ceritanet  edisi 122 rabu 6 september 2006,  po box 49 jkppj 10210

memoar Sketsa Sekitar Saya
Ayu Hermawan

Beneran, ada banyak sketsa di sekitar saya yang sering menyisakan pertanyaan di dasar kepala belakangan ini. Ada masalah apa ya dengan dunia  sekitar kita sekarang ini? Paling tidak dalam konteks sekitar saya, lingkungan saya. Bahwa ini merefleksi ke keadaan yang lebih besar lagi, ke skala yang lebih luas lagi, mungkin saja. Tapi itu soal lain.

Sketsa pertama: Anak Muda
Dalam pekerjaan di bidang konsultan komunikasi, saya saat ini banyak berhadapan dengan anak muda. Beberapa di antara anak muda itu, datang dan kemudian segera pergi. Semacam terseleksi secara alamiah, begitulah kira-kira. Proses ulang-alik berhadapan dengan mereka dan aneka situasi yang muncul karenanya, menarik untuk diceritakan.

Pertama, mari kita tengok dari materi yang masuk dalam proses rekrutmen; terlihat dengan jelas latar belakang pendidikan mereka yang oke dengan IPK bagus. Beberapa malah di atas 3,5. Perguruan tingginya kelas wahid. Bahkan ada satu di antaranya lulus dari dua bidang kesarjanaan. Dua-duanya dari kampus negeri ternama di Jakarta. Hebat kan.

Aktivitas di kampus? Kebanyakan oke juga. Ada yang pernah menjadi panitia pekan amal, kunjungan sosial, malam pentas seni, seminar kampus, dll, dll. Apa lagi? Oh, oke, kemampuan berbahasa asing? Rata-rata mengaku bagus. Fluently-lah. Bahkan ada yang menambahkan mahir berbahasa Arab dan ada juga yang mahir berbahasa Jepang. Wow... raw-mat yang menggiurkan amat, bukan..

Oke, setelah tes beberapa tahap, diterimalah mereka. Mulailah masuk ke dunia kerja yang sesungguhnya. Alih-alih mengajarkan materi apa yang harus mereka hadapi di dunia kerja, serta bagaimana cara menghadapi klien, atau strategi lain-lain, malah saya sibuk mengurusi sikap mental mereka!

Pertama; minder atau alah Akibatnya, jadi ketinggalan atau malah  bossy tidak karuan. Kedua; materialistis. Sungguh, yang dihitung adalah kalau sebuah proyek ni sukses maka berapa bonus saya? Overconfidence! Waduh.., nanti dululah, Dek! Itu seharusnya bukan motivasi utama pada situasimu saat ini. Dan, selain sibuk menghitung bonus, kerap kali juga sibuk mengeluhkan beban kerja. Misalnya, mengeluh tidak kebagian mobil kantor sehingga harus naik bus atau taksi. Mengeluh pendapatan kurang, mengeluh sakit kepala sehingga tidak masuk kantor. Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Ketiga; dagangan di awal mencari kerja dan wawancara ternyata tidak seindah aslinya. Mulai dari masalah tingkah laku dan sikap yang mengganggu, cuek. pengetahuan umum yang tidak luas, kecenderungan bertindak instan, sampai susah sekali diajak membaca. Mulai dari membaca koran untuk menangkap realita sehari-hari, apalagi membaca buku baru yang relevan. Mau contoh lebih jauh lagi? Terlambat memenuhi janji. Meremehkan klien. Ya, pokoknya begitulah.

Suatu ketika, seseorang di antara mereka menulis surat perkenalan untuk keperluan menjaring klien. Ada typoerror: advertaising. Maksudnya: advertising. Di email, typoerror tack you. Maksudnya  thank you. Itu memang kesalahan kecil. Tapi menunjukkan sejauh mana mereka peduli untuk melakukan pekerjaan sesempurna mungkin. Dan, juga menunjukkan segitu aja pengetahuannya.

Seorang teman bercerita dalam suatu kesempatan audisi –entah yang miss-missan atau yang putri-putrian–ada  seorang peserta yang ditanya mengenai Margaret Thatcher. Tahukah siapa dia? Blank. Gelap. Diberi clue; julukannya wanita bertangan besi. Baru bisa jawab; "oh... iya, tahu, yang suka pakai baju besi itu kan."

Seorang calon putri lain ditanya, tahukah ia siapa nama menteri peranan wanita? Membisu. Diberi clue: salah seorang putri wakil presiden pertama yang juga proklamator. Diam juga. oke, ganti clue. Siapa nama wakil presiden pertama RI? Hanya angin yang berdesir.

Phiuuuhhhh...

Sketsa Kedua: Ini Korupsi Bukan, Ya?
Ada lagi kisah lain. Kali ini kisah tentang korupsi. Seorang kawan yang –-juga masih terhitung anak muda-– mengaku terpaksa melakukan korupsi karena kasihan pada para bawahannya yang megap-megap hidup akibat gaji kecil. Oh ya, mereka ini pegawai negeri. Akhirnya, ia menciptakan sebuah event imajiner; seminar. Sungguh-sungguh 100% imajinatif. Budget yang diajukan dalam proposal –-ajaib banget-- bisa keluar dengan nilai Rp 150 juta. Ada laporan kerja. Komplit. Sangat sempurna, lengkap dengan kuitansi-kuitansinya. Cuma mungkin bukti dokumentasi foto saja yang tak ada, berhubung memang tidak ada kejadian yang dapat direkam foto. Lalu uang Rp 150 juta? Bagi-bagilah. Amboi, bercerita ia kepada kawannya --yang sejauh ini masih bebas korupsi-- seraya tertawa!

Lain waktu, perusahaan saya mendapat tawaran pitching –-di dunia bisnis strategi komunikasi dan periklanan istilah ini digunakan sebagai sebutan pengganti bagi kata tender. Sering juga disebut bidding -–dari salah satu BUMN. Senangnya. Siap dong berkompetisi secara obyektif. Hanya saja semangat ini langsung pupus begitu diberi sinyal bahwa 30% dari budget adalah dana yang harus diberikan sebagai kick back! Wah,  mending kita mundur saja deh.

Sketsa Ketiga: Selingkuh
Ini bukan selingkuh perasaan. Itu belum jadi urusan saya. Mudah-mudahan tidak. Melainkan selingkuh pekerjaan. Ini baru terjadi, persis di hadapan saya. Tiba-tiba saja klien saya mengikatkan diri dengan dua orang jurnalis TV untuk pekerjaan media relations. Ya, banyak alasan dikemukakan –-mungkin satu di antaranya supaya daya sebar berita semakin luas sebagaimana dijanjikan oleh kedua rekan itu-- ketika saya mengemukakan alasan obyektif akan keberatan saya dengan terlibatnya mereka kepada klien saya. Dalam bayangan saya, sejauh mana sih endurance mereka akan cukup untuk meladeni dua kantor sekaligus. Apalagi untuk pekerjaan ini pastilah dilakukan sembunyi-sembunyi. Nanti kalau mundur di tengah jalan, pasti akan merepotkan partnernya.

Benar. Mereka mundur di tengah jalan. Dan sekarang kabarnya sedang sibuk memperjuangkan nama baiknya setelah ditegur atasannya karena ketahuan selingkuh pekerjaan. Ada hubungannya dengan saya? Ada. Paling tidak yang sampai ke saya;  kedua rekan ini menuduh saya yang membocorkan semua kepada atasan mereka. Believe it or not. Tapi paling tidak, inti masalah jadi bergeserlah, teralihkan dari mereka sebagai obyek utama kepada someone out there..

Sketsa Keempat: Masih Banyak, Sih.
Benar, masih banyak lagi. Tapi nanti akan membosankan kalau diceritakan sekaligus. Tiga saja dulu. Mudah-mudahan bisa jadi bahan renungan. Lagi pula, saya juga bukan malaikat. Akan tetapi, paling tidak saya berkenan merenung;  adakah saya telah  menjadi bagian konyol dalam sketsa-sketsa itu?
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Kutelisik Cerita Seonggok Batu
Dewa Gumay

ceritanet
©listonpsiregar2000