ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   edisi 120 sabtu 10 juni 2006, po box 49 jkppj 10210

memoar Panga, Teluk Dalam, dan Pundong
Tumpal H.S.S.

Panga, adalah satu dari Kecamatan Aceh Jaya, tepat di pesisir Pantai Barat Sumatera. Sedang Teluk Dalam adalah ibukota baru dari Kabupaten Nias Selatan, dan  Pundong terletak di Kabupaten Bantul. Ketiganya adalah kawasan-kawasan yang paling menderita akibat Tsunami 26 Desember 2004, gempa 28 Maret 2008, dan gempa 27 Mei 2006. Ketiganya memiliki struktur birokrasi pemerintahan yang sama, dan --yang paling jelas—bagian dari Republik Indonesia.

Setahun lalu, persisnya 20 Juni 2005, aku mendarat di Meulaboh, menggunakan pesawat MAF, dan perjalanan masih dilanjutkan ke desa Panga dengan helicopter, juga  milik MAF. Dari udara, nyata sekali wilayah yang disapu Tsunami; berbentuk garis yang kadang kala membelok. Rata rata 3 km dari garis pantai. Helikopter mengikuti garis pantai menuju landasan heli, bekas lantai sebuah rumah. Praktis, yang kelihatan dari atas hanyalah tenda tenda putih. Kemudian reruntuhan rumah dan masjid.

Heli terbang kembali dan kami mulai bekerja; membantu petani karet yang kehilangan segalanya. Tiap orang yang ditemui, pasti punya catatan kehilangan anggota keluarga. Pak Jaffar, petani yang rumahnya berantakan menjadi tuan rumah kami. Apapun tidak ada yang permanen di desa itu. Pohon karet yang terkenal tangguhpun kering dan sejauh 5 km dari pantai, di sebuah kebun karet, kami menemukan bekas pakaian, toilet, dan mesin jahit yang diseret Tsunami dari pusat kecamatan.

Hanya ada 4 warung, satu diantaranya milik Keucik, yang kehilangan perangkat desanya. Ketika hendak meminta stempel SPJ, kami lebih dulu memesan kopi dan mie instant.  Selebihnya adalah tenda tenda putih. Tidak ada bangunan lain, kecuali tenda besar WWF, lalu barak barak Samaritan Purse, Yayasan Obor, dan UNHCR.

Malam hari, listrik dikalahkan kegelapan. Masyarakat desa hanya menghandalkan pekerjaan di proyek proyek rehabiliasi Ofxam, Samaritan, dan LSM lainnya. Sesekali truk besar melintas di jalan yang kadang kala retak dan harus melintasi jembatan darurat, atau bahkan melintasi sungai kering karena jembatan sudah dipindahkan beberapa meter dari tempat aslinya oleh Tsunami. 

Hari ketiga, kami ke Calang, ibukota kabupaten. Perjalanan setengah jam dengan menggunakan ojek bertarif 50 ribu perak itu penuh dengan pemandangan yang porak poranda. Kondisinya tidak jauh berbeda; seluruh bangunan pemerintah baru saja dibangun, termasuk kantor bupati. Namun semuanya dari kayu. Inilah ibukota  kabupaten yang paling berantakan yang pernah aku lihat. Kantor UN di tepi pantai menggunakan tenda. Aparat pemerintah tidak kelihatan. Tiap hari ada helikopter besar yang datang dan berangkat. Calang, 6 bulan setelah Tsunami seperti tidak tersentuh.

Enam bulan kemudian, tanggal 23 Januari 2006, kami ke  Meulaboh dan sekitarnya; melihat kemungkinan pengembangan perkebunan karet rakyat sebagai basis ekonomi dan ekologi. Kota sudah mulai marak, orang-orang sudah berani keluar sampai larut malam. Ini fakta nyata dari perdamaian RI GAM. Tetapi, fasilitas kota masih terbengkalai. Seorang petani yang kami wawancarai mengaku berpindah profesi menjadi pendukung pekerjaan istrinya;: menyediakan sirih khas Aceh Barat. Katanya, akses pasar kakao dan karet lumpuh, dan dia menanggapi dingin saja ketika kami informasikan harga karet yang saat itu sangat tinggi. Sangat dingin. Kondisi kebunnya jelas sangat terlantar.

 Rumah rumah masih saja menggantung: pembangunannya. Masih saja dalam bentuk rangka dasar. Mereka masih tinggal di tenda dan beberapa diantaranya menggunakan kayu bekas di bagian belakang rumah, yang bukan saja runtuh di tempatnya, tetapi sampai terseret puluhan meter. Masyarakat desa tidak bergerak banyak.

Lembaga internasional menjamur, tetapi tak ada perubahan berarti sejak Juni 2005, bahkan jauh lebih buruk dibandingkan ketika kami beberapa kali menjadikan Meulaboh sebagai basis untuk mengunjungi beberapa perkebunan sektiar sepuluh tahun lalu, tahun 1995 dan 1996. .Singkatnya, Meulaboh pun tidak mengalami perubahan yang berarti setahun setelah Ttsunami.
***

Tanggal 27 Maret 2006, rombongan kami tiba di Sibolga,  menuju Gunung Sitoli. Perjalanan terseok seok karena feri yang tersedia tidak mampu mengangkut mobil. Masalahnya salah satu feri masuk dok di Jakarta sementara arus penumpang begitu padat karena peringatan setahun gempa Nias. Truk truk berjejer menunggu jatah angkutan, berisi bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga. Usaha untuk menggunakan uang pelicin gagal. Akhirnya kami berangkat tanpa mobil operasional.

Esok harinya, kami tiba di Gunung Sitoli. Kantor Dinas Pertanian seperti baru kemarin dijarah. Tembok retak, mobil dinas ringsek, meja dan kursi masih saja berantakan. Untunglah kantor bupati menyediakan mobil. Seorang pegawai Hotel Gomo berkata; “syukur ada gempa pak, seumur umur di Gunung Sitoli baru kali ini ada jalan hot mix. Tabrakan sudah seringkali ‘Pak,” Dicermati lebih jauh, ternyata jalan hot mix paling paling 10 km. Selebihnya, hanya menjadikan perut mual dan kepala pening. Setengah wilayah Gunung Sitoli seperti baru dibom.

Di pinggiran kota beberapa rumah masih dalam merangka. Tata niaga kelapa dan karet rakyat semakin mandek karena biaya transport yang semakin membebani. Jajaran bekas toko di ibukota kabupaten itu memang sudah berdiri dan sebagian besar terbuat dari kayu. Macetnya pembangunan kembali rumah dan bangunan penting lainnya disebabkan sulitnya kayu dan mahalnya semen. Gereja HKBP sudah terbangun, meskipun masih sementara, tetapi sejumlah gereja BNKP masih dibiarkan sebagaimana ketika gempa setahun lalu. Kemahalan menjadi pengkeruh. Satu jam di warnet membayar 15 ribu perak.

Perjalanan hari berikutnya mengunjungi kecamatan Tuhemberue. Jalanan rusak berat, sempit, dan beberapa bangunan di sepanjang jalan rubuh dan masih dibiarkan. Orang-orang desa masih saja tidak berubah, paling tidak bila dibandingkan dengan kunjungan pertengahan 2004 lalu. Mereka menjawab polos menjawab pertanyaan kami. Kemiskinan menjadi sangat akrab dengan mereka, dan sepertinya Tsunami dan gempa yang mereka rasakan merupakan bagian dari nasib yang harus diterima. Normal-normal saja.

Hari berikutnya, kami ke Teluk Dalam. Jembatan putus, dan mobil melintas sungai besar yang kering. Anak anak membantu mendorong dan tanpa diberi imbalanpun, tidak apa apa. Senajta utama menarik bantuan adalah plat merah mobil dan bahasa Nias. Kondisinya tidak lebih dari Calang. Sangat parah. Runyamnya lagi, transportasi hanya menghandalkan kapal laut via Gunung Sitoli, jalan darat ke Gunung Sitoli, atau pesawat kecil yang harus mendarat di Pulau Tello. Hanya itulah akses. Ditambah lagi dengan bentukan kabupaten baru Nias Selatan, maka sosok teluk Dalam tidak lebih dari ibukota kecamatan kecil di daratan Sumatera. Sangat terasa, Teluk Dalam --dan Nias secara keseluruhan-- adalah pulau yang dipinggirkan.
***

Tanggal 27 Mei 2006, gempa di Yogyakarta. Ada kepanikan massal karena asosiasinya langsung ke Tsunami. Malamnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung datang dan mengunjungi RSUD Bantul. Mertua tetangga kost yang tertimpa robohan rumahnya segera kami pindahkan ke RSUD Ambarawa, perjalanan sekitar 1 jam  dari Yogyakarta. RSUD Bantul terpaksa merawat pasien di halaman parkir.

Sehari kemudian 28 Mei 2008 aku dan teman-teman di tempat kost berkeliling Bantul. Rumah rumah secara umum rata dengan tanah. Hampir seluruh dukuh menderita hal yang sama. Tapi akses jalan masih mulus, meskipun agak sempit, hingga ke tingkat dukuh.

Terlihat kalau seluruh rumah memang tidak memiliki tulangan di keempat sisi utamanya. Gempa itu sendiri begitu kuat dan aku merasakan seperti berada di atas satu mesin raksasa yang sedang beroperasi. Meskipun skalanya jauh lebih kecil dari Ttsunami dan gempa Nias, tetapi faktor kedekatan dengan jarak pusat gempalah yang menyebabkan getaran begitu menakutkan.

Orang orang desa hanya bengong, tetapi di jalan jalan penghubung utama, sejumlah besar orang sudah mulai berinisiatif;  dengan menggunakan kardus mie instant. Jalanan macet karena teburan plakat mohon bantuan dan kardus mie instant, mulai anak- anak hingga mbah-mbah. Lakonpun aneh-aneh, mulai buka baju, menggunakan ikat kepala, hingga makan nasi bungkus sambil tetap menyodorkan kardus di perhentian lampu lalu lintas.

Amat demonstratif dan sepertinya tiap mobil tidak boleh dilewatkan. Kami kemudian ke Parangtritis; seperti tidak pernah ada gempa. Jalanan semakin padat dan macet ketika waktu bergeser ke siang dan sore. Orang-orang berduyun-duyun sebagai wisatawan bencana. Tetapi bantuan memang begitu cepat. Sangat cepat. Mungkin akses jalan raya yang membantu percepatan itu, dan tentu juga kedekatan lokasi dengan ibukota di sebuah negara yang sangat sentralistis.
 
Hari-hari berikutnya, aku mencermati bantuan yang terus membludak dan tingginya semangat untuk menyediakan nasi bungkus, selimut, bahkan odol, dan sendal jepit. Gempa menjadikan arus barang pindah begitu cepat ke kawasan pedesaan, tanpa transaksi ekonomi. Penduduk desapun menjadi manja dan semakin manja. Listrik begitu ngotot untuk dipinta, juga pinta lainnya; susu untuk balita, makanan siap saji, tenda, bahkan peralatan mandi.

Permintaan-permintaan via Radio Sonora pun begitu serunya. Bahkan ada yang minta agar sumbangan makanan siap saji tidak hanya mie instant karena mulai muncul  laporan sakit perut dan gatal-gatal. Maklumlah, desa di Jawa tampaknya sudah sangat akrab dengan telepon tangan, sementara  di Panga dan Tuhemberue kepala desanya saja masih heran melihat telepon tangan jenis Siemen A35 milikku.

Di siang hari, penduduk korban bencana seperti memainkan peran sebagai penodong, tanpa mengerjakan apapun. Hebatnya lagi, muncul telepon dari Sleman –yang lebih menempel ke Merapi—bahwa tanggal 4 Juni 2006 akan datang 4 truk berisi orang- orang yang siap gotong royong membantu membersihkan desa dari bangunan yang runtuh. Bukan main solidaritas ini. Belum lagi kedatangan perantau Bantul dari Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan Lampung yang notabene sudah sukses.

Terkesan kuat kalau momentumnya aamt tepat untuk meminta dengan legal. Peminta-minta memang mulai bertebaran. Yang tidak kalah serunya, ada program institusi lembaga pendidikan pertanian yang katanya mau mengubah strategi pertanian di kawasan Bantul. Ini pasal yang bukan main, beratus tahun mereka menjadi petani padi, dan sawahpun tidak mengalami kerusakan. Beratus hektar sawah yang kucermati berumur 3 bulanan dengan daun yang hijau tua --itu pertanda subur dan baik pertumbuhannya.

Pokoknya, gempa yang meninggalkan korban di Bantul, Wedi (Klaten) dan Gunung Kidul adalah fenomena yang begitu cepat bantuannya, walaupun begitu banyaknya permintaan warga desa, dan begitu baiknya solidaritas kita. Untuk hal ini, salut.

Aku yakin, berantakannya wilayah Yogyakarta dan Jateng akibat gempa akan dirapihkan dalam waktu singkat. Akan jauh lebih singkat dari mengembalikan kondisi awal Panga dan Teluk Dalam. Aku sangat yakin!
***

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Blues Guevara
Gatot Arifianto

ceritanet
©listonpsiregar2000