ceritanet  edisi 124 minggu 29 oktober 2006,  po box 49 jkppj 10210

sajak Sandal Jepit Kuning
Mia Singgih

Langkah gamang di jalan setapak
Beralas sandal jepit berwarna kuning
Kerikil tajam menusuk telapak kakiku
Terasa menembus perih dan tajam
Aku berjalan terus
Hingga perih itu
Berganti jadi kenikmatan

Langkah gamang di jalan setapak
Sambil mengusap keringat di kening
Kaos putih basah melekat di tubuhku
Butiran peluh panas menghunjam
Aku berjalan terus
Hingga panas itu
Berganti jadi kesejukan

Langkah gamang di jalan setapak
Teguranmu tak membuatku berpaling
Lumpur hitam mengotori celana denimku
Bahkan kemuraman jiwaku ikut terbenam
Aku berjalan terus
Hingga muram itu
Berganti jadi senyuman

Langkah gamang di jalan setapak
Sandal jepit masih bersisa warna kuning
Kaos putih lusuh menempel di badanku
Celana denim semakin kotor dan kusam
Aku berjalan terus
Hingga jejakku
Mengganti segala kepalsuan

Hanya

Jari-jemari malam menjamah bumi
Sosok bayang-bayang mencium hangat
Tanah berselimut rumput dan angin
Berkilau bermandikan cahaya bulan

Tak ada siapa-siapa
Hanya malam, bulan dan bumi

Ajaklah aku menari dalam mimpi
Meliuk berputar dalam pelukmu erat
Menangis bersama embun dingin
Lalu sunyi kita berpaut dalam angan

Tak ada siapa-siapa
Hanya kau, aku dan sunyi

Haus

Tetes anggur merah pelepas haus
Diteguk tak ada habisnya
Mabuk!

Memang dahaga itu yang ingin terus
Dirasakan dan dinikmatinya
Merasuk!

Kenikmatan sesaat dilahap rakus
Membiarkan sorot mata
Mengutuk!

Detak jantung menggebu sederas arus
Tak henti mendera
Mengamuk!

Beningnya suara hati hampir pupus
Lalu tiba-tiba kepala
Menunduk!

Suara nyanyian surga menembus
Dinding candi tua
Khusuk!

Barusan butir-butir air mata yang halus
Membasuh cekung pipinya
Sejuk!
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

memoar Sedihnya Bulan Puasa Berakhir
Ningrum Sirait

memoar Jogging atau Tidak Langsing
Presiden Hayat

ceritanet
©listonpsiregar2000