ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   edisi 120 sabtu 10 juni 2006,  po box 49 jkppj 10210

sajak Blues Guevara
: Ayi Antoko Ratri
Gatot Arifianto

Lintang lintang di malam Papua
Meneteskan liur binarung jakun lift-eskalator
atau lengan bermain barbel natkala vibrasi kafahmu
tektonik mengabarkan garis pedang kalifah lewat keberangkatan kereta
sungguh adalah niscaya
Selain ghaib khilaf pun tolol cemeti
derap dan derap biadabku dari kemarau ke hujan

Gedunggedung gendut rencana
jahil tengil sehingga munafik maha tengik yang menyempurnakan bacin

urine selusin lorong
Asyiknya ramerame invansi tanah tua dan papa kita untuk Cordoba
atau mungkin Karbala

Penawaran kota silih berganti
Cemas, pening, dan genting geliat laknat buldoser
menggusur damai kaki lima yang mini
: Impian, ajari ruhku mematahkan jarum jam untukNya!
Hanya dan hanya terjaga Wibisana
Tak ayal, pada bayang mata Simamu yang menjanjikan Babilonia Harun Al Rasyid
kutabuh khianat sekaligus munajat dengan melankoli polifonik
sebelum kaki menginjak Senin yang dingin
Jalaran luka dan luka tak pernah mempu menjelma headline kematian presiden
***
Nusantara 2005

Ilusivaganza
: Cahya Wulandari
 
Seperti petani menikahi bumi dengan hati penuh
hujan begitu ampuh
Tak bisa kutafsirkan dingin di beranda selain guano bagi melankoli
yang dibajak waktu, janji dan janji
Sebab tak hanya puisi atau Mata Indah Bola Ping Pong Iwan Fals yang amblas
Resital serangga yang semula vaksin kecut solitude
mrucrut bagai clurut clurut pengecut
Untung masih ada, Cahya
Serangan udara pada parafin di meja kayu
mengekas jihad anak-anak bangsa yang enggan dipanggang penjajah
Maka bersama kepasrahan Yusuf Alaihi Salam
kuamini anganangan remaja terjungkal di Kramat Raya 106
: Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku
disanalah, aku berdiri, jadi pandu ibuku

Indonesia, kebangsaanku, bangsa dan tanah airku1
Wulandari! Malam yang melipat bulan dalam gerimis
adalah masa muda yang sial!
Kota berjalan, pedati, poci serta dongeng sebelum tidur tertatih tua
Kau dengar laju globalisasi, riak whisky sehingga blue CD?
Angin melepas Die Hard sehingga roma ereksi ramerame
Matahari, dapur terjaga, lagu aves pun rumput jauh dari tanda
mengupas jenuh sarat keluh kesah jaman
Abraos olhos2? Mulat sarira tansah eling klawan waspada3!
Tak ada pasal binasa dengan diam semacam arca!
Menggondol kesalahan Adam
sukma burung hantu selusur 24 februari kendati gelap begitu batu!
Ada ilusi di temaram bohlam gipsy:
Tangis pertamamu laksana Hawa menggumamkan liturgi khuldi
“Neraka ialah rasa kenyang kanakkanak
pada 99 Tuhan yang tahan basi!
Sudah jelas kita dikepung lecit dan sangar
kenapa malas melempar diri ke negri anyar?”
Ya, sebelum pesta, dansa dan khilaf terjadi
betapa niscaya mencuri mimpi dan imajinasi
dengan kinanthi yang puisi!
***
Nusantara 2003-2005

Catatan Kaki Puisi Ilusivaganza
1. Fragmen lagu Indonesia raya
2. Pasang mata baikbaik
3. Hati-hati selalu ingat dan wasp
ada

Melosa Sunyi

Dari sebuah tempat bernama sunyi
kau muncul mengabarkan keharuman sejati
Aku terjerat vanili nafasmu
mengembarakan doa putih di ketinggian zenit malam
Wajahmu pelangi berpendaran diterpa bulan tembaga
memecah ranting kealpaan batu jiwaku
Kau, bunga yang membunuh sebuah rasa dalam hidupku: lonely!
***
Nusantara 2000

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

memoar Panga, Teluk Dalam, dan Pundong
Tumpal H.S.S.

ceritanet
©listonpsiregar2000