasik tentang pembantu pulang kampung. Tetapi sejujurnya terasa ada sesuatu yang hilang karena bulan puasa --bulan yang nikmat dan berkesan -- sudah berakhir.

Ketika sifat manusia menjadi lebih baik, ketika toleransi menjadi lebih tinggi, ketika hati kita menjadi lebih peka dan semua yang baik itu, entah kenapa selalu kupastikan kutemukan di bulan Ramadhan.

Dan sekarang aku hanya bisa berharap semoga setiap hari dapat menjadi Bulan Ramadhan bagi siapun dan aku yakin banyak orang yang setuju dengan harapan itu.
***
Oktober 2006

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak
Sandal Jepit Kuning
Mia Singgih

memoar Jogging atau Tidak Langsing
Presiden Hayat

ceritanet
©listonpsiregar2000