ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   edisi 121 jumat 25 agustus 2006,  po box 49 jkppj 10210

komentar Masyarakat Masa Depan?
Liston P. Siregar

Penerbangan Monarch Airlines dari Malaga, Spanyol, ke Manchester, Inggris, Rabu 16 Agustus  sempat tertunda 3 jam. Sebagian penumpang, turis Inggris  berkulit putih yang usai berlibur, keberatan terbang bersama dua orang berkulit sawo matang, berwajah Timur Tengah. Walau sudah melewati pemeriksaan yang seharusnya, kedua penumpang ‘non putih’ itu akhirnya dilarang terbang dan bahkan diwawacara polisi beberapa jam sebelum diijinkan masuk penerbangan berikut.

Para penumpang kulit putih di Monarch Airlines --yang tampaknya masih dibayang-bayangi teror terungkapnya ‘rencana’ peledakan pesawat dari Inggris ke Amerika Serikat— cemas. Seorang penumpang, yang diwawancara TV BBC, mengatakan semua penumpang berpakaian santai dan bercelana pendek seusai liburan musim panas. “Namun keduanya mengenakan jumper dan jaket kulit.”

Penumpang lain, seperti dikutip harian The Independent, mengatakan suasana di kabin langsung hening total ketika keduanya masuk. Dan kecurigaan meningkat ketika mereka berbicara menggunakan Bahasa Arab yang ‘mencurigakan.’ Sejumlah penumpang langsung menyatakan kepada awak kabin kalau mereka tidak mau terbang bersama keduanya, dan polisi membawa pergi keduanya dari dalam kabin.

Monarch Airlines ZB 613 mendarat dengan selamat di Manchester, 3 jam terlambat dari rencana awalnya. Kedua pria juga mendarat di Manchester, jauh lebih telat dari renana awal, juga dengan selamat –tidak ada lagi berita tentang mereka berdua, jadi keduanya sudah berbaur dengan masyarakat biasa.
***
Walau kami berempat sudah melewati gerbang x-ray dan diperiksa manual oleh para petugas sementara barang melewati lorong x-ray, seorang petugas berdarah Asia Selatan yang berkumis tebal di ujung alat x-ray meminta semua barang kami diperiksa ulang dengan lidi kecil seperti tusuk gigi yang dilekatkan ke sebuah mesin elektronik. Kami, sepasang suami istri dan 2 anak --berusia 11 dan 8 tahun-- harus tunduk pada perintahnya..

Saya menggerutu dalam Bahasa Inggris agar para petugas di Gate 41 Bandara Changi Singapura mengerti ; ’Apakah karena  kami orang Asia maka diperiksa ulang?’ Istri saya lebih keras lagi suaranya ‘Orang putih juga bisa jadi teroris.’ Tapi ibu yang mengoyang-goyangkan tusuk gigi itu ke seluruh permukan tas tangan kami sama sekali tidak perduli. Si petugas Asia Selatan tadi --yang sepertinya komandan unit di Gate 41-- berdiri membatu tak bergeming melihat para penumpang lain yang melewati pemeriksaan.

Sepanjang penglihatanku, sebelum masuk ke kabin, tak satupun penumpang lain yang harus menjalani pemeriksaan ekstra ‘tusuk gigi’ itu. Entahlah jika memang ada yang diperiksa ekstra sebelum kami tiba di ruang tunggu atau setelah kami masuk kabin. Tapi kenyataan yang ada di depan mata sekitar pukul 2300 malam pada tanggal 17 Agustus –Hari Kermedekaan ke 61 Republik Indonesia-- di Bandara Changi Singapura membuatku marah dan sekaligus sakit hati; dipilih untuk dicurigai oleh sesama kaum kulit coklat karena kami tidak berkulit putih.

Sekitar 13 jam kemudian kami tiba di Bandara Heathrow, London, dengan selamat. Untunglah ibu petugas imigrasi di Heathrow, yang juga keturunan Asia Selatan, tidak menambah prosedur ekstra bagi kami sekeluarga. Kami keluar Bandara Heathrow dengan mulus, walau marah dan sakit hatiku masih membekas.
***
Dua hal di atas bisa jadi sedikir dari banyak hal yang mencerminkan kemenangan Al-Qaeda dan pendukungnya. Selain berhasil menewaskan ribuan orang lewat aksi bom bunuh diri di berbagai belahan dunia, mereka juga berhasil menciptakan teror di dalam diri masing-masing orang.

Para penumpang kulit putih Monarch Airlines menghidupkan teror di dalam diri mereka masing-masing dan berhasil meyakinkan aparat keamanan yang mestinya mendapat --atau tidak mendapat— informasi intelijen tentang upaya meledakkan pesawat dari Malaga ke Manchester.

Dua penumpang berwajah Timur Tengah menjalani teror pemeriksaan beberapa jam, karena dianggap sebagai teroris. Padahal kerja-sama interpol mestinya dengan cepat bisa merujuk asal muasal seseorang dengan cepat dan tepat.

Petugas berdarah Asia Selatan di Singapura mungkin bekerja berdasarkan warna kulit, padahal pada sisi lain mestinya sepasang orang tua dengan 2 orang anak di bawah 16 tahun berada dalam posisi yang tidak perlu dicurigai.

Di sisi lain, saya diteror oleh dugaan perilaku diskriminasi, karena mungkin saja petugas berdarah India tadi melihat empat tas kami terlalu banyak untuk sebuah perjalanan liburan. Atau dia mungkin berpendapat kuatir putri saya yang berusia 8 tahun pastilah suka menggunting-gunting dan lupa mengeluarkan dari tasnya.

Itulah pencapaian kelompok Al-Qaeda dan pendukungnya. Dan seperti inikah masyarakat masa depan dunia?

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

esei Rantai Kekerasan di Timor Lorosae Terus Berlanjut Selma W. Hayati

cerpen Merengkuh Rembulan Sugianto Thoha

ceritanet
©listonpsiregar2000