sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 11, Kamis 3 Mei 2001

    

       ceritanet
                                    situs nir-laba untuk berbagi karya tulis

novel Dokter Zhivago 11
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Pada musim panas timbul kegelisahan antara para pekerja dinas kereta api di jaringan Moskow. Orang-orang dari trayek Moskow-Kazan mogok dan rekan-rekan dari trayek Moskow-Brest diharapkan ikut serta. Putusan untuk mogok sudah diambil, tapi panitia pemogokan masih berselisih tentang tanggalnya. Tiap orang jawatan kereta api tahu akan ada pemogokan ; pencetusannya hanya memerlukan suatu alasan.

Pada awal Oktober itu hawa dingin dan langit redup, tepat pada hari pembayaran upah. Sejak lama tak ada kabar dari para akuntan ; kemudian datang seorang anak lelaki ke kantor, membawa daftar gaji dan setumpukan buku kerja yang tadinya ditahan untuk memperhitungkan upah. Kasirpun mulai membagi-bagikan bingkisan-bingkisan gajian. Dalam deretan yang tak putus-putusnya pra kondektur, tukang wesel, tukang kayu, tukang api dan buruh wanita dari depo bergerak melintasi tanah tanddus antara gedung-gedung kayu tempat pimpinan dan setasiun beserta segala bengkel, gudang, depo lokomotif serta jalan kereta api.

Hawa penuh bau musim dingin yang baru tiba di kota --daun-daun ahorn yang terinjak, salju leleh, jelaga panas dari mesin-mesin dan roti yang baru keluar dari tungku (dimasak dalam ruang kolong bipet di setasiun). Kereta api datang atau berangkat, dilangsir, digandeng atau dilepas menurut tanda-tanda bendera yang berkibar, tergulung atau terbuka. Suling mesin meraung, corong dan peluit tukang langsir dan kondukter menuter dan menjerit. Asap naik ke langit bagai tangga-tangga tak berujung, sedang mesin-mesin mendesis, memanasi mendung musim dinging dengan gumpalan-gumpalan uap mendidih.

Fuflygin, Kepala Bagian, dan Pavel Ferapotovic Antipov, Pengawas Jalan dari distrik staisun, berjalan hilir mudik di pinggir jalan kereta api. Antipov barusan memarahi bagian reparasi tentang kualitas alat-alta cadangan untuk memperbaiki sepur. Baja tak cukup lemas, rel-rel tak lulus ujian tekanan dan Antipov berpendapat bahwa rel itu akan pecah dalam, hawa salju. Pihak pimpinan tak mengacuhkan keluh kesahnya. Rupa-rupanya ada yang mencatut dengan kontrak-kontrak.

Fuflygin memakai jas bulu yang mahal, tak dikancing hingga memperlihatkan pakai sipilnya dair wol yang baru ; pada jas itu terjahit selajur kain dari uniform kereta api. Dengan hati-hati ia melangkah di atas tanggul, senang melihat garis-garis lapelnya, lipatan lurus di celananya dan sepatunya yang bagus potongannya. Ucapan Antipov masuk ke kuping sebelah dan keluar dari kuping lainnya. Fuflygin ada pikitrannya sendiri ; berkali-kali ia mengeluarkan dan melihat kepada arlojinya ; ia hendak buru-buru pergi.

"Betul, betul kawan," selanya tak sabar, "tapi itu hanya berbahaya di trayek utama atau di sepur terusan yang sangat ramai lalu lintasnya. Tapi lihatlah apa yang ada ; cuma sepur cabang dan sepur buntu, jelatang, dan "kembang kuda." Dan lalu lintasnya apa? paling-paling lok langsiran yang tua untuk mengocok deresi kosong. Apa lagi yang kau minta? Kau tak pakai otak! Baja lagi disebut-sebut! Rel kayu sudah cukup!"

Fuflygin melihat arlojinya, menutupkan tutupnya, lalu memandang jauh ke jalanan yang menuju ke sepur. Nampak sebuah kereta di tikungan jalan. Inilah saat kepergian Fuflygin. Istrinya datang menjemput. Sais menarik kuda-kudanya hampir sampai ke tepi jalan kereta api, sambil menegur-negur mereka dengan suara tinggi seperti suara perempuan, tak ubahnya dengan pengasuh anak yang memarahi anak-anak cengeng ; kuda-kuda itu takut pada kereta api. Di sudut kereta duduk seorang wanita manis, bersandaran ke bantal-bantal sambil melamun-lamun.

"Nah kawan baik, sampai ketemu lagi," ujar Kepala Bagian itu dngan melambaikan tangannya, seolah mengatakan ; "Patut kuperhatikan hal lain yang lebih penting dari rel."

Dan berangkatlah suami sitri itu.

Tiga empat jam kemudian, dekat waktu magrib, di padang yang agak jauh dari jalan kereta api yang sebelumnya tak didatangi seorangpun, muncullah dua sosok tubuh dari tanah, mereka menoleh, lalu berjalan kencang.

"Mari jalan lebih cepat," kata Tiverzin. "Bukannya aku kuatir disergap polisi, tapi bila kaum penakut dalam lobang di tanah itu selesai, mereka akan keluar dan meangkap kita. Aku mual melihat mereka --apa gunanya mendirikan panitia jika hasilnya begini-- Orang main api lantas mengendap untuk berlindung. Kaum macam apa --memihak ke sana?"

""Istriku Darya sakit tipus. Mesti kubawa ke rumah sakit. Sebelum itu aku tak bisa mengerjakan yang lain."
"Kabarnya hari ini hari gajian. Aku akan singgah ke kantor. Kalau tak ada pembayaran, kutinggalkan kamu sekalian, demi Tuhan, dan kuhabisi semuanya sesukaku sendiri; tak kutunggu satu menitpun."
"Bagaimana caramu, coba katakan!"
"Gampang. Turun ke kamar ketel, meniup suling, habis perkara."

Mereka berpamitan dan berjalan ke jurusan lain-lain. Tiverzin lewat jalan kereta ke arah kota. Ia berpapasan dengan orang-orang yang datang dari kantor dengan membawa upah. Mereka banyak sekali. Meoihat gelagatnya, ia perhitungkan bahwa semua buruh stasiun telah dibayar.

Hari mulai gelap, di kantor lampu-lampu menyala. Buruh-buruh yang nganggur menggerombol di pelataran di luar. Depan gapura pelataran berdiri kereta Fuflygin; di dalamnya duduk istrinya, masih dengan sikap yang sama, seakan tak bergerak sejak pagi. Ia menunggu suaminya yang sedang mengambil uangnya.

Hujan es mulai turun. Sais turun dari tempatnya untuk memasang kap dari kulit. Ketika ia menarik kayu-kayu topang yang tegar itu dengan kaki sebelah terentang pada punggung kereta, Fuflygin mengagumi manik-manik perak yang jatuh berbinar dalam cahaya lampu kantor; matanya yang merenung dan tak berkedip itu terpancang pada satu titik di atas kepala buruh-buruh tadi; agaknya pandangannya itu jika perlu menembusi mereka seolah mereka itu hanya salju atau kabut.

Tiverzin menangkap ungkapan wajahnya, dan iapun meringkuk. Ia lewat tanpa menyalam dan memutuskan akan mengambil upahnya lain hari saja, agar ia tak ketemu suaminya. Ia menyeberang ke bagian pelataran yang lebih gelap, ke arah bengkel dan sosok hitam putaran lokomotif dengan bekas-bekas jejak yang berleret-leret seperti kipas dari tempat itu sampai ke depo.
***

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar